Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 83


Saat makan malam berlangsung, Lisa yang duduk di samping Chacha, sengaja menumpahkan minuman ke baju Chacha.


"Auh." Chacha mengeluh karena air yang tumpah membasahi dress-nya.


"Aduh, maaf-maaf kak Chacha, Lisa gak sengaja," kata Lisa dengan wajah sok polos.


"Kamu kenapa sih Lisa? Kok bisa ceroboh gitu pegang gelasnya," kata mama Merlin menatap Lisa dengan kesal.


"Maaf tante, Lisa gak sengaja. Maaf kak Chacha," kata Lisa dengan wajah sedih.


"Gak papa gak papa. Aku akan ganti baju dulu. Untungnya, aku kemarin ninggalin baju aku di sini, jadi bisa aku ganti segera baju ini," kata Chacha sebisa mungkin memperlihatkan wajah manisnya.


"Beneran gak papa kak Chacha?"


"Gak papa kok dede. Tenang aja, kakak ini bukan anak kecil yang tidak punya pikiran. Ketumpahan air aja gak masalah buat kaka. Sebaliknya, kamu gak papa kan?" tanya Chacha dengan wajah sedikit cemas.


"Maksud kak Chacha?" tanya Lisa bingung.


Niatnya ingin membuat Chacha kesal. Tapi sepertinya, rencana kali ini harus gagal lagi. Buktinya, bukannya kesal, Chacha malahan bersikap terlalu manis di depan semuanya.


"Kamu itu lho, pegang gelas gak hati-hati, apa kamu sedang ada masalah? Adik kecil seharusnya tidak boleh terlalu memikirkan hal-hal berat seperti orang dewasa. Nanti, bisa bermasalah sama kesehatan," kata Chacha sambil tersenyum menepuk pelan bahu Lisa.


"Apa! Adik kecil? Maksud kamu apa?" tanya Lisa dengan nada tinggi.


"Lisa. Kamu .... " Papa kelihatannya tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar barusan. Lisa yang lembut, polos, kekanak-kanankan juga manja, kini berkata dengan nada tinggi menakutkan.


"Om ... Lisa sakit hati di bilang anak kecil sama kaka Chacha. Maaf, Lisa gak bisa mengontrol diri Lisa saat Lisa marah. Karena sejak kecil, Lisa tinggal sama nenek. Mona yang tinggal sama mama. Lisa di besarkan oleh nenek dengan didikan yang keras. Sampai-sampai, Lisa tidak bisa menahan emosi jika sedang marah. Itu semua pengaruh dari didikan nenek yang terlalu keras," kata Lisa mencari-cari alasan. Apa saja yang terlintas di benaknya, ia ucapkan. Tidak perduli masuk akal atau tidak yang penting, ia membuat alasan.


"Oh, benarkah? Kasihan sekali kamu anak malang," kata Bastian sambil terus makan.


"Ya sudah. Aku ganti baju dulu," kata Chacha sambil beranjak dari tempatnya. Ia tidak ingin terlalu lama menanggapi sandiwara Lisa yang menurutnya terlalu lebai.


"Kamu udah makan sayang? Apa tidak sebaiknya, kamu selesaikan dulu makan malam kita?" kata Bastian.


"Udah Bas. Aku gak nyaman dengan baju ini. Meskipun tidak terlalu basah, tapi rasanya bikin aku merasa tidak nyaman. Aku ganti baju dulu ya. Ma, Pa, maaf, aku permisi duluan."


"Ya udah kalo gitu, aku ikut kamu ke kamar," kata Bastian sambil menyelesaikan makan malamnya.


"Lho, kok kamu jadi ikut-ikutan selesai sih Bastian," kata Lisa dengan nada manja. Tapi sebenarnya, dia sungguh sangat kesal sekarang.


"Aku udah kenyang. Ma, Pa, kami permisi dulu," ucap Bastian ikut beranjak meninggalkan meja makan.


"Kalo gitu, mama juga udah siap makannya. Papa masih mau lanjut atau selesai?" tanya mama yang langsung berdiri dari duduknya.


"Papa ... papa masih lapar, Ma."


"Om, ini semua karena kak Chacha yang tidak sopan. Ia meninggalkan meja makan saat kita semua belum selesai makan. Dalam keluarga Lisa, tidak di benarkan meninggalkan meja makan jika orang tua belum selesai makan. Itu namanya, kurang ajar."


Lisa berusaha mengotori pikiran papa dengan menjelek-jelek kan Chacha di hadapan papa. Sama seperti yang ia lakukan tadi senja, meracuni pikiran papa dengan kata-kata yang menimbulkan rasa was-was dalam hati papa.


"Sudah. Lanjutkan lagi makan kamu. Saya juga mau pergi," kata papa sambil bangun dari duduknya.


"Lho, kok om juga ikutan pergi sih?" tanya Lisa bingung sekaligus kesal.


"Saya sudah kenyang."


Papa pun meninggalkan Lisa sendirian di meja makan. Tidak ada yang bisa Lisa lakukan selain menahan rasa geram juga sakit hati pada apa yang keluarga Hutama lakukan padanya.


'Kalian benar-benar ingin berperang dengan aku? Baiklah, kalian lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan. Aku akan pastikan kalian menyesal karena telah berurusan dengan aku,' kata Lisa dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.


Tidak ada yang di bicarakan setelah makan malam selesai. Mereka semua diam di kamar masing-masing. Lisa yang awalnya sangat berharap Bastian keluar dari kamar, harus menerima rasa kecewa karena Bastian tidak keluar sama sekali. Begitu juga papa dan mama. Mereka juga diam di kamar tanpa berniat untuk keluar.


"Kurang ajar. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di kamar masing-masing. Jangan bilang mereka melakukan hal-hal yang ... sial, mereka benar-benar mengabaikan aku," kata Lisa sambil berjalan meninggalkan ruang keluarga.


Dia masuk ke kamar tamu. Tempat di mana dia malam ini akan tidur. Namun, saat sampai di dalam kamar, pikiran jahatnya tiba-tiba saja muncul.


"Kalian mengabaikan aku, aku tidak akan membiarkan kalian tenang di kamar kalian masing-masing," kata Lisa sambil tersenyum licik.


Ia keluar dari kamar itu, lalu turun menuju kamar pekerja. Tepatnya, ia sedang mencari seorang pelayan yang sudah menjadi kaki tangannya untuk memata-matai keluarga Hutama yang tinggal di mansion ini.


Lisa mengetuk kamar pelayan itu dengan ketukan sedikit pelan. Pelayan itu mengerti arti dari ketukan yang Lisa buat. Ia segera membuka pintu kamar untuk memastikan siapa yang ada di depan pintu.


"Nona Lisa. Ada apa?"


"Aku butuh bantuan mu malam ini."


"Bantuan ku? Bantuan apa?"


"Sini aku bisikkan," kata Lisa sambil mendekat ke arah pelayan itu.


"Apa? Tidak mungkin nona Lisa. Mansion ini setiap sudutnya terdapat Cctv. Aku bisa mati di tangan bos besar atau bos muda jika melakukan hal itu," kata pelayan itu ketakutan.


"Bodoh. Kamu bisa merusak listriknya terlebih dahulu, dengan begitu, Cctv-nya otomatis akan ikut mati. Itulah waktumu melakukan apa yang aku minta."


"Tapi nona Lisa, ini adalah pekerjaan yang paling berbahaya. Lagipula, di mana aku bisa mendapatkan binatang itu? Inikan sudah malam."


"Aduh, aku tidak menyangka orang yang aku bayar terlalu bodoh. Bagaimana kamu ingin cepat kaya kalo kamu sebodoh ini. Hari masih belum terlalu malam, Beti. Kamu tinggal pergi keluar, terus cari. Beli kek, atau nyuri kek ke tempat yang ada hewan itu. Yang penting hewannya dapat."


"Itu akan membutuhkan waktu yang lama nona Lisa. Kapan aku menjalankan rencana nona Lisa jika aku harus mencari dulu hewannya. Belum lagi aku harus merusak listriknya. Itu pekerjaan yang membutuhkan waktu. Tidak bisa aku lakukan sendirian."