Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 128


"Apa! Mama memberikan obat perangsang pada Chacha?" tanya Herman kaget.


"He eh." Merlin bicara sambil menganggukkan kepalanya.


"Mama gak mikir dulu sebelum bertindak, Ma? Bagaimana jika apa yang mama lakukan itu akan merusak manisnya bulan madu yang Bastian dan Chacha impikan. Mama ini gimana sih?" Herman kesal dengan apa yang Merlin lakukan.


"Lho, kok papa malah marah-marah sama mama sih? Niat mama itukan baik, Pa. Mama ingin bantu mereka biar gak merasa canggung lagi. Papakan tahu sendiri bagaimana mereka berdua. Sama-sama kuat menahan rasa. Mereka selalu mengutamakan malu mereka."


"Tapi, Ma .... "


"Sudahlah. Mama gak mau bicara sama papa. Mama kesal sama papa. Papa tidak menghargai niat baik mama," ucap Merlin sambil bangun dari duduknya. Lalu meninggalkan Herman sendirian dengan rasa bersalah.


"Ma."


Walaupun Herman panggil-panggil, Merlin tetap tidak menoleh. Ia terus melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang keluarga tersebut.


"Yah, ngambek deh." Herman berucap sambil bangun dari duduknya. Lalu meninggalkan ruangan tersebut untuk menyusul Merlin.


Di sisi lain, Chacha terus saja memaksa Bastian untuk melakukan sesuatu padanya. Namun, Bastian tetap bertahan, karena ia tahu, saat ini, Chacha sedang berada dalam pengaruh obat. Tidak murni niat dari dalam hatinya.


"Cha, sadar sayang. Kamu sekarang sedang ...."


"Sssttt." Chacha meletakkan jarinya ke bibir Bastian.


"Jangan banyak bicara Mas tampan. Segera lakukan sesuatu padaku sekarang," kata Chacha dengan suara manja.


"Cha, aku .... "


Chacha menarik Bastian semakin mendekat. Kini bukan jari lagi yang menutupi bibir Bastian, melainkan, bibir Chacha. Bastian yang awalnya merasa tidak nyaman, pada akhirnya menikmati juga apa yang Chacha lakukan.


Chacha yang sangat pemalu, kini berubah menjadi sangat agresif dan juga benar-benar liar. Ia terus memaksa Bastian melakukan sesuatu padanya. Sesuatu yang tidak bisa Bastian tolak walau hatinya mengatakan, kalau ini bukan saat yang tepat untuk melakukan hal itu.


Bastian melakukan apa yang seharusnya ia lakukan pada Chacha sejak dulu. Karena mereka menikah sudah sangat lama. Jika di hitung-hitung, mungkin sudah ada seorang bayi yang menjadi penyejuk dalam rumah tangga mereka.


Sementara bibir mereka saling berpautan, tangan Bastian sangat lihai melepaskan baju kemeja Chacha yang sebenarnya sudah terbuka sejak tadi. Saat kemeja itu terlepas, dua gunung kembar yang tidak pernah Bastian lihat sebelumnya, terpampang jelas. Has*rat dalam hati semakin menjadi-jadi setelah Bastian melihat dua gunung kembar milik Chacha.


Bastian segera melahap gunung itu dengan beringas. Terdengar des*ahan dari bibir Chacha. Des*ahan yang semakin membuat has*rat Bastian menjadi sangat liar sampai tidak bisa ia kendalikan lagi.


Dengan cepat, Bastian melepaskan semua pakaiannya sampai tidak tersisa sehelai benang pun. Lalu, ia membuka rok panjang yang sedari tadi masih melekat di tubuh Chacha.


Bastian benar-benar terpesona dengan keindahan tubuh putih dan mulus setelah tidak memakai sehelai benang pun. Chacha menggeliat ketika Bastian menyentuh pahanya dengan lembut. Sentuhan demi sentuhan ia berikan, hingga sampai pada pintu goa yang tidak ada penghuninya. Jari itu nakal bermain-main di sana.


Jari Bastian yang bermain di pintu goa dengan nakal menciptakan sebuah des*ahan nakal dari pemiliknya. Membuat Bastian tidak sabar lagi untuk mengubah sang jari dengan si pemain yang sesungguhnya. Namun, ia teringat untuk meninggalkan cap kepemilikan di kedua paha Chacha.


Bastian mencium paha Chacha dengan beringas sehingga menimbulkan warna kebiru-biruan di beberapa tempat. Ia juga meninggalkan cap kepemilikan di leher Chacha. Chacha semakin tidak sabaran setelah mendapatkan beberapa pemanasan dari Bastian. Ia memaksa Bastian untuk segera melakukannya.


Dengan penuh semangat, Bastian menusukkan keris tumpul miliknya ke pintu goa tanpa penghuni milik Chacha. ******* keras terdengar memenuhi kamar hotel tersebut. Namun, sayangnya, Bastian masih belum berhasil. Pintu goa itu terlalu sempit untuk ia lewati. Sehingga memaksa Bastian mengulangi apa yang ia lakukan beberapa kali lagi.


"Ahhh ... sakit." Desa*han nakal berbarengan dengan berhasilnya Bastian melakukan pencoblosan di pintu goa tak berpenghuni tersebut.


Bastian mengulangi berkali-kali keluar masuk pintu goa tak berpenghuni tersebut. Sehingga mereka berdua merasakan sebuah kepuasan bersama-sama.


Saat tengah malam, Bastian tersadar. Ia kembali melakukan ritual itu untuk yang kedua kalinya. Ia yang merasakan kenikmatan, kini mencoba mengulangi lagi. Chacha yang masih terlelap merasa lelah, namun ia tidak bisa menolak apa yang Bastian lakukan. Karena tubuhnya memang menginginkan hal indah itu terulang kembali.


_____


Chacha tersentak saat sinar matahari menyentuh jendela kamar hotel. Ia membuka matanya dengan sangat malas. Tubuhnya terasa sakit-sakit akibat kejadian tadi malam.


Ia melihat sekeliling, Chacha merasakan kamar itu bukan kamar mereka. Itu adalah tempat asing. Ia baru ingat kalau sebenarnya mereka sedang berada di hotel dalam rangka bulan madu.


Chacha melihat ke sampingnya, di sana, ia melihat Bastian yang sedang tertidur nyenyak dengan wajah menghadap padanya, juga tangan yang masih memeluk Chacha.


Ingatan Chacha kembali pada apa yang terjadi tadi malam. Ia memegang kepalanya, lalu mengetuk pelan dahinya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap ganasnya tadi malam. Ia malu jika ingat apa yang ia lakukan pada Bastian tadi malam.


"Duh, gila. Apa yang aku pikirkan sih tadi malam? Kenapa aku bisa bertingkah seperti itu? Aduh." Chacha mengeluh sambil mengigit selimut.


"Udah bangun, sayang?" tanya Bastian yang baru saja membuka mata.


"Ma--mas." Chacha langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, hingga wajahnya juga tidak kelihatan.


"Hei! Ada apa? Kenapa kamu malah menarik selimutmu sampai ke sini?" tanya Bastian sambil berusaha membuka selimut itu.


"Mas, jangan. Aku sedang kedinginan."


Bastian tersenyum dengan alasan yang Chacha ucapkan. Ia tahu betul siapa Chacha. Pasti saat ini, wajahnya sedang memerah menahan malu akibat ulahnya tadi malam.


"Kamu kedinginan? Mau aku bantu hangatkan, nggak?" tanya Bastian sambil tersenyum dengan nada menggoda.


"Tidak!" Chacha membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Mak--maksud aku, tidak usah, Mas. Aku tidak dingin lagi," ucap Chacha sambil berusaha tersenyum.


"Kamu yakin?" tanya Bastian sambil terus mendekati wajahnya ke wajah Chacha.


Chacha tidak bisa menjawab apa yang Bastian katakan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang biasanya. Wajah Chacha semakin terlihat merah merona.


"Ma--mas." Chacha memanggil Bastian dengan nada gugup.


"Apa kamu tidak ingat apa yang kita lakukan tadi malam? Bagaimana jika kita mengulangi apa yang kita lakukan tadi malam pagi ini?"


Chacha masih tidak bisa menjawab apa yang Bastian tanyakan. Hanya matanya yang bulat, semakin membulat menatap Bastian yang tersenyum melihat nya.


____________________________________


*Catatan:


Maaf jika ada kata yang tidak cocok. Aku hanya bisa menghadirkan malam pertama yang seperti ini untuk semuanya. Aku harap kalian tidak kecewa, karena udah nunggu lama, tapi tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Harap maklum, bikin bab ini rasanya sulit banget buat aku. Udah kayak bikin dosa berjamaah aja aku, huhuhuhuhu ....


syedih. Dan, aku mau up kan bab ini sampai lima kali di tolak. Ya ampun ....


Aku udah bolak balik ini. Aduh ... tolonglah.