Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Gagal 2


Fika menatap dirinya dipantulan cermin meja rias di depannya. Ia bergidik ngeri sendiri saat melihat bayangannya di cermin sana.


"Hih, kok aku geli sama diri aku sendiri. Rasanya aneh kayak nggak pakai baju." Gerutu Fika, sembari menutupi asetnya dengan kedua tangannya.


Baju kayak gini, masa iya bisa bikin senang suami? Batin Fika heran.


"Hebatnya apa coba baju ini? Mirip saringan tahu iya. Ya ampun bisa-bisa aku masuk angin kalau pakai baju ini terus." Gerutu Fika lagi, lalu berjalan menuju tempat tidur dan menggulung tubuhnya dengan selimut.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Ema tengah berendam di dalam bathup sembari membayangkan istrinya yang memakai lingerie seksih.


"Pasti dia sangat seksih sekali, pokoknya malam ini tidak boleh gagal." Gumam Ema, lalu beranjak dari dalam bathup dan membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Ia sudah tidak sabar untuk membuka segel istrinya.


Setelah itu ia keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, walaupun perutnya tidak kotak-kotak seperti roti sobek dan ada sedikit timbunan lemak disana, namun tubuhnya tetap terlihat menggoda bagi para kaum hawa yang melihatnya, termasuk istrinya sendiri.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka, Fika yang mendengarnya pun menoleh, matanya membola saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Kemudian Fika segera menenggelamkan dirinya kedalam selimut.


"Yank?" Panggil Ema, saat melihat istrinya bertingkah menggemaskan.


Pahit... Pahit... Batin Fika.


"Kamu sudah tidur ya?" Tanya Ema lagi, namun tidak ada jawaban dari istrinya.


"Aku lapar loh, belum makan malam." Ema berjalan mendekati istrinya dan mengguncang tubuh istrinya, namun tetap saja tidak ada pergerakan dari Fika.


Padahal dibalik selimut Fika tengah dilanda rasa gugup yang luar biasa.


Aduh, bagaimana ini? Mana dia belum makan malam 'kan kasihan. Batin Fika.


"Makan sendiri ya, tadi sore aku sudah masak tinggal menghangatkan saja sayurnya." Ucap Fika, sedikit menyembulkan kepalanya di balik selimut.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Ema heran, kemudian ia berjalan menuju lemari dan segera mengambil pakaiannya lalu mengenakannya di hadapan Fika.


"Kamu bisa nggak sih, pakai bajunya di kamar mandi!" Kesal Fika, dengan wajah yang bersemu merah.


"Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah lihat satu sama lain, kamu lupa ya?" Ucap Ema ringan.


Kenapa katanya? Ini ada anak perawan Woy!! Kesal Fika dalam hati.


Setelah selesai memakai pakaiannya, Ema berjalan mendekati istrinya yang masih bergelung selimut.


"Ayo buruan, aku sudah laper banget loh." Ucap Ema.


"Kan aku sudah bilang, kamu makan sendiri saja." Tolak Fika dan semakin mengeratkan selimutnya.


"Nggak, jadi istri itu harus melayani suami, apalagi suamimu baru pulang cari nafkah loh." Kesal Ema lalu ia menarik selimut istrinya dengan paksa.


"NUE!!!!" Kesal Fika, saat selimut yang membungkus tubuhnya kini sudah terhempas keatas lantai.


Dengan cepat Fika langsung mendudukan diri dan menutupi asetnya yang terpampang itu dengan kedua tangannya.


Mata Ema menerjab berulang kali saat melihat kemolekan tubuh istrinya itu. Apalagi suatu keindahan di balik lengerie berwarna hitam itu membuat Ema sampai meneteskan liurnya.


"Dasar Omes!" Umpat Fika, dan melemparkan bantal kearah suaminya. Beruntung Ema langsung menghindar jadi bantal tersebut tidak mengenainya.


"Uh! kamu mau menggodaku ya?" Ema menaik turunkan alisnya dan menatap istrinya dengan mesum.


Menggodanya? Bukankah dia sendiri yang memintaku untuk memakai baju haram ini. Batin Fika kesal.


"Tapi kamu seksih sekali, sayang. Aku suka." Ucap Ema, mulai merangkak naik keatas tempat tidur.


"Kamu mau apa?" Tanya Fika gugup, dan ia memundurkan tubuhnya saat Ema semakin mendekat.


"Tentu saja, mau menyantap menu makan malamku." Ucap Ema, lalu menarik kedua kaki Fika hingga membuat istrinya itu terlentang diatas tempat tidur dan ia segera menindih tubuh istrinya itu.


"Kamu sangat cantik dan seksih sekali." Bisik Ema sensual, sembari mengulus pipi Fika dengan jari nakalnya.


"Aku mencintaimu, jadi ijinkan aku untuk memilikimu seutuhnya malam ini." Bisik Ema lembut, dan menatap istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


"Tapi aku takut jika hamil." Ucap Fika jujur.


"Nanti aku akan membuangnya keluar." Jawab Ema, membuat Fika bertanya-tanya.


"Membuangnya keluar? Apa yang dibuang?" Tanya Fika polos.


"Ya itu pokoknya." Jawab Ema, karena tidak mungkin ia menjelaskan dengan detail.


Kemudian Ema segera membungkam bibir istrinya itu dengan lembut dan dalam, membuat Fika terkejut namun ia juga membalas setiap pagutan yangh diberikan suaminya.


"Eughh." Fika melenguh disela ciumannya, saat tangan nakal itu meremat dua bulatan kenyal miliknya bergantian.


"Sayang, aku buka ya bajunya." Ucap Ema dan diangguki Fika.


"Asikk." Ucap Ema girang, lalu melepaskan seluruh pakaiannya dan juga milik istrinya, hingga keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benang.


"Kamu cantik sekali."


"Kamu juga tampan." Balas Fika malu-malu, dan entah siapa yang memulai bibir keduanya kini sudah saling menyosor dan saling membelit lidah.


Ema yang sudah berbekal ilmu dari buku paduan Oma airin dan Tips dari Ruri, kini ia lebih pandai mempermainkan tubuh istrinya, hingga membuat istrinya itu tiak berhenti mendesaah.


"Nue, aku mau pipis." Racau Fika, saat suaminya itu bermain dibawah sana.


"Keluarkan sayang." Ucap Ema serak, dan ia segera menindih tubuh istrinya lagi dengan tangan yang masih bermain lincah di bagian bawah istrinya, hingga Fika sampai pelepasan pertamanya.


Ema mencium bibir istrinya dengan panas dan penuh bergairah. Dan tangan kanannya menuntun senjatanya menuju lorong sempit itu.


Fika melepaskan ciuman panas itu saat ia merasakan kesakitan yang luar biasa di bawah sana.


"Nue sakit!" Pekik Fika, dan mendorong dada bidang itu agar suaminya menjauhkan senjatanya.


"Tahan sebentar lagi sayang. Please." Mohon Ema.


"Tapi ini sangat sakit, hiks lepaskan tolong ini sangat sakit." Pinta Fika dengan berderai air mata.


"Sedikit lagi." Ucap Ema, lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan pelan hingga membuat Fika menjerit kesakitan.


"Arghh sakitt!!!." Rintih Fika, hingga dirinya meronta dan tanpa sadar ia mendang perut suaminya hingga terjerembab diatas lantai.


BUGH


"Awww." Ringis Ema saat dirinya ditendang oleh istrinya.


"Oh astaga, sayang. Maaf." Pekik Fika, lalu turun dari atas tempat tidur dengan susah payah dan membantu Ema berdiri.


"Kamu sangat keterlaluan." Kesal Ema, sambil memegangi perutnya.


"Lagian aku sudah bilang sakit, tapi kamu tidak mendengarkan." Ucap Fika tak mau disalahkan.


Kemudian Ema berdiri dari lantai di bantu oleh Fika.


"Maaf, ayo kita coba lagi." Ajak Fika.


"Tapi, kenapa milikmu jadi kecil?" Tanya Fika polos, membuat Ema mendengus kesal.


Ampun, pengen ngakak aja sama kelakuan mereka berdua itu.


Adegan Pemersatu bangsanya gagal lagi, tapi next insya allah nggak gagal lagi kok. 🤭


Kasih dukungannya yuk dengan cara tekan favorit, like, vote, komentar dan gift seikhlasnya ya. 😘