Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 45


Mayang kembali ke kantor dengan wajah yang sangat marah. Terlihat dari raut wajah yang memerah dan sangat tidak enak untuk di lihat.


"Di mana Dimas?" tanya Mayang pada salah satu karyawannya.


"Pak Dimas di ruangannya buk bos."


Dengan langkah cepat karena tidak sabar lagi untuk bertemu Dimas, Mayang meninggalkan karyawan tersebut tanpa bicara sepatah katapun. Brak ....


Pintu ruangan Dimas terbuka lebar, memunculkan Mayang yang berdiri tegap sambil mengepalkan tangan.


"Ada apa, Ma?" tanya Dimas kaget.


Plak ....


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Dimas. Dimas memegang pipinya. Ia menatap sang mama dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Ada apa sih, Ma? Kenapa mama datang-datang langsung menampar aku?"


"Kamu anak bo*doh. Bisa-bisanya kamu cari masalah dengan Bastian," kata Mayang dengan nada tinggi karena kesal.


"Maksud mama?"


"Kenapa kamu ganggu istrinya?" tanya Mayang sambil berteriak. Ia menangis sekarang.


"Ma. Siapa yang ganggu istri Bastian. Aku gak ada ganggu istri orang, Ma."


"Oh, benarkah? Jika tidak ada masalah yang besar, kita tidak mungkin kehilangan kontrak kerjasama sekaligus perusahaan kita."


"Apa!? Mama tidak bercanda kan? Kita kehilangan perusahaan?"


"Ya, jika bukan karena kamu. Kita tidak akan kehilangan segalanya. Kamu anak bo*doh Dimas! Anak bodoh," kata Mayang sambil memukul bahu Dimas dengan tangannya.


"Ma ... tenang dulu, Ma. Aku tidak merasa menganggu istri Bastian, Ma. Aku tidak merasa .... "


Saat itu, ponsel Dimas berbunyi. Tertera nama Keke dengan jelas di sana. Tiba-tiba, Dimas ingat sesuatu. Istri Bastian yang mamanya katakan itu adalah Chacha.


"Ya Tuhan ... mengapa aku bisa lupa hal ini," kata Dimas sambil menepuk kepalanya.


"Apa?" tanya Mayang kesal.


"Tidak ada, Ma."


"Apa barusan itu istrinya Bastian yang menelpon kamu? Katakan pada mama Dimas, kalau sebenarnya, bukan kamu yang mengganggu istri Bastian. Tapi, istrinya lah yang menganggu kamu," kata Mayang sambil memegang kedua bahu Dimas.


Dimas terdiam. Hatinya berkata, 'tidak, Ma. Yang ganggu istri Bastian itu aku. Bukan sebaliknya. Ini semua karena Keke. Awas kamu Keke. Aku akan bikin perhitungan sama kamu.'


"Ma--maaf, Ma."


"Apa! Jangan katakan pada mama kalo kamu memang mengganggu istri Bastian," kata Mayang sambil melemah.


"Ma .... "


"Cukup. Mama tidak mau mendengarkan apa yang kamu katakan lagi. Pergi!"


"Ma .... "


"Pergi sekarang juga! Mama tidak ingin melihat wajahmu sekarang, Dimas!" kata Mayang sambil berteriak.


"Aku tidak pernah mendidik kamu menjadi seperti ini Dimas. Aku tidak pernah .... aaaa .... "


Seisi kantor hanya bisa menyaksikan apa yang terjadi. Mereka yang berada di sana hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa membantu. Karena memang, ini bukan urusan mereka. Ini bukan urusan kantor melainkan urusan pribadi dalam keluarga.


Setelah Dimas pergi. Mayang tiba-tiba drop dan pingsan. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk ditangani.


Dimas menghentikan mobilnya di taman yang biasa ia dan Chacha datangi dulu. Perasaannya tiba-tiba sangat merindukan suasana bersama Chacha. Suasana yang tenang dan damai. Ia selalu merasakan kebahagiaan saat bersama Chacha.


Dimas mengambil ponselnya, ia mengirimkan pesan singkat pada Chacha.


*Cha, bantu aku.*


Pesan itu terkirim, juga sudah di terima oleh Cahcah. Namun, tidak ada balasan sama sekali dari pesan tersebut. Dimas sabar menunggu, namun tetap juga tidak kunjung datang balasan yang ia nanti-nantikan. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim pesan lagi pada Chacha.


*Cha, aku tahu kamu tidak akan datang. Kali ini, aku tidak mengharapkan kamu untuk datang. Tapi, aku sangat mengharapkan bantuan mu. Tolong katakan pada suamimu, aku ingin dia mengembalikan saham yang sudah ia beli. Kasihan mama ku, Cha. Dia sangat terpukul.*


Satu pesan panjang lebar Dimas kirimkan lagi pada nomor Chacha. Sama, pesan itu terkirim dan di terima oleh pemilik nomor. Tapi, balasannya masih belum sampai juga.


Kali ini, Chacha tidak sampai hati. Ia membalas pesan Dimas karena kasihan.


*Maaf Dimas. Aku tidak tahu menahu soal urusan Bastian. Apalagi itu soal kantor. Ya, dia memang suamiku. Tapi, aku tidak berhak mencampuri urusan kantornya. Kamu bisa temui dia langsung jika ingin bicara.*


*Bicara baik-baik dengan Bastian. Dia pasti akan mendengarkan apa yang kamu katakan. Bastian sebenarnya orang yang lembut. Tergantung bagaimana kamu berhadapan dengan dia saja.*


Dua pesan terkirim ke ponsel Dimas. Dimas membaca sambil menarik napas panjang lalu melepaskannya dengan kasar.


"Ternyata, kamu sangat memahami siapa Bastian, Cha. Aku salah telah mendengarkan Keke. Ternyata, kamu bahagia hidup bersama dia. Aku turut bahagia untuk itu," kata Dimas bicara pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Bastian sedang senyum-senyum sendiri saat membaca pesan yang Chacha kirimkan pada Dimas. Bukannya marah, ia malah merasa bahagia dengan pesan tersebut.