Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Tidur bareng?


Disisi lain Emanuel tengah menikmati servis dari istrinya. Ema menengadahkan kepalanya sembari mengerang nikmat ketika ia akan mencapai pelepasan dan ia pun segera melepaskan kaosnya dan menarik tangan Fika yang sedang menggenggam si elang. Lalu, ia membekap mulut si elang yang akan memuntahkan lahar panas dengan kaosnya itu.


"Hah." Ema menarik nafas panjang dan memejamkan matanya, kemudian ia beranjak dari hadapan istrinya dan mengancingkan kembali celananya, lalu ia membuang kaosnya itu ke tempat sampah. Sedangkan Fika merapikan pakaiannya yang berantakan.


"Terimakasih, Yank," ucap Ema, saat ia sudah duduk di tepian tempat tidur tepatnya di sebelah Fika.


"Iya," jawab Fika tersenyum malu, lalu menangkup wajahnya yang memerah.


"Ih, malu," ledek Ema, lalu memeluk istrinya dari samping dan mengecup pipi Fika yang merona itu.


"Jelas aku malu, ini kedua kalianya loh aku bantuin kamu pipis enak," Fika mencebikkan bibirnya kesal. Bisa-bisanya, suaminya itu meledeknya.


"Cie, yang sudah nggak polos." Ema malah semakin meledek istrinya itu.


"Nue! Aku marah nih." Fika memukul lengan Ema dengan pelan dan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Iya, maaf cuma bercanda kok." Ema merangkul bahu istrinya, kemudian ia mengecup pipi Fika dengan mesra.


"Nue, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Fika, mendongak lalu mengecup rahang tegas suaminya itu.


"Boleh sayang. Katakan saja," jawab Ema, semakin mengeratkan pelukkannya.


"Aku tiba-tiba ingin memakan salad buah," ucap Fika, sembari mengelus dada bidang Ema yang montok itu dengan gemas.


"Nanti aku pesankan, ya," balas Ema.


"Tapi aku ingin kamu yang membuatnya," pinta Fika dengan nada memohon. "Ini permintaan junior loh, aku ngidam," jelas Fika, membuat Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia mana bisa memasak? Apalagi membuat salad? Masak mie rebus saja gosong.


"Sayang, tap—"


"Kamu nggak sayang lagi sama aku ya?!" ketus Fika, lalu melepaskan pelukan itu dengan kasar.


"Eh, bukan begitu. Tapi ... Ya sudah ayo, nanti aku coba buatkan untukmu," ucap Ema, membujuk istrinya agar tidak marah.


"Kamu mau salad buah apa?" tanya Ema, beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil kaos berwarna hitam dan memakainya.


"Buah timun, bengkuang, air lemon, ditambah pakai kripik singkong dan mayonise sama saos," jawab Fika, membuat Ema terbengong dan juga keheranan.


"Mana ada salad kayak gitu, Yank? Kamu ngarang ya." Ema menggelengkan kepalanya dan ia tidak habis pikir dengan permintaan aneh istrinya itu.


"Ada kalau kamu yang buatin, please," mohon Fika dan memperlihatkan wajah imutnya, membuat Ema pasrah dan menuruti permintaan ibu hamil itu.


"Iya, tapi kalau tidak enak jangan protes," ucap Ema, kemudian ia berjalan menghampiri Fika dan menggendong Fika ala bridal style.


"Ya, tenang saja," jawab Fika, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Ema, kemudian ia mengecup pipi suaminya dengan gemas.


"Bucin kamu ya?" ledek Ema, sembari membawa Fika turun dari tangga.


"Gimana nggak bucin kalau suami aku ganteng, kaya, baik dan manis begini," puji Fika, membuat Ema merasa terbang ke awang.


"Uh, kamu manis banget sih, jadi nggak tahan buat makan kamu," ucap Ema, kemudian ia mengecup bibir istrinya sekilas.


"Puasa dulu, BOS," ucap Fika, mengingatkan suaminya.


"Tapi, kalau pegang boleh ya?" Ema berucap sembari tersenyum mesum.


"Pegang mana dulu?" Fika malah balik bertanya.


"Iya itu si kembar dan terowongan," ucap Ema sembari melirik dua aset istrinya itu.


"Iya boleh, tapi jangan lebih dari itu," jawab Fika, tersenyum, membuat Ema bersorak girang.


"Asik! Boleh jadi bayi besar juga dong." Ema menarik turunkan alisnya, dan kini ia mendudukan Fika di ruang makan.


"Kamu di kasih hati malah minta jantung." Fika mencebikkan bibirnya kesal, membuat Ema tergelak kemudian ia menundukkan wajahnya dan mellumat bibir manis yang sudah menjadi candunya itu beberapa saat.


"Kepuasan suami adalah ladang pahala untuk istri," ucap Ema, sembari mengusap bibir Fika yang basah dengan ibu jarinya.


"Dasar maniak!" umpat Fika, dan menatap malas suaminya yang masih tergelak itu.


"Jangan marah-marah, nanti juniornya ngambek lagi," ucap Ema, lalu mengelus pucuk kepala istrinya itu dengan sangat lembut.


"Ya, habisnya kamu juga bikin candu sih, nih si elang sudah on lagi. Jadi jangan salahkan aku dong." ucap Ema, sembari mengelus sesuatu yang menonjol di bawah sana.


"Ya ampun, Yank!" Fika menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir degan nafssu suaminya yang terus meningkat jika bersama dirinya.


Ema tergelak keras, kemudian ia berjalan menuju lemari pendingin yang tidak jauh dari ruang makan tersebut. Lalu ia mengambil bahan-bahan makanan yang ia butuhkan untuk membuat salad. Beruntung Isi lemari pedingin itu lengkap, karena tadi pagi Bibik baru belanja kebutuhan dapur.


Dan beberapa makanan ringan seperti kripik singkong, ciki-cikian juga di siapkan oleh Bibik.


Kemudian Ema membawa bahan-bahan yang sudah ia dapat itu ke meja makan.


"Semangat sayang," Fika bertepuk tangan saat melihat Ema akan mengolah bahan makanan itu.


Ema tersenyum senang, kemudian ia mulai membuat salad permintann istrinya, dan ia juga berlaga seperti master chef dan berjoget ria, membuat Fika tertawa terbahak.


"Nue, bisakan tanganmu itu jangan gemulai?" tanya Fika.


"Kenaposeh? Sudah dari sananya yes, jadi yei jangan protes, yang penting si elang tidak gemulai," ucap Ema dengan nada gemulai, sembari memotong lemon menjadi dua bagian.


"Astaga, Miss EM!" pekik Fika, dan keduanya itu pun tertawa bersama sembari mengingat pertemuan pertama mereka yang sangat lucu dan juga memalukan bagi Ema.


Tidak berselang lama, salad buatan Ema sudah jadi kemudian Ema menyajikan salad tersebut di hadapan Fika.


Fika mengernyit heran, ketika melihat tampilan salad tersebut.


"Kenapa jadi aneh begini bentuknya?" tanya Fika, memperhatikan salad yang ada di dalam mangkuk kecil itu.


"Ya pasti anehlah, itukan di campur saos, mayonise dan air lemon," jawab Ema, yang duduk di samping Fika.


"Aku sudah tidak ingin, tapi yang aku inginkan sekarang adalah kamu menghabiskan makanan aneh ini," ucap Fika, lalu menggeser mangkuk itu kepada Ema.


Mendengar pemintaan istrinya, Ema menelan ludahnya kasar dan bergidik ngeri.


"Yank, kamu tidak bercanda, kan?" tanya Ema dengan wajah yang melas.


"Tidak, mubazir kalau di buang. Kenapa? kamu tidak mau? Itu tandanya kamu tidak sayang sama aku," ucap Fika, dan menatap kesal suaminya.


Kok dia yang ngegas sih? harusnya 'kan aku. Batin Ema.


"Mau kok yank, karena aku cinta banget sama kamu," ucap Ema pasrah.


Junior cepatlah kamu besar, biar tidak menyiksa papa seperti ini. Keluh Ema dalam hati.


Ema menelan ludahnya berulang kali, kemudian ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan salad tersebut kedalam mulutnya.


"Hoek." Ema ingin muntah saat makanan itu sudah mendarat kedalam mulutnya, ada rasa manis, asin, pedas, dan asam bercampur menjadi satu. Tapi, Ema tetap berusaha menelan salad itu, karena ia tidak ingin membuat istrinya kecewa.


Fika menatap suaminya yang terlihat lahap memakan salad tersebut pun bertepuk tangan bahagia.


Gak apa-apa diri ini tersiksa, yang terpenting senyuman itu terus terukir di bibirmu manismu dan alasan kamu tersenyum itu karena aku. Batin Ema, tersenyum menatap istrinya yang terlihat bahagia.


"Nue, Ayah dan Mami kemana ya?" tanya Fika, sembari memperhatikan sekelilingnya, keduanya itu baru tersadar jika Bondan dan Rima sejak tadi tidak terlihat.


"Mungkin mereka tidur di kamar," jawab Ema, sembari mengelap bibirnya dengan tisu.


"Tidur bareng?"


"Ya, nggaklah! Mana mungkin mereka berani," jawab Ema, terkekeh pelan.


"Tapi kalau mereka bobok bareng bagaimana?" tanya Fika, dengan peerasaan cemas.


"Ku potong burung Ayah!"


Wadidawww,,🤣


Ayah bersiaplah!


Kasih dukungannya ya seyeng, kasih like, vote, komentar dan hadiah..


Yang ingin lihat Nue masak, bisa langsung cek IG emak ya, @thalindalena