
Ema, tidak menghiraukan istrinya, kemudian ia berjalan mendekati Antoni dan berdiri di depan pria itu.
"Pilih hidup atau mati, setuju?" Ucap Antoni, dengan nada sombong dan menatap remeh, Ema.
"Ini keliru! Kenapa caranya jadi begini sih!" Fika, yang mendengar ucapan Antoni pun mendekat dan ingin menarik suaminya.
"Tunggu!" Ema, menepis tangan Fika yang menarik tangannya. "Apa aku tidak salah dengar? Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?" Tanya Ema, dengan wajah yang masih terlihat tenang.
"Tentu saja, memang kenapa? Kamu takut." Ucap Antoni, tersenyum miring.
"Aku tidak takut, hanya saja aku tidak ingin mengambil tindakan yang berlebihan agar tidak terlalu menyakiti lawanku." Jawab Ema, dengan tenang.
"Nue!!" Fika, ingin menarik tangan suaminya lagi, namun usahanya gagal karena Ema tidak goyah sama sekali.
"Diam dan menjaulah! Percaya kepadaku." Tegas Ema, dan meyakinkan istrinya.
"Baiklah, tapi jangan terluka." Ucap Fika, lalu menarik kerah baju Ema kemudian mengecup bibir seksih suaminya itu.
"Shitt!" Maki Antoni, saat melihat Fika mencium Ema didepan matanya.
Ema yang mendapat semangat dari istrinya itupun tersenyum senang dan melumaat bibir manis yang sudah menjadi candunya itu sesaat.
Masih sempet-sempetnya ya. 😆
"Terimakasih." Ucap Ema, dan diangguki Fika. Kemudian gadis itu mulai menjauh dan menyaksikan aksi duel itu dari kejauhan.
"Sekarang kamu tahu 'kan betapa cintanya dia sama aku." Ucap Ema, sembari mengusap bibirnya yang masih terasa basah.
"Cih, aku tidak peduli!!" Sentak Antoni, lalu maju dan memberikan tinju kepada Ema, namun sayangnya Ema cepat menghindar dan tinju itu pun meleset.
"Heh, tidak kena." Ledek Ema.
"Sialan!!!" Maki Antoni, kemudian ia menendang Ema, namun dengan cepat Ema menangkis kaki Antoni dengan kedua tanganya. Lalu Antoni menendang lagi tapi kali ini tendangannya itu mengenai perut Ema, hingga membuat Ema terbatuk.
Ema menegakkan badannya dan merenggangkan otot di tubuhnya, kemudian ia maju dan mulai melakukan serangan kepada Antoni itu. Dan aksi duel pun di mulai, keduanya terlihat imbang. Namun disini Ema terlihat tenang, berbeda dengan Antoni yang sudah tersulut Emosi dan menyerang Ema bertibu-tubi, tapi Ema pandai membaca pergerakan lawannya jadi ia bisa menghindar dengan cepat.
BUGH
BUGH
"Aku tidak ingin menyakiti lawanku, tapi aku rasa kamu pantas mendapatkannya!" Ucap Ema, dengan nafas yang terengah dan menepuk pipi Antoni yang sudah lebam itu.
"Sekarang aku yang bertanya, kamu pilih hidup atau mati!" Sentak Ema.
"Bunuh, bunuh saja aku!" Teriak Antoni, dengan nafas yang terengah dan salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Tapi, sayangnya tanganku terlalu berharga jika untuk membunuh manusia rendahan sepertimu!! Aku harap setelah ini kamu tidak mengganggu kehidupan istriku lagi!" Ucap Ema, dengan tegas membuat Antoni terkesiap.
"Apa istri?!"
"Ya dia adalah istriku!!" Sahut Ema, lalu beranjak meninggalkan Antoni yang masih terkapar di atas tanah sana. Kemudian Ema berjalan mendekati istrinya itu lalu memeluk istrinya yang sudah sesegukan.
"I'm oke." Bisik Ema, mengeratkan pelukkannya.
"Kamu membuatku takut." Balas Fika, di dalam pelukan Ema.
"Lihat wajah tampanmu menjadi buruk rupa." Fika mengurai pelukkannya lalu ia membelai wajah suaminya yang terlihat lebam.
"Hanya luka kecil." Jawab Ema terkekeh.
"Sok jagoan!!" Cibir Fika.
"Ayo kita pergi dari sini." Ucap Fika, lalu menarik tangan suaminya.
"Lalu bagaimana nasib si kunyit itu? Apa tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit." Ucap Ema, memohon kepada istrinya.
"Huh, baiklah." Fika menyetujui ucapan suaminya.
Nue udah jadi pejantan tangguh, walaupun masih sedikit gemulai🤭
Kasih dukunganya ya semampu kalian😘