
"Kamu benar kita tidak mungkin bisa bersama, tapi apakah bisa jika kita mengulangi kenangan indah yang dulu pernah kita ciptakan bersama?" Tanya Bondan, sembari menatap bibir pink itu dengan rasa ingin memiliki.
"Bon." Lirih Rima, dan menggeleng pelan.
Bondan tersenyum tipis saat melihat penolakan dari Rima, tapi kemudian ia semakin memajukan wajahnya dan menarik pingang ramping Rima. Dan kini tubuh keduanya sudah berdekatan tanpa jarak.
"Kamu yakin tidak ingin mengulangi kenangan indah kita?" Bondan berkata dengan pelan, sembari mengusap pipi Rima dengan sangat lembut.
"Tidak." Jawab Rima, sambil memejamkan matanya saat jari-jari itu masih mengelus pipinya dengan sangat lembut, membuat darah Rima berdesir dan jantungnya semakin berdetak tidak karuan.
Rasa ini sangat sulit untuk aku kendalikan. Dia yang selalu ada di dalam hatiku sejak dulu hingga saat ini. Tuhan, maafkan aku, maafkan aku. Batin Rima, semakin memejamkan matanya dengan erat, ketika tangan Bondan kini sudah berada di tengkuknya.
Bondan tersenyum penuh arti, saat ia melihat Rima memejamkan mata dengan erat. Kemudian Bondan menekan tengkuk Rima, lalu ia memiringkan wajahnya dan,
CUP
Bondan melabuhkan ciuman di permukaan bibir Rima yang manis itu. Bondan langsung memejamkan matanya, untuk meresapi dan menikmati bibir manis itu.
Rima langsung membuka matanya, saat ia merasakan benda kenyal itu mendarat di bibirnya dan jantungnya kini semakin berdetak sangat cepat, bahkan tubuhnya kini menegang kaku, tapi ia juga tidak kuasa untuk menolak.
Hanya sesaat kecupan singkat itu kini sudah terlepas. Bondan menatap lembut wajah cantik yang ada di haadapannya itu, kemudian ia tersenyum dan begitu pula Rima ikut tersenyum lembut.
Lalu Bondan memajukan wajahnya lagi, dan mengecup kembali bibir Rima dengan lembut namun kali ini di selingi dengan sesapan dan lumaatan kecil.
Sebagai single parent yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan, tentu saja hal itu membuat keduanya kini di selimuti gairah yang membara.
Rima kini mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh itu, begitu pula Bondan semakin menekan tengkuk Rima dan salah satu tangannya berada di pinggang Rima. Keduanya kini berciuman sangat panas, saling memanggut, membelit lidah dan menyalurkan rasa rindu, cinta yang selama ini terpendam.
Beruntung kondisi taman tersebut sangat sepi dan entah kebetulan atau keberuntungan, tiba-tiba di wilayah tersebut padam listrik hingga membuat wilayah tersebut gelap gulita, termasuk di taman kota tersebut.
Cuaca yang mendukung di tambah suasana yang gelap gulita, membuat kedua insan itu semakin panas dalam menyalurkan nafsuu dan gairahnya.
Terdengar lenguhan lenguhan kecil dari bibir sang wanita, hingga membuat sang prianya semakin bernasfsuu.
"Tidak, aku hanya ingin mencicipinya saja." jawab Bondan, lalu melanjutkan aktifitasnya.
"Bon, gelap." Bisik Rima lagi.
"Justru yang gelap itu yang enak." Jawab Bondan, membuat Rima mendengus kesal.
"Sudah ku bilang jangan di gigit." Rima memukul pundak Bondan pelan.
"Tapi, kamu suka, kan? dan ini masih sangat kencang." Ucap Bondan dengan suara seraknya.
"Bon,, eughh." Suara lenguhan itu terdengar sangat lirih saat sang pria mempermainkan tubuhnya.
"Cukup Bon, ini sudah di luar batas." Ucap Rima, lalu sedikit mendorong tubuh kekar itu agar menjauh namun usahanya sia-sia. Karena Bondan sepertinya sudah di selimuti gairah.
"Bon, please. Hentikan semua ini." Pinta Rima dengan sangat, saat ia merasakan sesuatu yang dingin namun hangat menempel di area dadanya.
"Aku menginginkanmu!" Bisik Bondan.
Aduh please jangan Ayah..š
Aku ngetiknya sambil ngatur nafas yang sudah kembang kempis.
Tarik nafas,,, hembuskan.
Kasih dukungannya ya semampu kalianš
Btw makasih buat para kesayanganku semuanya yang sudah memberikan dukungan. Love kalian sekebun singkongā¤