Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Goll


Fika menatap Ema dengan rasa bersalah yang luar biasa dan sudah berulang kali Ia juga sudah meminta maaf namun sauminya itu seolah mendiamkannya.


"Sayang, sudah sih marahnya 'kan aku nggak sengaja." Rengek Fika, sembari melihat suaminya yang lahap memakan makan malamnya di meja makan.


Ema tidak menjawab melainkan ia hanya melirik sekilas istrinya dengan sebal.


"Ish, kamu gitu ya. Ya sudah kita coba lagi." Bujuk Fika.


Ema mengehela nafasnya kemudian ia meletakkan sendok yang ia pegang keatas piring lalu ia menatap istrinya dengan intens.


"Kamu nggak tahu rasanya jadi aku ya, sakit tahu rasanya apa lagi aku lagi on banget, tapi kamu tendang aku." Ucap Ema sedikit kesal.


"Iya maaf, maka dari itu kita coba lagi, yuk." Ajak Fika.


"Nggak! Nanti kamu tendang aku lagi." Tolak Ema.


"Ih, ya sudah besok-besok jangan minta ya!" Sungut Fika, lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan suaminya yang terlihat tercengang.


"Sayang, kok kamu marah sih? Kan seharusnya aku yang marah." Ucap Ema sedikit berteriak, kepada istrinya yang sudah menaiki anak tangga.


Ema segera beranjak dari duduknya dan mengejar istrinya.


"Ah, gawat! Belum juga Gol." Gerutu Ema, sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Yank?" Panggil Ema saat sudah ada di dalam kamar, dan ia melihat istrinya sudah sudah merebahkan diri diatas tempat tidur.


"Huh." Fika mendengus kesal lalu ia membelakangi suaminya yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


Ema menghembuskan nafasnya pelan, perlahan ia merebahkan diri di samping Fika dan ia langsung memeluk istrinya itu dari belakang.


"Minggir!!" Ketus Fika, dan sedikit menjauh dari suaminya, namun Ema menggeser tubuhnya dan merengkuh istrinya lagi.


"Ngambek ya?" Goda Ema.


"Nggak!" Jawab Fika ketus.


"Duh, istri aku cantik banget kalau ngambek begini." Ucap Ema, dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Dimana-mana kalau orang ngambek itu jelek." Jawab Fika.


"Oh gitu? ya sudah kamu jelek kalau ngambek gitu." Ralat Ema, sembari menahan senyumannya.


"Ya aku jelek!!" Ketus Fika, dan melepaskan tangan Ema yang melingkar di perutnya.


Ah, salah lagi. Nasib begini kalau nikah sama bocah. Batin Ema.


"Hem, bobo yuk." Ajak Ema, mengalihkan pembicaraan.


"Ini sudah bobo." Jawab Fika.


"Maksudnya, aku boboin kamu." Jelas Ema, lalu membalikan tubuh Istrinya dan segera menindihnya.


"Emmpp Nue!" Kesal Fika saat bibirnya di sambar oleh suaminya.


"Kenapa? Kita coba sekali lagi ya." Ucap Ema, menatap sayu istrinya, menandakan jika dirinya sudah sangat bergairah.


Fika nampak berfikir sejenak kemudian ia menganggukan kepalanya pelan.


"Benar? Tapi jangan tendang aku lagi ya." Ucap Ema dan diangguki Fika.


Ema tersenyum senang kemudian ia segera melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuh istrinya dan juga di tubuhnya, kini keduanya sudah polos tanpa sehelai benang.


"Milikmu indah sayang." Puji Ema, sembari meremat kedua bulatan kenyal itu bergantian dan salah satu tangannya menjalar kebagian inti istrinya dan bermain disana sejenak, membuat Fika melenguh dan mendesaah tak karuan.


Ema tersenyum senang saat melihat respon istrinya yang sangat menikmati permainannya.


"Ughh." Fika melenguh sampai membusungkan dadanya saat tangan suaminya sibuk bermain di bawah sana.


Ema begitu pandai mempermainkan tubuh istrinya, hingga istrinya itu mencapai pelepasan pertama. Kemudian Ema mencium bibir manis istrinya itu dengan lembut dan penuh cinta dan perlahan tangan kanannya menuntun senjatanya menuju lorong sempit itu.


"Tahan ya." Bisik Ema sensual, lalu ia menghujamkan senjatanya itu perlahan menuju lorong sempit itu.


"He'em. Sakit." Lirih Fika, dan dengan cepat Ema membungkam bibir manis itu lagi untuk mengalihkan rasa sakit yang mendera istrinya.


Dan dengan perlahan, penuh kesabaran dan kelembutan, Ema berhasil menjebol gawang itu dengan beberapa kali hentakkan.


"Iya sakit banget." Lirih Fika, dan di sambut senyuman oleh Ema.


"Aku pikir tidak akan muat." Ucap Fika polos.


"Kan elastis." Jawab Ema, lalu menggerakkan pinggulnya perlahan.


"Sshhh." Ema mendesis seperti ular saat ia merasakan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.


"I love you." Bisik Ema.


"I Love You, Too." Balas Fika, kemudian bibir keduanya itu saling bertaut dan saling membelit lidah di sela aktifitasnya yang mengenakan itu.


Ema mempercepat gerakan pinggulnya, saat Fika sudah tidak merasa kesakitan lagi.


"Ah ah." Desaah Fika, saat gelombang kenikmatan itu mulai menghantam dirinya.


Dan beberapa saat kemudian hanya terdengar lenguhan dan ******* bersahutan di setiap sudut kamar itu, dan kata-kata cinta pun terus terucap dari bibir Ema di sela aktifitasnya. Hingga keduanya itu sampai pelepasan bersama dan tidak lupa Ema membuang pasukan kecebongnya di atas perut istrinya.


"Ah, terimakasih sayang." Ucap Ema dan mengecup seluruh wajah istrinya.


"Aku lelah." Ucap Fika, sembari memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang masih memburu.


Ema melepaskan penyatuannya lalu ia menggulingkan badannya kesamping istrinya, kemudian ia mengambil beberapa lembar tissue diatas nakas untuk membersihkan sesuatu yang ada di atas perut istrinya, setelah itu ia menggulung tissue yang sudah kotor itu dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di kamar itu.


"Sayang, antar aku kekamar mandi." Ucap Fika, kepada Suaminya yang sudah memeluknya dari samping.


"Mau apa? Sudah malam, besok saja mandinya." Jawab Ema.


"Aku tidak nyaman, rasanya tubuhku sangat lengket." Jelas Fika, menatap wajah tampan suaminya dari samping.


Ema menganggukan kepalanya mengerti, kemudian ia segera menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi dan mendudukan istrinya itu diatas Closet.


"Badannya di lap saja ya." Ucap Ema dan diangguki Fika.


Kemudian Ema mengambil kain washlap yang ada di rak kamar mandi itu lalu membasahi kain itu dengan air hangat, lalu Ema mengelap tubuh istrinya dengan telaten dan sesekali juga ia memainkan bulatan kenyal itu membuat Fika kesal tapi ia juga tidak menolak.


"Jangan lagi, punyaku masih sakit." Lirih Fika, saat melihat senjata suaminya sudah tegak kembali.


"Nggak kok, lagian aku juga tidak tega melakukannya lagi." Ucap Ema, menatap istrinya itu dengan lembut.


"Sudah selesai." Ucap Ema, lalu mematikan air hangat itu dan melemparkan washlap itu ke dalam keranjang baju kotor.


"Terimakasih sayang." Ucap Fika, lalu mengusap jambang suaminya dengan lembut dan mengecup bibir suaminya sekilas.


"Hem, jangan mancing deh." Ema menggoda istrinya.


"Ih nggak, itu bayaran buat kamu karena sudah telaten mengelap tubuhku." Jelas Fika dengan wajah yang sudah bersemu merah, membuat Ema tergelak karena wajah istrinya saat ini terlihat sangat menggemaskan.


Kemudian Ema menggendong istrinya keluar dari kamar mandi dan menuju tempat tidur.


"Sperinya kotor." Ucap Fika, saat melihat bercak darah disana. Lalu Ema menurunkan Fika diatas sofa yang ada di dalam kamar itu, kemudian Ia mengganti sprei itu dengan yang baru.


Setelah selesai mengganti Sprei, Ema menggendong istrinya lagi menuju tempat tidur dan merebahkannya perlahan di sana, begitu pula dirinya ikut merebahkan diri disamping Fika.


"Nggak pakai baju?" Tanya Fika, karena saat ini ia dan suaminya masih polos.


"Tidak perlu, karena tidur tanpa mengenakan pakaian itu bagus untuk kesehatan." Ucap Ema.


"Modus!!!" Kesal Fika.


"Diamlah, aku ingin jadi bayi malam ini." Ucap Ema, lalu memiringkan tubuh istrinya dan melakukan hal yang ia inginkan yaitu menjadi bayi besar.


"Ah, Nue!!"


Jangan pada Protes kalau kurang Hot!!!


Kalau mau lebih Hot lagi bacanya di samping pasangan halal kalian atau bacanya diatas kompor, auto hott jeletott level 10. 😆


Dukungannya ya gaes,,,


Maaf ya baru update karena emak lagi dilanda gejala Tifus, ini aja di paksain ngetik buat kalian semua 😘