Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 97


Bastian menghentikan tawanya. Ia mengajak Hendra duduk ke sofa untuk bicara secara halus apa maksud ke datangan mereka pagi ini.


"Aku ingin kamu cari tahu siapa dokter yang ada dalam rekaman cctv ini," kata Bastian sambil menyerahkan flash disk ke tangan Hendra.


"Untuk apa sih?" tanya Hendra merasa bingung.


"Kamu akan tahu nanti setelah kamu melihat isi dari flash disk tersebut. Kerjakan dengan baik apa yang aku minta. Jangan sampai salah sedikitpun."


"Kamu membuat aku bingung," kata Hendra tidak ingin banyak berdebat dengan Bastian.


"Sudah. Lakukan saja apa yang aku katakan. Aku harus pergi sekarang karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan," kata Bastian sambil bangun dari duduknya.


"Baiklah," kata Hendra sambil melihat flash disk tersebut.


Bastian menghentikan langkah kakinya yang hampir sampai ke pintu. Ia memutar tubuhnya untuk melihat Hendra kembali.


"Oh ya, aku lupa mengatakan sesuatu padamu."


"Apa?"


"Suster yang ada di depan pintu ruangan mu tadi kayaknya cocok sama kamu. Itu aja bawa pulang, dan perkenalkan pada mamamu sebagai pacar."


"Ada-ada aja kamu. Itu suster ku. Mana bisa akau bawa pulang untuk di kenalkan pada mama."


"Ganti aja statusnya, dari suster jadi pacar."


"Gila kamu. Udah, pergi sana. Jangan campuri urusanku," kata Hendra kesal.


"Aku sudah menyarankan ya Hend. Jangan salahkan aku tidak membantu teman.


"Aku tidak butuh bantuan kamu. Pergi sana."


Bastian pun meninggalkan ruangan Hendra dengan bahagia karena berhasil membuat Hendra semakin kesal. Sementara Hendra, ia tersenyum setelah kepergian Hendra.


"Kamu banyak berubah, Bas. Aku sampai merasakan kalau sekarang aku bertemu dengan Bastian yang baru. Tapi, Bastian yang sekarang lebih baik dari Bastian yang dulu. Lebih nyaman dan lebih bisa dibilang sebagai sahabat," kata Hendra sambil terus menatap pintu ruangannya.


"Aku rela kamu bahagia bersama Chacha jika kamu tetap bahagia seperti saat ini. Aku akan jadi orang pertama yang paling mendukung kalian bersatu untuk selamanya."


"Eh, ngomong-ngomong, apa sih isi flash disk ini." Hendra bangun untuk melihat isi dari flash disk yang Bastian berikan padanya.


Setelah dia membuka rekaman yang ada di dalam flash disk tersebut, Hendra baru paham apa yang Bastian maksudkan. Dia juga mengenal dengan baik siapa dokter yang ada di dalam rekaman cctv tersebut.


"Inikan dokter Fahri. Bisa-bisanya dokter Fahri menerima suap dari seseorang. Apa gaji sebagai dokter di rumah sakit ini kurang?" tanya Hendra pada dirinya sendiri.


Hendra pun bangun dari duduknya. Ia berniat untuk mengumpulkan semua dokter dan suster yang bekerja di rumah sakit ini. Ia tidak akan menuduh secara langsung. Tapi dia akan menjebak dokter tersebut untuk mengakui apa yang telah ia perbuat kan. Jika tidak mempan dengan jebakan, maka ia akan gunakan cara lain.


Saat Hendra keluar dari ruangannya, suster Mery memanggil Hendra dengan wajah bahagia. Ternyata, ia masih menunggu Hendra di depan pintu masuk ruangan itu sejak tadi.


"Dokter Hendra mau ke mana?" tanya Mery sambil tersenyum.


"Apa tugasmu sebagai suster di rumah sakit ini sudah bertambah?" tanya Hendra dengan kesal.


"Maksud dokter?" Mery bertanya balik karena ia tidak mengerti dengan apa yang Hendra tanyakan.


"Setahu aku, tugas kamu sebagai suster tidak pernah bertambah. Aku tidak pernah menambahkan tugas suster untuk mengawasi ke mana aku ingin pergi, bukan?"


"Yah, dokter ngomongnya kok gitu sih. Saya gak bermaksud untuk mengawasi dokter sama sekali. Saya hanya bertanya saja kok, Dok."


"Apa bedanya bertanya dengan mengawasi?"


"Ah, sudah. Aku tidak ingin mendengarkan apa yang kamu katakan. Sekarang, pergi kumpulkan semua dokter! Suruh mereka semua ke ruangan ku. Ada yang mau aku bicarakan dengan mereka semua," kata Hendra mengubah topik pembicaraan.


"Ada apa .... "


"Lakukan saja apa yang aku katakan. Jangan banyak tanya," kata Hendra memotong perkataan Mery dengan cepat.


"Baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan dokter Hendra sarapan. Ini," kata Mery sambil menyerahkan kotak makanan yang sedari tadi ia sembunyikan di belakangnya.


"Sarapan?" tanya Hendra bingung sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ya. Ini nasi goreng. Aku tidak bisa menjamin apa rasanya. Tapi, aku harap dokter suka."


Hendra menerima kotak makanan itu sambil melihat kotak makanan tersebut. Ingatannya kembali pada saat ia merawat nenek Chacha waktu itu. Di mana saat Chacha hampir setiap hari datang ke rumah sakit ini untuk melihat keadaan neneknya yang sedang koma.


Satu bulan setelah nenek Chacha dirawat di rumah sakit, ia mulai dekat dengan Chacha. Ketika pertama kalinya Chacha membawakan sarapan buat Hendra. Hendra mengingat saat itu dengan jelas.


"Ini," kata Chacha memberikan kotak makanan saat ia datang pagi itu.


"Apa ini?"


"Sarapan buat dokter."


"Sarapan buat aku?" tanya Hendra agak bingung.


"Ya. Ini sarapan nasi goreng yang aku buat sendiri. Nasi goreng, sambal teri dengan cabe hijau. Aku harap dokter suka. Ini sebagai tanda terima kasihku pada pak dokter karena sudah merawat nenekku dengan sangat baik."


"Dokter Hendra!" Suster Mery memanggil Hendra sambil menepuk pelan bahu Hendra.


"Ya." Hendra agak kaget namun dia berusaha supaya kagetnya tidak terlihat oleh Mery.


"Kok melamun sih? Mikirin apa?"


"Tidak ada. Aku tidak melamun."


"Apa kamu yang bikin sendiri nasi goreng ini?" tanya Hendra membuat Mery sedikit bingung.


"Iya. Ada apa ya, Dok? Apa dokter tidak mau terima kalau aku yang bikin sendiri? Aku kasih nasi goreng itu sebagai tanda terima kasih aku pada dokter. Karena dokter sudah mau terima aku bekerja di sini," kata Mery menjelaskan.


"Tidak. Tidak perlu berterima kasih padaku. Ya sudah, aku masuk dulu. Terima kasih buat nasi gorengnya," kata Hendra sambil beranjak.


"Ya sama-sama," kata Mery sambil tersenyum hangat.


"Huh, aku kira dia tidak akan menerima nasi goreng yang aku buat," kata Mery bicara pada dirinya sendiri.


"Aku kok jadi gini ya. Terlalu bersemangat dan merasakan sangat bahagia ketika dokter Hendra menerima apa yang aku berikan. Mery-Mery, sadar Mery. Baru dia mau terima nasi goreng dari kamu aja, kamu sudah mikir yang macam-macam," kata Mery sambil mengetuk dahinya sendiri.


"Wuah, aku lupa. Aku punya kerjaan lain."


Ia segera beranjak meninggalkan ruangan Hendra sambil terus tersenyum. Sementara itu, Hendra terus melihat kotak makanan yang ia letakkan di atas meja.


"Apakah isinya sama dengan yang Chacha berikan padaku?" tanya Hendra pada dirinya sendiri.


"Aku harap tidak," kata Hendra sambil membuka tutup kotak makan tersebut.


Benar saja, isinya tidak sama. Jika Chacha memberikan nasi goreng dengan sambal teri cabe hijau. Mery memberikan sarapan nasi goreng sambal tempe dengan cabe merah.


"Untung saja tidak sama," kata Hendra sambil menutup kembali kotak makanan tersebut.