
Ponsel Bastian berdering, membuyarkan semua pikiran yang ada di sana. Bastian mengeluarkan ponsel itu segera, untuk melihat, siapakah yang telah menghubungi dia barusan.
"Chacha." Bastian berucap sambil melihat mama Merlin.
"Jangan diangkat. Diamkan saja," kata mama Merlin.
Perkataan itu membuat Bastian kesal, juga membuat Lisa bahagia. Bastian tidak pernah berpikir kalau mamanya akan mengatakan hal itu. Ia pikir, mama telah mengetepikan Chacha sekarang, setelah ada Lisa di sini. Sedangkan Lisa, dia juga berpikir hal yang sama, seperti yang Bastian pikirkan saat ini.
"Mama." Bastian melihat mama dengan tatapan tajam.
"Apa?" tanya mama bingung.
Lisa tersenyum kecil melihat Bastian dan Merlin yang sepertinya sedang berbeda pendapat. Hatinya terlalu girang karena ia pikir, Merlin sekarang sedang berada di pihaknya.
'Bisa aku manfaatkan ini, mamanya si Bastian. Ternyata, dia sangat sayang dengan Mona,' ucap Lisa dalam hati.
"Kamu kok melototin mama sih, Bas? Ada apa memangnya?" tanya Merlin yang tidak suka dengan tatapan Bastian itu.
"Apa maksud mama ngomong gitu sama aku barusan?"
"Ngomong apa?"
"Mama melarang aku mengangkat panggilan dari Chacha?"
"Ya Tuhan, mama itu gak punya maksud apa-apa. Mama cuma gak ingin Chacha tahu apa yang sedang terjadi di sini. Mama gak mau menantu mama sakit hati, Bastian."
"Oh ... aku pikir apa tadi," ucap Bastian dengan rasa lega.
"Memangnya, kamu pikir apa tentang mama?"
"Tidak ada," kata Bastian sambil nyengir kuda.
Lisa yang baru saja bahagia, kini merasa kesal yang apa yang baru saja ia dengar. Tenyata, dia telah salah menebak. Merlin bukan sayang sama Mona, tapi sayang sama menantunya. Ia saat ini sedang berusaha menjaga hati menantunya agar tidak terluka.
'Gak papa kamu berusaha menjaga hati menantu kamu sekarang. Tapi, cepat atau lambat, aku pastikan padamu, kamu akan membenci menantu mu nanti. Aku pastikan kamu akan sangat membencinya. Benci, sebenci-bencinya,' kata Lisa berucap dalam hati dengan kesal.
"Ya sudah, aku mau kembali ke rumah sekarang. Chacha pasti sudah khawatir sama aku. Dia pasti sedang menantikan kepulangan ku saat ini," kata Bastian sambil beranjak dari tempatnya.
"Eh, gak bisa gitu dong, Bas. Kamu gak boleh limpahkan semua masalah kamu pada mama. Selesaikan dulu ini masalah kamu. Masa terbengkalai seperti ini."
"Ma, aku gak mungkin memenuhi apa yang tertulis dalam surat wasiat itu. Karena aku gak mungkin menyakiti Chacha. Dan, dia juga gak mau melakukannya," kata Bastian sambil mengarah telunjuknya pada Lisa.
"Sekarang bagaimana dong?" tanya mama semakin bingung.
"Gampang. Suruh aja Lisa kembali ke rumahnya. Ngomong sama mama mereka kalo aku minta maaf tidak bisa melakukan apa yang Mona wasiatkan."
"Apa! Tidak bisa gitu dong. Kamu pikir wasiat ini buat main-main?" Lisa berucap kesal.
Mama dan Bastian saling pandang. Di sini, mereka seperti sedang merasa berhadapan dengan Keke. Jika kesal, main ngomong dengan nada tinggi saja. Tidak seperti Mona. Sekesal apapun dia, tidak pernah menaikkan nada bicara. Tetap berbicara dengan suara rendah dan tidak pernah melupakan ciri khas manjanya.
'Aduh, mati aku. Kenapa bisa aku ngomong seperti itu sih? Mona tidak pernah ngomong dengan nada tinggi. Ternyata, dua hari gak cukup buat aku belajar menjadi Mona. Aduh, bego-bego,' kata Lisa dalam hati sambil mengutuk dirinya sendiri.
"Kenapa? Bukannya kamu juga gak mau menikah dengan aku? Harusnya, kamu senang kalo aku minta kamu kembali ke rumahmu. Dengan begitu, kamu dan aku tidak akan terlibat dalam wasiat ini."
"Kalo gitu, gini aja. Mama punya satu cara buat nyelesain masalah kita ini."
"Apa, Ma?"
"Biarkan Lisa tinggal di sini untuk beberapa saat. Setidaknya, sampai kita punya cara yang tepat untuk dia bicara dengan mama mereka, kalau kalian tidak bisa melakukan wasiat ini."
"Tapi tante, Lisa gak yakin kalau ini rencana yang baik."
"Aku juga tidak setuju, Ma. Dia tidak bisa tinggal dengan keluarga kita terlalu lama. Dia bukan bagian dari keluarga kita. Apa kata orang-orang nantinya."
"Dia tidak akan tinggal dengan kita di sini. Tapi .... " Merlin menggantungkan kalimatnya, menciptakan rasa penasaran dalam hati Bastian dan Lisa.
"Tapi apa, Ma? Jangan bicara setengah-setengah dong."
"Lisa akan tinggal di apartemen kamu."
"Ah, gak. Aku tidak setuju. Sebaiknya, biarkan saja dia pulang ke rumahnya. Untuk apa dia tinggal di tempat kita?"
"Bastian, apa kamu ingin melihat mamanya bunuh diri? Kesalahan apa lagi yang akan kamu buat nanti. Tolong pikirkan apa yang akan terjadi kedepannya."
"Ya sudah, terserah mama saja. Aku tidak ingin ikut campur lagi. Mana yang tebaik bagi mama, aku ikut saja. Tapi, jangan letakkan dia di apartemen aku. Biarkan dia tinggal di apartemen mama saja."
"Ya sudah. Dia akan mama letakkan di apartemen mama."
"Sekarang bagaimana dengan kamu, Lisa? Apa kamu setuju atau tidak dengan apa yang telah kami sepakati?" tanya mama pada Lisa yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan Bastian dan Merlin.
"Terserah padamu. Jika kamu tidak setuju, itu lebih baik. Kamu bisa pulang ke rumahmu sekarang juga," kata Bastian tidak tahan lagi.
Meskipun dia adik kembar Mona, tapi Bastian merasa kesal pada gadis itu. Dia memang mencintai Mona, tapi dia tidak ingin salah lagi. Karena kesalahan waktu itu mengajari Bastian akan satu hal. Di dunia ini, yang pergi biarlah pergi. Jangan sesali yang sudah pergi itu. Tapi, yang ada sekarang, jangan biarkan dia pergi. Tetap pertahankan sekuat tenaga agar dia tidak akan pernah pergi. Kecuali takdir yang menginginkan dia pergi.
Lisa berpikir keras tentang tawaran itu. Jika dia menolaknya, maka dia akan kehilangan semua kesempatan. Karena apa yang telah ia lihat, sangat jauh dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.
'Mungkin sebaiknya aku terima saja apa yang mereka tawarkan. Dengan begitu, aku masih punya kesempatan untuk mendekati Bastian. Ya, meskipun kesempatan itu tidak sebesar yang aku bayangkan sebelumnya. Tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali,' kata Lisa dalam hati.
"Ba--baiklah tante. Demi mama, aku akan ikuti rencana yang kalian buat. Karena cuma mama yang aku punya sekarang," kata Lisa mengiba.
"Ya sudah kalo gitu. Nanti sopir akan mengantarkan kamu ke apartemen keluarga Hutama."
"Sopir?" tanya Lisa tak percaya.
"Ya, sopir. Kenapa? Ada yang salah?" tanya mama.
"Mengapa bukan Bastian saja yang mengantarkan aku?"
"Aku tidak punya waktu. Aku harus segera pulang ke rumah," ucap Bastian kesal.
"Kalo gitu, sekalian saja. Kamu pulang, sekalian antarkan aku ke apartemen itu," ucap Lisa dengan sangat manja.
"Tidak bisa. Aku tidak ada waktu untuk mengurusi kamu." Bastian berucap sambil beranjak meninggalkan ruangan tersebut.