Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Tidak ingin membebani


Ke empat orang yang sedang menunggu di luar kamar rawat Emanuel terkejut ketika melihat Fika keluar dari ruangan tersebut menangis terisak. Rima langsung menghapiri menantu sekaligus putri sambungnya itu lalu memeluknya.


Bondan menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan ia sydah tahu jika hal ini akan terjadi.


Sedangkan Ruri dan Jack menatap prihati dengan keadaan yang dialami Fika dan juga Emanuel.


"Semua akan baik-baik saja, sayang," bisik Rima, di sela pelukanya. Ia berusaha untuk menenangkan Fika yang terus menangis terisak.


"Tidak, Mam. Dia marah padaku dan dia juga mengusirku," balas Fika menangis terisak di pelukan Rima.


Mendengar perkataan menantunya, Rima tertegun kemudian ia melepaskan pelukannya.


"Benarkah begitu?" tanya Rima dan Fika mengangguk pelan.


Tanpa banyak kata, Rima, masuk kedalam ruang rawat Ema dengan perasaan yang emosi karena menurutnya putranya itu sudah sangat keterlaluan, apalagi saat ini Fika sedang mengandung.


"Tinggalkan aku sendiri, Mam," pinta Ema, tanpa menoleh. Ema termenung, wajahnya nampak kacau, dan matanya terlihat sembab karena terlalu banyak menangis, terlihat sekali jika lelaki itu terlihat syok dan juga frustasi karena keadaan yang menimpanya.


"Apa yang kamu lakukan kepada istrimu? Apa kamu tidak tahu jika dia yang jauh lebih terpukul dengan keadaanmu ini?" tanya Rima dengan nada berapi-api, karena ia teramat kesal dengan sikap putranya itu.


"Aku tahu! Maka dari itu aku tidak ingin melihatnya bersedih dan juga menangis. Aku sakit melihatnya terluka! Hatiku teramat sakit!" jawab Ema, sedikit berteriak dan air matanya luruh kembali membasahi pipinya. "Aku tidak ingin membebaninya, Mam," lirih Ema, dengan hati yang pedih.


"Apa maksudmu? Jangan bilang kalau—"


"Ya!" potong Ema dengan sangta tegas.


"Apa kamu sudah gila?? Istrimu sedang mengandung anakmu dan bukankah kamu sangat mencintainya! Juga dokter mengatakan kalau kamu bisa berjalan lagi! Kamu benar-benar tidak waras!" maki Rima dengan sangat emosi kepada putranya.


"Maka dari itu aku tidak ingin membebaninya," jawab Ema, menundukan kepalanya lalu ia mengusap wajahnya denga kasar.


"Sama saja kamu akan menyakiti hatinya!Dengarkan Mami, Nue! Hanya kaki kirimu saja yang terluka dan kaki kananmu baik-baik saja! Mami yakin kamu akan sembuh dengan cepat dan Mami akan mencarikanmu dokter terbaik untuk kamu, agar kamu cepat sembuh. Kenapa pikiranmu menjadi dangkal begini?" kesal Rima, dan ingin sekali rasanya ia memukul dan juga mencubit putranya itu, tapi mengingat keadaan putranya yang sakit, ia mengurungkan niatnya.


"Kuatkan hatimu, semua akan baik-baik saja. Sekarang Mami akan keluar dan minta maaflah kepada istrimu," Ema mengangguk patuh ketika mendengar penuturan ibunya.


*


*


*


Kemudian Rima keluar dari ruangan tersebut dan tidak berselang lama masuklah Fika dengan wajah yang sendu dan mata yang terlihat bengkak.


"Sayang?" sapa Ema, lalu meraih tangan istrinya.


Fika masih terdiam dan ia juga tidak menolak saat tanganya di genggam oleh Suaminya.


"Maaf, maafkan aku karena berkata kasar padamu," ucap Ema dengan sangat tulus dan juga penuh penyesalan, lalu ia mengecup kedua punggung tangan itu bergantian.


Fika terisak lalu ia menarik tangannya dengan kasar, membuat Ema mematung dan tersenyum kecut. Sudah sepantasnya jika istrinya marah kepadanya.


"Aku tidak bermaksud begitu kepadamu, hanya saja aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dalam lagi. Hatiku sakit saat melihatmu terus menangis dan bersedih seperti ini," jelas Ema dengan lembut dan ia meraih tangan istrinya lagi. Bukannya terharu dengan perkataan suaminya, malah semakin membuat Fika merasa kesal.


"Kamu memang selalu egois!"


Duh bang, pikirannya dangkal banget sih!


Ikut nyesek jadinya🤧


Kasih dukungannya ya sayang-sayangku❤😘