Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
I Feel sory, honey


"Karena yang di katakan pria itu benar, aku tidak pantas untukmu." Ucap Ema pedih, membuat Fika memejamkan matanya kemudian ia memeluk suaminya dengan erat.


Ema terdiam saat Fika memeluknya erat, kedua tangannya menggantung tanpa berniat membalas pelukan istrinya. Hatinya perih, sakit, sedih dan juga ia merasa menjadi pria yang tidak berguna, selama ini ia begitu percaya diri membawa Fika masuk kedalam hidupnya. Namun kenyataan menyadarkannya jika dirinya terlalu lemah untuk bersanding dengan Fikanya, istrinya yang sangat ia cintai dan ia sayangi.


"Lalu pria yang pantas untukku itu seperti apa? Hah! Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, kamu baik dan yang terpenting adalah aku mencintaimu apa adanya." Ucap Fika, semakin mengeratkan pelukannya.


Ema memejamkan matanya kemudian ia membalas pelukan istrinya itu tak kalah erat dan menciumi pucuk kepala istrinya berulang kali.


*


*


*


"Jangan dipikirkan lagi ya." Ucap Fika, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya, karena saat ini mereka sudah berada didalam mobil.


Ema mengulas senyum lalu mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Aku hanya tidak percaya diri dengan keadaanku ini, tapi apakah kamu tidak malu mempunyai suami seperti aku ini? Hari ini ada satu orang yang mencibirmu tapi hari hari berikutnya pasti akan banyak lagi yang akan mencibirmu. Apa kamu tidak malu dan apa kamu sanggup bersanding denganku?" Tanya Ema serius.


"Kamu ini ngomong apa sih?" Jawab Fika sedikit kesal, kemudian ia menegakkan kepalanya dan menatap suaminya dari samping.


"Aku ngomong apa adanya, aku hanya takut suatu saat nanti kamu menyesal karena menikah denganku." Balas Ema, ia menoleh dan menatap istrinya dengan serius.


"Bulshitt! Hentikan omong kosong kamu itu!" Sentak Fika. "Atau selama ini kamu hanya ingin mempermainkanku? Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu ingin mencampakanku?!" Tuduh Fika, dengan emosi yang menggebu.


"Oh My God! Aku tidak bermaksud seperti itu. Demi Tuhan aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu." Jawab Ema tegas, sembari menyugar rambutnya kebelakang dengan frustasi.


"Lalu kenapa kamu masih meragukanku? Aku juga sangat mencintaimu,Nue!! Cukup dengarkan isi hatimu dan jangan pernah dengar perkataan orang lain diluar sana yang menghujatmu. Kamu pantas untukku, aku mencintaimu apa adanya jadi biarkan aku tetap berada di sisimu sampai kapanpun." Ucap Fika, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"I feel sorry, honey." Ucap Ema penuh sesal, lalu merengkuh tubuh istrinya yang terasa bergetar, menandakan jika istrinya itu tengah menangis.


"Bisakah kita saling mempercayai satu sama lain, Nue?" Lirih Fika, kemudian ia membalas pelukan Ema.


"Iya sayang." Jawab Ema, lalu mengurai pelukannya dan mendongakkan wajah istrinya yang terlihat sembab, kemudian ia menghapus air mata istrinya itu dengan ibu jarinya.


"Maaf, karena telah menyakitimu." Lirih Ema, dan menatap dalam bola mata indah berwarna hitam itu dengan lembut. Begitu pula Fika melakukan hal yang sama, ia menatap dua bola mata berwarna coklat itu penuh cinta.


Kemudian Ema mengecup bibir manis itu dan menyesapnya dengan sangat lembut, Fika memejamkan matanya dan membalas sesapan itu dengan lembut juga, dan detik selanjutnya kedua larut dalam ciuman manis yang penuh kasih dan cinta itu. Ema melepaskan pagutannya lalu tersenyum manis menatap istrinya.


"Jangan pikirkan ucapan si kunyit tadi. Kita bisa mengubah keadaan asal kamu mau berlatih bela diri dengan Ayah." Ucap Fika lembut dan diangguki Ema.


"Iya sayang, dan sekali lagi maaf karena menyakiti hatimu." Balas Ema.


"Tidak hanya sekali ini saja kamu menyakitiku tapi sudah dua kali." Ucap Fika, membuat Ema mengerutkan keningnya.


"Dua kali?"


"Ya, saat di Salon tadi, kamu cipika cipiki dengan para wanita cantik dan seksih tanpa memperdulikan perasaanku." Ucap Fika ketus, sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ah, sudah kuduga." Ucap Ema terkekeh, membuat Fika semakin cemberut kesal.


"Maaf, dulu aku sudah terbiasa akan hal itu, jadi mulai sekarang tidak akan lagi karena ada hati yang harus aku jaga." Balas Ema, dan tersenyum lebar membuat Fika semakin gemas sendiri saat melihatnya.



Berasa aku yang di senyumin sama Nue yak.☺


"Huh, ini nih yang bikin aku makin cinta sama kamu, senyuman kamu mengandung gula." Ucap Fika jujur, lalu menangkup wajah suaminya dengan gemas.


"Ciee Bucin.." Ledek Ema.


"Ya deh, istriku yang paling cantik." Ucap Ema terkekeh, sembari mencium pipi Fika dari samping.


"Nyosor terus." Sungut Fika.


"Yang di sosorin juga mau." Jawab Ema, tergelak.


"Ih, udah jalanin mobilnya kerumah Ayah." Ucap Fika, menahan malu.


"Siap Boskuh." Jawab Ema, lalu menjalankan mobilnya kaluar dari parkiran rumah sakit itu dan menuju rumah Ayah Bondan.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengumpat kesal, saat melihat kemesraan Fika dan Nue.


"Mata kamu buta, Fik." Umpat pria tersebut.


"Padahal, aku lebih dari segalanya dari pria gemulai itu. Aku pasti bisa mendapatkanmu!" Geram pria itu, sembari memegangi pipinya yang masih teras sangat sakit.


*


*


*


Perjalanan menuju rumah Ayah Bondan hanya memerlukan waktu dua puluh menit. Beruntung saja Bondan belum berangkat kebengkel saat keduanya itu sampai dirumah minimalis itu.


"Ayah..." Seru Fika saat turun dari dalam mobil, langsung berlari dan memeluk punggung Ayahnya.


Bondan yang sedang mengganti ban motornya di depna rumah, sampai terkejut dan hampir terjungkal kedepan jika dirinya tidak menahan keseimbangan.


"Dasar anak nakal, kenapa baru sekarang mengunjungi Ayah? Apa kamu sudah melupakan Ayahmu yang sudah tua ini, Hem?" Ucap Bondan sedikit kesal.


"He he hee, maaf Yah." Ucap Fika, lalu melepaskan pelukannya.


Ema hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, saat melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.


"Apa kabar, Yah." Sapa Ema, kepada Bondan dan mengulurkan tangannya berniat untuk mencium punggung tangan Ayah mertuanya itu.


"Baik, seperti yang kamu lihat." Bondan mengusapkan telapak tangannya yang kotor itu kecelana pendeknya kemudian menjabat tangan Ema dengan kuat, membuat Ema meringis kesakitan.


"Kalian memang klop ya! Sudah tidak ingat orang tua ya." Kesal Bondan, lalu melepaskan jabatan tangannya.


"Ayo masuk." Bondan masuk kedalam rumah lebih dulu, untuk membersihkan dirinya dulu.


Sedangkan Ema langsung mengibaskan telapak tangannya berulang kali, saat Ayah mertuanya sudah tidak terlihat.


"Maafkan Ayah ya, Sayang." Ucap Fika, lalu menggandeng tangan suaminya dan masuk kedalam rumah.


Setelah selesai membersihkan diri, Bondan kini berkumpul di Ruang keluarga bersama anak dan menantunya.


"Bagaimana enak tidak berumah tangga?" Tanya Bondan.


"Enak banget, Yah. Bisa bobo bareng, mau makan ada yang melayani, mau mandi juga bajuku di siapkan sama istriku yang cantik ini." Jawab Ema sedikit usil, membuat Bondan mendengus kesal dan menatap tajam menantunya itu.



Ayahh love you😚


Jangan lupa kasih dukungannya ya, tekan favorit, like, komentar, vote dan kasih Gift,,


Makasihh buat kalian semua yang udah doain emak gesrek ini, alhamdulillah ya Emak udah pulih dan bisa beraktifitas seperti biasa.. maaf ya tidak bisa balas komentar kalian satu persatu, love you all...🤗🤗