
Di perjalanan pulang kerumah, baik Fika dan Ema sejak tadi terus mengembangkan senyuman di bibir masing-masing.
"Kamu bahagia sayang?" Tanya Ema menoleh sesaat kearah istrinya, karena saat ini dirinya sedang fokus menyetir mobil.
"Sangat, aku sangat bahagia. Tapi, aku hanya takut jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik nanti." Jawab Fika, sekaligus mengutarakan isi hatinya.
"Jujur aku juga merasa takut sama seperti yang kamu rasakan, apalagi dengan kondisi fisikku yang gemulai seperti ini, membuatku semakin takut dan tidak percaya diri." Ucap Ema, membuat Fika terhenyak namun hanya sesaat, kemudian Fika menyenderkan kepalanya di bahu suaminya, sembari berkata. "Kamu adalah pria dan suami yang baik dan aku yakin jika kamu akan menjadi Ayah yang baik untuk anak kita nanti." Ucap Fika memberi semangat kepada suaminya.
CUP
Ema mengecup kepala istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Semoga aku bisa menjadi yang terbaik untuk kamu dan anak kita nanti." Ucap Ema, mengelus pucuk kepala istrinya dengan tangan kanannya.
"Kamu akan selalu menjadi yang terbaik, sayang." Jawab Fika, mengulas senyum.
"Dan kamu juga wanita yang sangat baik, kuat, sabar, penyayang, cantik dan kamu juga pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Percayalah." Balas Ema, bergantian memberi semangat untuk istrinya.
"Terimakasih, Sayang." Ucap Fika, kemudian ia menegakkan kepalanya dan ia menoleh kearah suaminya, selanjutnya ia mencium pipi Ema sekilas.
"OWH, kamu ingin menggodaku ya." Ema sedikit terkejut saat Fika mencium pipinya.
"Ih, siapa yang mau menggodamu? Memang salah kalau aku mencium suamiku sendiri?" Balas Fika, mengerucutkan bibirnya sebal.
"Nggak salah sih, tapi ciuman kamu membuat si elang tersetrum." Jawab Ema tergelak, dan membuat Fika berdecak kesal.
"Mesum!" Sungut Fika.
"Ingat kata dokter tadi, kalau tidak boleh berhubungan dulu." Lanjut Fika.
"Boleh, tapi jangan terlalu sering dan si elang tidak boleh muntah di dalam terowongannya." Ralat Ema, melirik istrinya sembari terkekeh geli.
"Ck! Kenapa kamu jadi mesum begitu sih!" Omel Fika, sedangkan Ema langsung mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Karena aku cinta banget sama kamu." Jawab Ema, tersenyum manis dan menatap istrinya sekilas.
Duh, ganteng banget, Bang, kalau lagi senyum begitu. Batin Fika meronta, saat melihat senyum manis suaminya.
"Cinta apa nafssu?" Tanya Fika.
Ada rasa bangga di dalam hati Fika, karena hanya dirinya saja yang mampu membuat suaminya itu bernafssu.
"Itu berarti si elang pintar karena tahu kemana dia harus pulang." Jawab Fika, membuat Ema tergelak keras.
"Ya ampun, kamu lucu banget sih." Ema sangat gemas dengan istri kecilnya itu.
"Boleh makan kamu sekarang, nggak sih? Pengen nih." Ucap Ema, lalu mencubit gemas pipi Fika dengan tangan kirinya.
"Dasar maniak! Covernya saja gemulai, tapi kalau masalah ranjang saja kayak herkules." Cibir Fika, dan mencebikkan bibirnya kesal sembari mengelus pipinya yang baru saja di cubit oleh Ema.
Emanuel tergelak keras saat mendengar ucapan istrinya.
*
*
*
*
Perjalanan Fika dan Ema di selingi dengan canda tawa dan juga cibiran. Tidak terasa, mobil yang di kendari Ema, kini sudah sampai di depan rumah mewahnya.
Fika dan Ema, di buat terkejut saat melihat Bondan dan Rima sudah sampai lebih dulu disana. Dan kedua orang itu terlihat menunggu kedatangan pemilik rumah.
"Ayah, Mami? Kok ada disini?" Tanya Ema, penuh keheranan. Kemudian Ema keluar dari dalam mobil lalu berjalan mengitari depan mobil menuju pintu sebelahnya, dan selanjutnya ia membuka 'kan pintu mobil tersebut untuk istrinya.
"Iya, kami akan tinggal disini sampai Fika melahirkan." Jawab Bondan, sembari memperlihatkan senyumannya yang cerah, secerah sinar mentari yang menyinari bumi di pagi hari.
"Haahhhhhh?!" Pekik Fika dan Ema bersamaan.
Ha ha haa, apa yang terjadi selanjutnya eng ing eng😆
Emak minta dukungannya dan jangan lupa kasih like.
Please, likenya jangan lupa🥺
Mengesedih aku tuh, pembacanya banyak tapi likenya sedikit. Satu like dari kalian itu sangat berarti untuk Emak. 🙏