
"Tidak ada, tapi ini tentang kita." Jawab Bondan, membuat Rima mengerutkan keningnya.
"Tentang kita?" Tanya Rima, dan memiringkan kepalanya untuk menatap pria yang duduk di sampingnya itu.
"Maksud kamu apa?" Tanya Rima lagi, namun saat ini dengan nada yang ketus.
"Em, ituβ" Bondan tidak melanjutkan perkataannya lantaran ia bingung harus memulainya dari mana.
Aduh, kenapa jadi gugup begini. Batin Bondan, sembari mengelus tengkuknya.
"Itu apa sih?" Tanya Rima, penasaran.
"Em, aku dengar kalau kamu akan dilamar." Tanya Bondan, tapi dengan gumaman kecil dan membuat Rima tidak mendengar jelas dengan apa yang di katakan Bondan.
"Kamu ngomong apa sih! Nggak jelas! Lebih baik aku pulang." Kesal Rima, dan mulai beranjak dari duduknya, namun tertahan karena Bondan mencekal lengannya.
Rima menatap lengannya yang di pegang oleh Bondan, begitu pula Bondan juga ikut menatap tangannya yang memegang tangan Rima. Tersadar dengan apa yang ia lakukan, Bondan langsung melepaskan tangannya dan meminta maaf.
"Maaf." Ucap Bondan, lalu menundukan kepalanya.
"Tidak apa." Jawab Rima, lalu ia mendudukkan dirinya lagi di samping Bondan, namun dengan jarak yang lebih jauh. Dan seketika itu suasana mendadak menjadi sangat canggung.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Rima, dengan pelan dan tanpa menatap Bondan.
"Nue, bilang kalau kamu akan menikah lagi." Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Bondan, membuat Pria itu merutuki dirinya sendiri.
"Hah, ngaco!" Jawab Rima tergelak, membuat Bondan langsung membuang muka, karena saat ini wajahnya sudah memerah karena malu.
"Nue, pasti iseng deh. Dia anaknya memang suka nakal." Lanjut Rima, masih menyisakan tawanya.
"Oh, jadi nggak benar ya." Ucap Bondan, tersenyum tipis. Entah kenapa ada rasa lega di dalam hatinya, saat mendengar jawaban langsung dari Rima.
"Ya, nggaklah. Mana mungkin aku menikah lagi, inget usia Bon-Bon." Ucap Rima terkekeh.
"Tapi, kamu masih cantik." Lagi-lagi Bondan melontarkan ucapan yang ia tahan selama ini.
Ah, mulut tidak berfilter. Batin Bondan kesal, dan ingin rasanya ia memukul mulutnya sendiri.
"Benar kah aku cantik?! Akhirnya kamu mengakuinya." Balas Rima, tersenyum lebar.
Senyumannya tidak berubah. Batin Bondan, ia masih terpesona dengan senyuman manis itu.
"Iya kamu cantik dari dulu malah." Jawab Bondan, lalu memalingkan wajahnya lagi, karena ia enggan untuk menatap wajah cantik itu.
Duh, Bunda. Maafkan aku, karena rasa ini mulai tumbuh lagi dan aku tidak mampu untuk menepisnya. Batin Bondan, merasa bersalah dengan mendiang istrinya.
"Jadi kamu mengajakku bertemu, hanya untuk membicarakan hal ini?" Tanya Rima.
"Em.. tidak. Aku juga ingin mengatakan kalau Fika dan Nue, besok akan kembali kerumah." Bondan beralasan.
"Huh." Bondan hanya mendengus kesal saja, saat mendengar pertanyaan Rima.
"Heleh, begitu saja marah." Ledek Rima. "Dasar anak kecil." Lanjut Rima, tergelak dan membuat Bondan semakin kesal.
"Dasar nenek tua!" Balas Bondan.
PLAK
"Apa kamu bilang?!" Sungut Rima, sembari memukul lengan Bondan dengan keras, namun Bondan tidak merasakan sakit sedikit pun.
"Ya ampun, tangan kamu itu terbuat dari beton ya!" Gerutu Rima, sembari mengibaskan telapak tangannya yang terasa sakit karena memukul lengan Bondan.
"Sakit sekali ya?" Dengan reflek ia langsung menarik tangan Rima, lalu mengusap telapak tangan itu dengan lembut.
"EH!" Rima terkejut, saat tangannya di tarik dan di elus oleh Bondan. "Sudah tidak apa-apa." Kemudian Rima menarik tangannya lagi, membuat Bondan tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Rima, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya Bondan, lalu merubah posisi duduknya sedikit miring, agar ia bisa melihat wajah Rima dengan jelas.
"Silahkan." Jawab Rima, menoleh sesaat.
"Apakah kamu masih menyimpan rasa untukku?" Tanya Bondan lagi, membuat Rima menegang dan menelan salivanya dengan kasar.
"Kamu ngomong apa sih? Rasa apa maksud kamu?" Bukannya menjawab, Rima, malah melontarkan pertanyaan lainnya.
"Rasa cinta itu apa masih ada?" Tanya Bondan, sembari menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya itu.
"Sepertinya kamu kebanyakan makan ayam kampung ya? Makanya kamu jadi ngalantur gitu." Jawab Rima, diselingi dengan tawa garing.
"Semakin kamu mengelak, maka rasa itu akan semakin tumbuh di hatimu." Ucap Bondan.
Tawa yang membingkai wajah Rima kini lenyap, saat ia mendengar ucapan Bondan.
Rima menoleh dan menatap Bondan yang juga tengah menatapnya dengan intens. Kedua mata mereka saling beradu, tatapan mata mereka menyiratkan kata cinta yang selama ini terpendam.
Bondan mendekatkan dirinya kepada Rima, lalu Bondan memegang dagu Rima, dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Ucapanku benar, kan?" Tanya Bondan, dan semakin menatap wajah cantik itu dengan lekat.
Rima terdiam kaku, namun sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Jika iya memangnya kenapa? Kita tidak mungkin bisa bersama." Jawab Rima, menatap nanar pria yang ada di hadapannya itu.
"Kamu benar kita tidak mungkin bisa bersama, tapi apakah bisa jika kita mengulangi kenangan indah yang dulu pernah kita ciptakan bersama?" Tanya Bondan, sembari menatap bibir pink itu dengan rasa ingin memiliki.
Aku semakin deg-degan, huahhhh. Ayah jangan membuat authornya melehoy.....π
Kasih dukungan semampu kalian yak.π