Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 70


"Saya minta maaf, miss Linda. Saya mungkin salah mengenal orang. Bisakah kita mulai membicarakan soal pekerjaan kita?" tanya Bastian membuang sedikit harga diri di depan Linda akibat permintaan kedua karyawan yang mungkin ada benarnya juga.


"Miss Linda, ayolah. Jangan buang-buang waktu kita datang ke sini tanpa ada kerja sama yang terjalin. Kita datang dari jauh, saya mohon, jangan buat kedatangan kita sia-sia," kata asisten miss Linda.


"Baiklah kalo begitu, saya akan lupakan apa yang baru saja terjadi. Demi kedatangan kita supaya tidak sia-sia," ucap Miss Linda pada asistennya.


Mereka pun kembali duduk di kursi mereka masing-masing. Sebenarnya, Bastian sangat merasa berat hati untuk menjalankan kerja sama dengan miss Linda dan juga asistennya. Mengingat, wajah miss Linda benar-benar mirip dengan Sarah.


Jika bukan karena Lula dan Danu, ia pasti sudah membiarkan wakil perusahaan asing ini pergi tanpa bicara soal pekerjaan terlebih dahulu. Kurang satu perusahaan asing yang bekerja sama dengan Hutama Grup, tidak akan merugi perusahaan Hutama Grup juga. Karena Hutama Grup, tidak kekurangan perusahaan asing yang bekerja sama dengan mereka di luar sana.


Tiga puluh menit lamanya, mereka membicarakan soal kerja sama, lengkap dengan keuntungan yang didapat oleh masing-masing perusahaan, pertemuan itupun berakhir. Kedua wakil dari perusahaan asing pergi meninggalkan cafe itu duluan, setelah itu, Lula menyusul. Sedangkan Bastian juga Danu, masih duduk di kursi mereka.


"Danu. Apa kamu tidak merasa kalo Linda itu benar-benar mirip Sarah, mama tiri Chacha?" tanya Bastian sambil memutar gelas kopinya.


"Sepertinya tidak bos muda. Ya sih wajahnya memang mirip, tapi sifatnya saya rasa jauh berbeda. Lagipula, Sarah sekarang sedang berada di rumah sakit jiwa."


"Danu, aku minta kamu cari tahu soal Sarah. Apakah masih ada di rumah sakit jiwa atau tidak."


"Baik bos muda. Saya akan cari tahu secepatnya."


"Satu lagi, cari tahu juga asal usul Linda. Saya ingin tahu semua tentang dia. Dan juga perusahaan yang ia wakili."


"Baik bos muda. Jangan khawatir, secepatnya saya akan bawa semua informasi yang bos muda inginkan."


_____


Mobil berhenti di depan rumah. Jam tujuh malam, Bastian baru sampai ke rumah. Karena jalanan yang macet, membuat mereka pulang terlambat.


Mendengar mobil datang, Chacha yang sedang menunggu Bastian di meja makan, segera bangun untuk menyambut suaminya. Sedangkan Bastian, ia juga sudah tak sabar lagi untuk masuk ke dalam. Sampai-sampai melupakan kursi rodanya.


"Bos muda tunggu!" Danu menghentikan Bastian yang berjalan cepat meninggalkannya.


"Ada apa lagi Danu?" tanya Bastian kesal.


"Kursi rodanya."


Belum juga Bastian menjawab apa yang Danu katakan, Cahcha sudah duluan membuka pintu rumah. Ia sudah melihat Bastian yang berdiri tegak tanpa menggunakan kursi rodanya lagi.


"Bastian." Chacha memasang wajah marah pada Bastian.


"He." Bastian hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepalnya yang tidak gatal.


"Aku buru-buru mau masuk rumah soalnya. Jadi lupa buat pakai kursi roda. Sayang, suamimu ini sudah sembuh, jangan cemas, ya," kata Bastian membujuk Chacha.


"Bas, kamu lupa kalau kakimu belum bisa kamu gunakan terlalu sering. Jangan keras kepala dong."


"Saya sudah mengingatkan pada bos muda nona bos, tapi ... ya begitulah," ucap Danu sambil mendorong kursi roda mendekati Chacha dan Bastian.


"Diam kamu Danu. Jangan coba-coba mencari muka di depan istriku."


"Bastian." Chacha memanggil dengan tatapan mata tajam.


"Iya, cuma bercanda," kata Bastian sambil duduk di kursi roda kembali.


"Padahal kan aku sudah sembuh."


"Belum. Ingat kata Hendra, sebelum dua minggu tidak boleh jalan dengan kaki terlalu sering."


Chacha dan Bastian terus saja ngobrol dan bercanda mesra. Danu terdiam sambil melihat perubahan bos mudanya. Perubahan yang sangat nyata. Jauh berbeda dari sebelumnya. Bastian yang agak dingin, cuek juga tidak suka banyak bicara, sekarang menjadi hangat dan terlalu banyak bicara.


Ia juga sangat penurut dengan Chacha. Benar kata pepatah, cinta mengubah segalanya. Mengubah musuh jadi kekasih, juga sebaliknya.


Ibarat kata dalam permainan catur, sang ratu adalah penguasa. Ia bisa berjalan ke mana saja yang ia inginkan. Sedangkan raja, hanya bisa berjalan selangkah demi selangkah. Begitulah suami dan istri dalam rumah tangga. Suami pasti akan tunduk di hadapan istri. Tidak semua sih, hanya kebanyakan saja.


"Mas Danu. Sampai kapan kamu mau berdiri di sana?" tanya bik Maryam membuyarkan lamunan Danu tentang rumah tangga Chacha juga Bastian.


"Bik Mar. Ngagetin aja."


"Habisnya, mas Danu diam aja di sana kayak patung. Emangnya apa sih yang dilamunkan, hah? Si manis waktu itu?" tanya bik Maryam dengan nada menggoda.


"Apaan sih bibi. Si manis siapa? Mana ada si manis," kata Danu sambil beranjak dari tempatnya.


"Cie ... gak mau ngaku nih ye ... itu yang waktu di rumah sakit."


"Itu mah manajernya bos muda. Bukan si manis si manis bik."


"Yakin nih, bukan si manis si manisnya mas Danu."


Bik Maryam hanya bisa tersenyum melihat ekspresi wajah Danu barusan. Bik Maryam yang sudah lebih dulu lahir ke dunia, tentu sudah banyak makan asam garam di dunia ini. Ia tau betul kalau saat ini, Danu sedang menyimpan rasa pada gadis yang ia bilang adalah manajer bos muda mereka.


Setelah makan malam, mereka segera mengambil urusan masing-masing. Danu yang merasa kelelahan, segera naik menuju kamarnya. Pak Danang juga melakukan hal yang sama. Chacha dan bik Maryam sedang membereskan sisa makan malam mereka. Sedangkan Bastian, ia menuju ruang keluarga untuk menunggu Chacha di sana.


Ketika ia ingin berdiri dari kursi roda, Bastian tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa dari kedua kakinya. Rasa sakit yang seperti di tusuk-tusuk benda tajam menjalar dari kedua kaki Bastian. Ia pun mengeluh kesakitan.


"Aduh. Agh .... "


Mendengar Bastian yang mengeluh kesakitan, Chacha yang berada di dapur berlari ke ruang keluarga. Ia begitu kaget saat melihat Bastian terduduk di atas lantai dengan bercucuran keringat.


"Ada apa Bastian? Apa yang terjadi?" tanya Chacha sangat panik.


"Agh. Cha, pan--ggil Hendra. Aku sudah tidak kuat lagi," kata Bastian dengan terbata-bata.


"Bertahanlah Bastian. Aku akan meminta Hendra datang secepatnya.


Sementara itu, Hendra sedang duduk di depan televisi di rumahnya. Sambil mengutak-atik remote televisi, ia memikirkan Chacha.


"Sedang apa dia sekarang?" tanya Hendra pada dirinya sendiri.


"Aduh ... ngapain mikirin dia sih? Sudah pasti dia sedang bersama suaminya di rumah. Ngapain aku malah mikirin dia?"


"Kamu ngomong sama siapa, Hen?" tanya mama bingung.


"Mama lihat gak ada siapa-siapa dari tadi. Terus, yang kamu pegang juga bukan ponsel. Itu lagi, televisi chanelnya di ubah-ubah melulu. Kamu nonton gak sih?" tanya mama lagi.


"Nonton kok, Ma. Siarannya gak ada yang bagus. Makanya aku ubah terus."


"Lalu? Barusan ngomong sama siapa?"


"Itu ... sama ... televisi." Hendra tersenyum tidak enak karena tidak punya jawaban atas apa yang mama tanyakan.


"Ada-ada saja kamu, Hen. Nih, ponsel yang kamu tinggalkan di atas meja makan, dari tadi berbunyi melulu. Mama gak enak mau jawab. Mana tahu itu panggilan dari pacar kamu, nanti salah paham lagi sama mama," kata mama sambil menyerahkan ponsel pada Hendra.


"Mama bisa aja. Hendra kan gak punya pacar, Mah."


Hendra melihat ponselnya. Dia kaget saat melihat siapa nama yang telah melakukan panggilan berulang kali ke nomor itu.


"Chacha!"


"Tuh kan, udah mama tebak. Itu pasti gadis terpenting dalam hidup kamu," kata mama saat melihat ekspresi kaget dari wajah Hendra.


"Bukan kok, Ma. Dia istri Bastian," kata Hendra sambil memanggil balik Chacha.


Belum sempat mama menjawab apa yang Hendra katakan, Chacha sudah menjawab panggilan Hendra.


"Hendra, Bastian kesakitan sekarang. Tolong datang ke rumah secepatnya."


Kepanikan terdengar sangat jelas dari suara Chacha. Sampai-sampai, ia bicara tidak beraturan lagi. Hendra melemah, namun ia tetap berusaha kuat.


"Baiklah. Aku segera ke sana."


"Cepat Hendra, aku tunggu!"


"Iya. Sabar sebentar. Aku usaha datang secepat mungkin."


"Iya." Berbarengan kata itu, panggilan pun terputus. Hendra menatap ponsel itu dengan tatapan sedih untuk sesaat.


"Ada apa Hend?"


Pertanyaan itu menyadarkan Hendra kalau Bastian sangat membutuhkannya sekarang. Ia segera bangun dati duduknya.


"Bastian sakit, Ma. Aku diminta segera ke rumahnya."


"Sakit? Sakit apa dia? Bukannya dia sudah melakukan operasi pada kakinya?"


"Iya. Pasti. dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Mama kan tahu bagaimana sifat Bastian. Dia terlalu keras kepala," kata Hendra sambil menyiapkan obat-obat yang perlu ia bawa.


"Aku pergi dulu, Ma."


"Hati-hati ya Nak. Salam buat Bastian, semoga cepat sembuh."


"Iya, Ma."