Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 66


"Danu, kemarin itu pacar kamu ya?" tanya Chacha sambil tersenyum menggoda.


"Bukan-bukan nona bos. Gadis itu manajernya bos muda di perusahaan cabang."


"Masa sih? Kok dia nyarinya kamu bukan Bastian."


"Ngomong pacar aja malu kamu, Danu," kata Bastian yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan Chacha dan Danu.


"Beneran bukan kok bos muda. Saya saya Lula gak pacaran kok."


"Ngapain kamu jelaskan pada aku soal hubungan kamu sama Lula. Mau pacaran atau nggak, ya terserah sama kamu."


"Saya hanya menjelaskan apa yang sebenarnya bos muda. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman saja."


"Aku gak akan salah paham. Pacaran juga gak papa sih sebenarnya," kata Bastian bicara dengan nada kecil.


"Tapi saya beneran gak pacaran bos muda. Mau gimana dong?"


"Ya udah, pacaran aja kalian kalo gitu," kata Chacha.


"Betul. Istriku pintar banget," kata Bastian sambil mencium tangan Chacha.


"Ya Tuhan, pantesan jodoh," kata Danu sambil memalingkan pandangannya.


"Apa kamu bilang?" tanya Bastian dengan tatapan tajam.


"Gak ada bos muda. Saya cuma bilang, saya sama Lula gak mungkin cocok."


Pembicaraan itu harus terhenti karena mereka sudah sampai di depan rumah. Chacha membantu Bastian turun, karena Bastian sangat manja sekarang. Dia tidak ingin Danu yang membantunya, dia ingin Chacha yang selalu membantu dia apapun yang ia butuhkan.


Di sisi lain, Dimas sedang duduk sambil melihat ponselnya. Ia sibuk dengan sosial media yang selalu menemaninya. Membuat ia lupa akan kehidupan nyata yang selalu membawa ia pada masa lalu yang terasa sangat pahit untuk ia ingat.


Tanpa sengaja, ia melihat foto Bastian dengan Chacha yang sedang berpelukan. Tepatnya, itu berasal dari facebook milik Danu. Dimas membuka foto itu dengan layar penuh.


"Semoga kamu selalu bahagia, Cha. Aku selalu mendoakan mu dari jauh," kata Dimas sambil terus menatap foto tersebut.


Mayang yang lewat dari belakang Dimas, tertarik untuk melihat apa yang Dimas lihat. Mata Mayang melotot saat melihat orang yang ada dalam foto tersebut. Seakan tak percaya, ia kembali meyakinkan dirinya, kalau saat ini, dia sedang tidak berkhayal atau bermimpi telah melihat Bastian.


"Dimas. Kamu ngomong apa barusan?" tanya Mayang sambil mengambil posisi duduk di samping anaknya.


"Gak ada, Ma. Mama dari mana?" tanya Dimas agak kaget.


"Jangan bohong sama mama Dimas. Jangan tutupi apapun dari mama. Kamu suka gadis itu? Siapa dia?"


"Dia .... "


"Tunggu! Mama seperti pernah melihat wajah gadis yang ada di layar ponselmu. Tapi di mana ya?" tanya Mayang berusaha mengingat wajah yang ia rasa tidak asing lagi dalam ingatannya.


"Nah ... mama ingat sekarang. Dia itu pacar kamu kan? Anak yatim yang tidak punya masa depan itu. Yang tinggal bersama neneknya di rumah sederhana tak jauh dari pinggiran kota? Ngapain bisa sama Bastian?"


"Dia istri Bastian sekarang." Dimas menjawab dengan nada kecewa.


"Apa! Istri Bastian! Kamu yang benar saja kalo ngomong. Kapan nikahnya? Kok bisa jadi istri Bastian itu?"


"Ngapain mama kaget gitu? Biasa aja kenapa? Orang mereka udah nikah lama."


Tiba-tiba, ide jahat muncul dalam benak Mayang. Ia seperti punya semangat baru untuk merebut kembali apa yang sudah Bastian rebut darinya.


'Aku sepertinya punya cara ampuh buat merebut kembali apa yang Bastian ambil dariku. Sekalian, aku akan balas dendam pada Bastian dengan mengambil apa yang ia punya,' kata Mayang bicara dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


Dimas yang melihat mamanya senyum-senyum sendiri, tiba-tiba merinding. Ia berpikir buruk tentang mamanya. Dalam hati, ia juga merasa takut akan hal buruk terjadi pada sang mama.


"Mama. Mama gak papakan?" tanya Dimas sambil menepuk pelan bahu Mayang.


"Jelas gak papa sayang. Kamu gak lihat, mama baik-baik aja."


"Ngapain mama senyum-senyum sendiri barusan? Jangan bikin Dimas takut, Ma."


"Ngapain kamu takut? Mama senyum tandanya mama bahagia."


"Ya jangan senyum-senyum sendiri juga dong, Ma."


"Mmm ... kamu masih sayang ya Dim, sama gadis itu?" tanya mama tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


"Maksud mama?" Dimas dibuat bingung oleh pertanyaan Mayang.


"Nggak, maksud mama, kamu masih sayang ya sama pacar kamu yang anak yatim itu? Soalnya, mama bisa lihat dari mata kamu, kalo kamu benar-benar gak rela melihat dia bersama orang lain."


"Sayang atau tidak, itu tidak akan merubah kenyataan lagi, Ma. Dia sudah bukan gadis yang bisa aku kejar. Dia sudah menjadi milik orang lain. Dia sudah jadi istri orang tepatnya."


"Ih, kamu ini gimana sih Dim. Yang namanya cinta itu harus di perjuangkan. Gak penting dia itu sendiri atau sudah menjadi milik orang. Yang penting, perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Itu yang harus kita lakukan."


Mendengar Mayang berkata seperti itu, Dimas merasa aneh. Soalnya, waktu mereka pacaran dulu, mamanya sangat menentang hubungan mereka. Alasannya sudah jelas, karena Chacha bukan anak orang kaya. Dia hanya anak miskin yang di buang oleh papanya dan tinggal dengan nenek yang renta.


"Aku gak salah dengar ya Ma? Barusan mama ngomong kayak gitu padaku?"


"Ih kamu ini, kenapa memangnya kalo mama ngomong gitu? Sebagai seorang mama, wajar dong ngasi semangat buat anaknya."


"Kalo semangat itu datang dari mama, aku rasa gak wajar, Ma."


"Lho, kok gak wajar sih? Salahnya di mana coba?"


"Salahnya di mama. Kenapa mama baru sekarang ngomong seperti itu padaku? Kenapa gak dari dulu aja. Saat aku masih pacaran dengan Chacha dan sangat mengharapkan bisa menghalalkan dia menjadi istriku. Bukan sekarang, saat dia sudah menjadi milik orang lain."


"Ya itukan dulu. Saat itu, mama masih belum memahami perasaan kamu," kata Mayang sedikit tidak enak.


"Terlambat mama mengerti perasaan aku sekarang. Karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Coba saja mama merestui aku dulu. Pasti, Chacha sekarang sudah menjadi istriku, bukan istri Bastian."


"Jadi, kamu takut sama Bastian Dim? Iya?"


"Bukan takut, Ma. Tapi aku masih punya hati nurani juga harga diri. Tidak mungkin merebut apa yang menjadi milik orang lain. Apalagi, dia sudah sangat bahagia dengan orang yang dia pilih. Mana mungkin aku mau merusak kebahagiaannya dengan merebut dia dari orang itu. Terlalu egois aku jadi laki-laki kalo aku melakukan hal itu," kata Dimas sambil bangun dari duduknya.


"Lagipula, masih banyak gadis lain di luar sana yang belum jadi milik orang lain. Aku yakin, aku pasti akan menemukan yang cocok dengan aku. Yang jelas bukan Chacha," kata Dimas lagi sambil beranjak meninggalkan Mayang.


"Kamu tidak ingin merebut milik orang lain, tapi Bastian telah merebut milik kamu, Dimas. Jika kamu merebut miliknya, itu bukan kamu yang egois, tapi mengembalikan keegoisan Bastian kembali padanya," kata Mayang sambil tertunduk kesal.


Namun, perkataan Mayang sudah tidak dapat Dimas dengar lagi. Karena dia sudah pergi meninggalkan Mayang dengan mengunakan mobilnya.


'Tidak. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa membujuk Dimas untuk kembali mencintai mantannya. Dengan begitu, Dimas akan melakukan apapun untuk merebut wanita itu dari Bastian. Aku harus temukan cara itu,' kata Mayang bicara dalam hati pada dirinya sendiri.