Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 61


Suster itu terlihat panik dengan kata-kata yang Bastian ucapkan. Di tambah, ia melihat pecahan vas bunga yang berserakan. Wajah suster itu semakin pucat saja. Lidahnya tidak mampu berkata-kata. Hingga dokter yang bertugas datang menghampiri mereka.


"Maaf bos muda, ada apa ini?" tanya dokter itu mengenali Bastian.


"Kau lihat apa yang pasien mu lakukan pada istriku? Dia terluka, akibat ulah dari pasien gila mu itu. Apa saja kerjaan kalian di sini?"


"Maaf bos muda. Kami sedang mengurus pasien yang sangat membutuhkan penanganan. Sekali lagi maaf bos muda," kata dokter itu.


"Sudah Bastian. Aku baik-baik saja. Jangan marah-marah di sini. Mereka tidak salah. Kamu tahu, ada banyak pasien yang harus mereka rawat. Jadi, jangan salahkan mereka," kata Chacha sambil memegang tangan Bastian.


"Jika ada apa-apa dengan istriku, kalian akan tahu akibatnya."


"Ada apa bos muda?" tanya Danu yang baru saja datang.


"Kamu dari mana saja Danu? Kenapa lama banget?" tanya Bastian dengan nada tinggi.


"Maaf bos muda, saya sakit perut. Makanya lama."


"Tidak bisa diandalkan," kata Bastian kesal."


"Sudah. Tidak perlu marah pad semua orang. Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi sekarang!"


"Maafkan Bastian dokter," ucap Chacha sebelum mereka pergi.


"Tidak apa-apa mbak. Kami yang seharusnya minta maaf."


Mereka meninggalkan dokter dan suster tersebut. Danu yang masih bingung, mengikuti dari belakang. Hatinya di penuhi dengan tanda tanya. Namun, ia tidak berani menanyakan apa yang terjadi. Ia takut, kalo Bastian akan marah lagi.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Bastian saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Rumah sakit bos muda?" tanya Danu bingung.


"Iya."


"Bas, aku baik-baik saja," kata Chacha menyela.


"Tidak Cha. Aku tidak tenang sebelum kamu di periksa. Jangan bantah. Kita ke rumah sakit sekarang," kata Bastian ngotot.


Danu hanya bisa mendengarkan sambil menahan rasa penasaran yang semakin membesar dalam hatinya. Ingin bertanya, namun tidak punya nyali.


Sampai di rumah sakit, mereka langsung di sambut Hendra dengan tatapan heran. Ia merasa bingung dengan kedatangan Bastian dan Chacha. Baru beberapa jam mereka pergi, tapi sudah datang lagi.


"Apakah rumah sakit ini tidak ada dokter lain selain kamu, Hendra?" tanya Bastian kesal.


"Jelas adalah. Kenapa memangnya?"


"Kalo ada, singkirkan wajah kamu dariku. Aku sepertinya sudah bosan melihat wajahmu."


Itulah Bastian dengan sahabatnya. Meskipun bertengkar, salah sangka, tapi, ia cepat melupakan apa yang terjadi. Jika itu tidak benar-benar merusak hatinya, maka Bastian bisa berdamai dengan temannya secepat membalikkan telapak tangan.


Hal itulah yang membuat Hendra betah berteman dengan Bastian. Bahkan, ia menganggap Bastian teman sejatinya.


"Kurang ajar kamu. Mana bisa aku menyingkirkan wajah tampan ini. Ini rumah sakit milik aku."


"Sebagian," kata Hendra memperbaiki kata-katanya dengan cepat.


"Sudah. Aku tidak ingin bercanda. Panggilkan dokter perempuan datang ke sini!"


"Bastian, jam segini, hari ini, mana ada dokter wanita yang tugas. Yang ada cuma aku dengan beberapa dokter laki-laki yang lainnya."


"Ngomong-ngomong, untuk apa kamu minta dokter wanita?"


"Aku ingin mereka memeriksa Chacha."


"Cahcah dipukul oleh orang gila. Aku takut kalo bekas pukulan itu infeksi atau apalah gitu. Intinya, aku ingin dia diperiksa."


"Apa! Dipukul orang gila?" tanya Hendra kaget.


Bukan hanya Hendra yang kaget, Danu juga kaget. Kini, ia baru tahu apa yang terjadi setelah ia tinggal ke kamar mandi. Pantas saja bos mudanya sangat kesal padanya. Ternya itu menyangkut Chacha.


"Aku baik-baik aja, Bastian," kata Chacha yang sedari tadi hanya diam.


"Cha, kamu harus periksakan bekas pukulan itu. Jangan buat aku merasa bersalah Chacha," kata Bastian dengan nada sedih.


"Ya sudah, biar aku yang memeriksakannya," ucap Hendra.


"Jangan! Aku tidak setuju kamu memeriksa istriku."


"Lho, kenapa tidak setuju? Memangnya, Chacha dipukul di bagian mana?"


"Bahu kirinya."


"Ya Tuhan. Aku ini dokter Bastian. Apa salahnya aku yang periksa Chacha?"


"Tidak bisa. Aku tidak mengizinkan kamu memeriksa Chacha. Aku ingin dokter perempuan."


"Sudah aku katakan kalau di rumah sakit ini sekarang sedang tidak ada dokter perempuan. Mereka sedang cuti. Yang ada semuanya dokter laki-laki. Apa kamu mau laki-laki lain yang memeriksa Chacha? Kalau aku, aku inikan sahabat kamu."


Bastian berpikir sejenak. Hatinya membenarkan apa yang Hendra katakan. Mau tidak mau, ia terpaksa mengizinkan Hendra memeriksa Chacha.


"Kamu boleh periksa Chacha, tapi aku tetap di dalam sini."


"Terserah kamu saja," kata Hendra.


Hendra pun langsung menyuruh Chacha duduk di atas ranjang khusus pasien. Setelah itu, ia meminta Chacha membuka sedikit bagian baju untuk melihat bahu kiri yang telah dipukul.


"Ya Tuhan, bahunya memar," kata Hendra kaget setelah melihat bahu Chacha.


"Ada apa Hendra?" tanya Bastian cemas ketika mendengar apa yang Hendra katakan.


"Bahunya memar Bastian. Warna bekas pukulan ini sudah sangat membiru," kata Hendra sambil mengurut bekas itu dengan pelan.


"Auh .... " Chacha mengeluh kesakitan.


"Maaf-maaf, apa rasanya sakit?"


"Jelas sakit. Apa kamu tidak dengar barusan dia mengeluh?" tanya Bastian kesal.


"Aku gak papa. Hanya sedikit nyeri saja."


"Apa itu bahaya Hendra?" tanya Bastian sangat cemas.


"Tidak terlalu. Cuma, ini akan terasa sakit jika tersentuh. Aku akan berikan Chacha obat dan salep. Nanti tebus di sana," kata Hendra sambil mengarah telunjuk ke depan.


"Ya."


Chacha meninggalkan Bastian dan Hendra di kamar itu. Dia ingin ke kamar mandi. Sepeninggalan Chacha, Hendra mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Bastian pun menceritakan detail kejadiannya.


"Bas, jika kamu bisa jalan, maka kamu tidak akan melukai Chacha."


"Kamu menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada Chacha?" tanya Bastian kesal.


"Ya memang kamu yang salah. Coba saja kamu pikirkan baik-baik apa yang aku katakan. Jika saja kamu bisa jalan, maka Chacha tidak perlu melindungi mu tadi. Malah sebaliknya, kamu yang melindungi Chacha. Renungkan semua yang terjadi Bastian. Kamu akan tahu apa yang terbaik yang harus kamu lakukan," kata Hendra sambil beranjak meninggalkan Bastian.


Bastian hanya terdiam. Perlahan, batinnya bisa menerima kebenaran dari kata-kata yang Hendra ucapkan. Satu persatu gambaran akan untungnya jika ia bisa berjalan berlalu lalang di benaknya. Yang paling ia ingat adalah, saat Chacha melindungi dia dari orang gila.