
Emanuel menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak, jika beberapa hari ini ia di diamkan oleh istrinya, setelah kejadian dimana ia membentak Fika.
Ema menatap Fika yang sedang menyuapinya di pagi hari itu dengan sangat telaten, namun bibir wanita itu terkunci rapat dan mata yang biasanya menatapnya dengan penuh kehangatan dan cinta kini berubah sangat datar.
"Yank, sampai kapan kamu mendiamkan aku? Aku minta maaf," ucap Ema dengan pelan, setelah suapan terakhir dihabiskannya.
Fika tidak menjawab, malahan wanita itu terlihat sangat cuek, lalu ia mengusap bibir Ema dengan tisu. Setelah itu Fika meletakan piring yang sudah kosong itu diatas meja, kemudian ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Yank?" panggil Ema dengan nada melas. Namun tetap saja istrinya itu seolah menulikan pendengarannya.
Setelah mencuci tangannya, Fika mendudukan diri di sofa yang ada di ruangan tersebut. Lalu ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi shoping untuk mencari baju bayi, tangannya terus berselancar di layar ponselnya itu dan senyumnya terus terkembang ketika ia melihat baju bayi yang sangat lucu-lucu.
Wah, bajunya bagus semua. Rasanya aku ingin memborongnya. Batin Fika, tersenyum senang. Dirinya menjadi sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan buah hatinya, yang beberapa bulan lagi akan lahir.
Ema yang sejak tadi memperhatikan istrinya tersenyum cerah pun menjadi sangat penasaran.
Dia sedang chattingan dengan siapa? Kenapa wajahnya terlihat bahagia seperti itu? Batin Ema kesal.
"Yank, aku haus. Minum," pinta Ema dengan manja. Fika yang sedang asik dengan ponselnya pun langsung mendengus kesal, lalu ia meletakkan ponselnya diatas meja dengan kasar dan barulah ia beranjak untuk mengambilkan minum untuk suaminya.
Lihatlah, wajahnya tadi tersenyum ceria tapi kenapa sekarang terlihat asam? Sebegitu marahkah dirinya kepadaku? Batin Ema bertanya.
Fika menyodorkan gelas yang berisi air putih kepada suaminya, dan Ema pun langsung menyambut gelas itu dan langsung menenggak habis air tersebut.
"Terimakasih," ucap Ema dan menyerahkan gelas itu kembali. Namun Fika tidak menjawab dan menerima gelas tersebut dengan kasar.
"Yank, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Kamu boleh marah dan memukulku, tapi jangan mendiamkanku seperti ini,'' ucap Ema dengan sangat lembut dan mencekal tangan istrinya.
Fika menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia melepaskan tangan Ema yang mencekal salah satu tangannya dengan pelan. Ema menipiskan bibirnya ketika melihat penolakan dari istrinya. Dan rasa bersalah dan penyesalan kini menyeruak masuk kedalam dadanya.
"Apa hatimu sakit?" tanya Fika, tanpa menatap suaminya.
"Iya," jawab Ema cepat. Akhirnya Fika bersuara setelah beberapa hari mendiamkannya. Dan hatinya memang teramat sangat sakit saat istrinya itu terus mendiamkannya.
"Tapi hatiku lebih sakit dari apa yang kamu rasakan!" ucap Fika, dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
Deg
Dada Ema seperti dihantam batu besar ketika mendengar ucapannya istrinya. Matanya pun berkaca-kaca ketika melihat istrinya mulai terisak.
"Yank ak— "
"Kamu tidak mengerti perasaanku, Nue! Disaat kamu terluka, aku sebisa mungkin untuk selalu ada di dekatmu dan selalu menemanimu, agar kamu lebih kuat untuk menjalani semua ini. Tapi ternyata aku salah, kamu masih meragukaku, dan kamu meragukan cintaku," ucap Fika, berusaha untuk mengontrol emosinya dan ia segera menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.
"Tidak sayang, kamu salah. Aku sangat-sangat mencintaimu lebih dari apapun. Maaf jika perkataanku beberapa hari yang lalu teramat sangat menyakitimu," jelas Ema dengan perasaan yang sangat menyesal.
"Omong kosong!"
Kemudian Fika segera keluar dari ruang rawat suaminya. Dadanya terasa sangat sesak dan berdenyut nyeri ketika mengingat suaminya membentaknya dan memperlakukannya tidak baik beberapa hari yang lalu.
Masih adegan nyesek ya geng,,ðŸ˜
Kasih dukungannya ya sayang, dengan cara tekan like, vote, komentar favorit dan kasih gift semampu kalian. 😘