Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Aku OTW ya!


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Emanuel sudah sampai di halaman rumahnya. Kemudian Ia keluar dari dalam mobil dan mengambil dua box besar yang terletak di jok belakang, lalu ia berjalan kedalam rumah.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Bondan yang sedang duduk di ruang tamu sembari berbalas pesan dengan istrinya.


"Mami tidak memberi tahu Ayah?" Ema balik bertanya, seraya meletakkan dua box tersebut di atas lantai di dekat sofa ruang tamu.


"Tidak, ini aku sedang berbalas pesan dengannya," jawab Bondan sembari memperlihatkan layar ponselnya. Dan Ema menganggukan kepalanya, kemudian ia meraih satu box untuk ia buka.


"Ini adalah anak-anak, mami," jelas Ema, tangannya terulur untuk mengabil sesuatu kedlam box tersebut.


"WHATT!" pekik Bondan, sangat terkejut kemudian ia beranjak dari duduknya dan menghampiri menantunya sekaligus melihat sesuatu yang ada di dalam box tersebut.


Bondan bernafas lega, ketika melihat isi dari box tersebut, yang ternyata adalah dua anak anj*ng yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Kamu membuat Ayah jantungan!" kesal Bondan lalu menonyor kepala Ema karena saking kesalnya.


Ema berdecak kesal sembari menusap kepalanya yang baru saja di tonyor oleh Bondan.


"Sakit tahu, Yah!" Ema mengerucutkan bibirnya sebal, kemudian ia menggendong dua makhluk yang menggemaskan itu dan membawanya ke kamarnya.


Bondan mengelus dadanya, ia berpikir jika istrinya mempunyai anak lagi dengan laki-laki lain.


*


*


*


*


Ema berjalan mengendap-endap menuju tempat tidur dan meletakkan Mimi dan Momo keatas tempat tidur dengan pelan.


"Nue, jangan menggangguku," kesal Fika, dengan mata yang masih terpejam. Tidurnya terusik karena ada yang menciuminya.


Perlahan ia membuka matanya dan betapa terkejutnya dia melihat dua makhluk yang menggemaskan itu ada di atas tempat tidur.


"Oh ya ampun, Mimi Momo, aku sangat merindukan kalian," pekik Fika bahagia, kemudian ia mendudukan diri dan memeluk dua hewan kecil itu.


"Kamu suka?" tanya Ema, lalu ikut memeluk istrinya dari samping dan meletakkan dagunya pundak sang istri.


"Sangat, terimakasih telah membawanya kesini," ucap Fika, masih memeluk hewan kecil tersebut.


"Hem, hanya terimakasih? Tidak ada imbalannya begiitu? Kiss me," ucap Ema sembari memonyongkan bibirnya.


"Ck, dasar perhitungan!" kesal Fika, kemudian ia meletakkan dua hewan kecil itu lalu tangannya menarik tengkuk Ema dan mendaratkan ciuman manis di permukaan bibir suaminya.


Ema tersenyum senang dan tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu ia menahan tengkuk Fika dan melumaat bibir manis yang sudah menjadi candunya itu dengan sangat rakus.


Dan dua hewan kecil yang ada di dekat mereka hanya terdiam dan bengong, melihat tingkah kedua majikannya yang sedang main sosor-sosoran.


Fika mendorong dada bidang suaminya saat ia merasa kehabisan nafas.


"Kebiasaan," gerutu Fika, lalu mengusap bibirnya yang basah itu dengan punggung tangannya.


"Itu imbalan untukku, sepadan bukan?" ucap Ema terkekeh, lalu ia beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Menyebalkan, apa dia tidak melihat jika ada dua anak kecil disini yang ternoda. Ya ampun Mimi Momo maafkan Papi kalian," ucap Fika dengan nada penuh sesal kemudian memeluk dua hewan mungil dan menggemaskan itu.


"Sayang!! Aku bukan papi mereka!" teriak Ema dari dalam kamar mandi, karena ia masih mendengar ucapan istrinya.


"Bodo amat!" sahut Fika kesal.


*


*


*


*


Ema duduk diatas meja makan sembari menggendong Mimi, sedangkan Bondan sedang memasak untuk makan malam mereka dan Fika duduk di kursi makan dengan mulut komat-kamit tiada henti.



"Bisakah kamu menurunkan Mimi?!" tanya Fika dengan nada yang sangat kesal.


"Sebentar lagi, aku sangat merindukannya. Apa kamu tahu, jika Mimi ini pernah aku ajak main ke rumah keluarga Clark," ucap Ema kepada istrinya.


"Tidak tahu! tapi rumah keluarga Clark pasti seperti istana ya?" tanya Fika penasaran.


"Yap, sangat besar sekali. Nanti kita kesana setelah kandungan kamu kuat, sekaligus menjenguk Raya yang sudah melahirkan anak keduanya satu minggu yang lalu," ucap Ema tersenyum tanpa menoleh kepada istrinya, dan ia masih asyik dengan Mimi.


"Dasar pelakor!" gumam Fika dengan sangat pelan, sembari menatap sengit Mimi, sedangkan yang ditatap menujulurkan lidahnya, seolah sedang meledek Fika.


"Nona Raya yang sangat cantik dan seperti barbie itu sudah melahirkan?" tanya Fika lagi, dan menyembunyikan rasa cemburunya.


"Iya, tapi lebih cantikkan kamu sayang," gombal Ema dan mengerling nakal kearah istrinya, membuat Fika mendengus kesal.


"Hem, asinnn!" pekik Bondan, saat mendengar gombalan receh menantunya.


Ema mengerucutkan bibirnya kesal, kemudian ia turun dari meja dan meletakkan Mimi kedalam kandangnya.


"Yang lagi LDR an sirik!" cibir Ema, kemudian ia duduk di samping Fika.


"Percaya diri sekali ya! Aku sedang mencicipi sayur Sop ini, kenapa keasinan ya," bohong Bondan, sembari menahan tawanya.


"Alasan!" gerutu Ema, lalu merangkul istrinya dan mencium pipi Fika dengan mesra.


"Hem, enaknya kalau dekat istri. Bisa peluk istri dan cium-cium istri," balas Ema, tersenyum jahat.


"Sudah pernah merasakannya," jawab Bondan terdengar sewot.


"Iri ya? Ya 'kan? Duh kasihan yang lagi LDR an," Ema semakin meledek ayah mertuanya yang merangkap jadi Ayah tirinya itu.


Bondan mendengus kesal dan menatap malas menantunya, dan ia memilih fokus dengan masakannya.


"Kamu ini jahil banget sih," bisik Fika, terkekeh pelan.


Selesai memasak dan menyajikan makanan diatas meja dan di bantu oleh Ema. Kini saatnya mereka bertiga mulai menyantap makan malamnya dengan tenang. Setelah itu gantian tuga Ema yang mencuci piring dan memberesakan meja makan.


"Sudah beres semua. Bobok yuk, Yank. Kita kelonan," ucap Ema lalu menggendong istrinya.


"Ingat jangan kikuk-kikuk dulu kalian ya! Masih lemah tuh calon cucuku," sahut Bondan yang masih duduk di meja makan sembari menyesap kopinya.


Fika yang mendengar perkataan Ayahnya menjadi malu sendiri, dan memukul dada suaminya dengan pelan..


"Tenang, aman terkendali. Memangnya si rajawali yang main coblos saja," jawab Ema sedikit berteriak, sekaligus menyindir Bondan.


"Astaga! Kenapa aku harus mempunyai mantu dan anak tiri sepertimu sih?" gumam Bondan, sembari memperhatikan Ema yang menggendong Fika menaiki anak tangga.


Kemudian ia mengambil ponselnya yang tergelak di atas meja makan, lalu ia membuka ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada istrinya.


Sudah tidur belum? pesan terkirim dan Bondan mengetuk-ngetuk layar ponselnya itu karena pesannya tidak kunjung ada balasan dari istrinya.


Belum. pesan singkat dari Rima.


Kenapa belum tidur? Apa kamu ingin tidur di pelukanku? Balas Bondan.


Nanti kita khilaf lagi. Balas Rima dari seberang sana, menahan senyumannya.


Sudah sah ini, aku OTW ya. balas Bondan, lalu beranjak dari duduknya, mengambil jaket dan kunci motornya didalam kamar.


Mau nyuri kesempatan ya OM? 😆


Kasih dukungannya, dengan cara like, Vote, komentar, dan kasih Gift yang banyak. Makasihh😘😘