
Emanuel menyeringai licik, kemudian ia berjalan masuk kedalam kamar tersebut. Matanya memandang di setiap sudut kamar itu.
Sedangkan Bondan sudah dilanda rasa gugup yang luar biasa, dan ia berdoa dalam hati agar menantunya itu tidak memasuki kamar mandi.
Ema berjalan menuju arah lemari dan membuka lemari tersebut, tapi ia tidak melihat apapun disana kecuali beberapa pakaian yang menggantung di dalm lemari tersebut, dan selanjutnya Ema mengecek seluruh kamar tersebut dan hasilnya ia tidak menemukan apa-apa. Tapi, kali ini matanya tertuju kearah tempat tidur yang terlihat berantakan, kemudian ia berjalan menuju tempat tidur tersebut dan menarik selimut tebal yang ada disana.
Sial! Dibalik selimut itu 'kan ada sisa susu yang muncr*t tadi. Bondan mengumpati dirinya sendiri, sembari mengusap wajahnya yang terlihat gelisah itu.
Sedangkan di dalam kamar mandi, jantung Rima berdetak sangat cepat ketika ia mendengar suara putranya, yang sedang mengecek kamar itu.
Aduh, bagaimana ini? Indara penciuman Nue 'kan seperti kucing yang sedang mencari ikan asin. Batin Rima sangat takut.
Emanuel menatap sesuatu diatas tempat tidur itu dengan lekat, alisnya mengkerut dan kepalanya menggeleng pelan.
"Sudah berapa kali kalian melakukannya?" tanya Ema, membuat Bondan berjengit kaget.
"Apa? Melakukan apa?" tanya Bondan balik, dengan suara yang sudah sangat gugup.
"Baik, kalau Ayah tidak mau menjawab. Aku akan mencari tahunya sendiri!" ucap Ema dengan nada tegas dan menatap tajam Ayah mertuanya itu. Kemudian Ema berjalan kearah kamar mandi dan membuka kamar mandi itu dengan kasar dan memasuki kamar mandi itu dengan langkah cepat dan matanya terbelalak saat melihat ibunya sedang berada di sudut kamar mandi itu.
"Mami!!" pekik Ema. "Apa yang Mami lakukan disini?" Ternyata dugaannya benar, jika Bondan dan Rima sudah mencuri start lebih dulu.
Awas saja kalian ya!. umpat Ema dalam hati.
"He he hee, ini Mami sedang membersihkan kamar mandi. Ya ampun, lihat ini kotor sekali dan licin," ucap Rima tertawa hambar dan melanjutkan aktifitasnya yaitu menyikat lantai kamar mandi.
"Kalau itu aku tahu, yang aku tanyakan kenapa Mami berada di kamar ayah?" tanya Ema geram.
Gleg
Rima menelan ludahnya dengan kasar, ketika mendengar suara kemarahan putranya.
"Iya ya, kenapa Mami bisa ada disini? Ya ampun, aku ini bodoh sekali, ha ha haa." Rima tertawa hambar, kemudian berdiri lalu melemparkan sikat kamar mandi yang ia pegang ke sembarang arah.
Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menggeleng pelan ketika melihat tingkah konyol ibunya yang tertangkap basah.
"Sudah ketahuan masih saja mengelak!" sindir Ema dengan nada pedas, membuat Rima kehabisan kata-kata.
"Keluar kalian!" teriak Ema dengan nada yang mengerikan. Membuat kedua orang itu terkesiap dan mau tidak mau Bondan dan Rima keluar dari kamar tersebut.
*
*
*
Dan disinilah saat ini Rima dan Bondan berada, duduk di ruang tamu dengan keadaan kepala yang tertunduk, sedangkan Fika dan Ema menatap tajam kedua orang tua yang duduk di hadapannya itu, sembari menyilangkan kedua tanganya didada. Rima dan Bondan sudah seperti terdakwa kasus pencurian yang akan di adili di oleh hakim. Ema dan Fika sangat kecewa dengan orang tuanya karena melakukan hal diluar batas, maka dari itu Ema langsung bertindak cepat tanpa sepengetahuan mereka.
"Ck, ck, ck, ck. Memalukan, tidak ingat umur dan sebentar lagi akan punya cucu? Tingkah kalian ini sudah seperti pasangan ABG!" ucap Ema dengan nada sinis dan menyindir kedua orang itu.
"Maaf," cicit Rima.
"Aku akan segera menikahi ibumu," ucap Bondan, menegakkan kepalanya dan menatap Anak dan menantunya itu bergantian.
"Baru akan, kan?" tanya Ema dengan sinis dan menatap tajam Ayah mertuanya.
"Aku maunya secepatnya! Ayah ini bikin malu saja," kesal Fika dan melempari Ayahnya dengan bantal sofa.
'"Iya, maaf, Ayah khilaf." ucap Bondan, tapi ia tidak menyesali perbuatannya karena dengan terjadinya kejadian ini, ia bisa menikahi Rima secepatnya agar tidak ada kekhilafan yang lainnya.
"Sayang, jangan emosi ya," ucap Ema,berusaha menenangkan istrinya sembari mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Inhale, exhale," titah Ema kepada istrinya, dan Fika pun menurut dan melakukannya berulang kali, sampai ia benar-benar rileks
Setelah Fika rileks dan terlihat lebih tenang, mereka meneruskan pembicaraan mereka yang tertunda.
"Sekarang semua keputusan ada di tanganku! Kalian mau setuju atau tidak, ini sudah mutlak dan tidak boleh ditawar!" ucap Ema dengan tegas dan menatap tajam kedua orang yang ada di hadapannya itu.
Rima menghembuskan nafasnya dengan pelan, dan ia sudah pasrah dengan keputusan putranya itu.
"Tunggu mereka sebentar lagi datang," ucap Ema, sembari menatap pintu rumah tersebut.
"Mereka siapa?" tanya ketiga itu bersamaan.
"Nanti kalian juga akan tahu," jawab Ema menyeringai licik, membuat Rima dan Fika bergidik ngeri.
Dan benar saja tidak berselang lama ada dua orang pria memakai pakaian Formal memasuki rumah tersebut.
Kemudian Ema mempersilahkan ke dua pria yang sudah terlihat berumur itu duduk di ruang tamu, tidak lupa Ema juga membuatkan minuman untuk tamunya itu.
"Jadi siapa yang akan menikah?" tanya salah satu pria yang berbadan tambun dan berkulit hitam.
"Hah? Menikah?" pekik Fika, Rima dan Bondan bersamaan.
"Iya, ini calonnya pak," ucap Ema dengan sopan dan menunjuk Rima dan Bondan.
"Tapi sebelum itu, kami ingin menjelaskan status kami yang rumit. Ini adalah istri saya dan ini adalah Ayah mertua saya, apa boleh kalau sesama besan menikah?" tanya Ema dengan sangat sopan dan menjelaskan silsilah keluarganya yang menjadi sangat rumit.
Ke dua pria itu menganggukkan kepalanya berulang kali dan mengerti dengan penjelasan Ema.
"Tentu saja boleh," jawab pria bertubuh tambun itu, kemudian ia menjelaskan secara detail. Ke empat orang itu bernafas lega ketika mendengar penjelasan tersebut.
"Ayo sekarang kalian harus segera mengucapkan janji suci, agar kalian bisa bebas melakukan apa saja," ledek Pria itu, sembari menatap leher Rima yang di penuhi jejak merah.
"Tapi berkas-berkasnya?" tanya Bondan, kepada pria bertubuh tambun itu.
"Sudah aku urus semuanya," jawab Ema, membuat Bondan mengernyit heran.
"Bagaimana bisa?" tanya Rima juga heran dengan anaknya.
"Tentu saja bisa, karena aku mempunyai pintu ajaib," jawab Ema tergelak keras.
Sedangkan Bondan mendengus kesal ketika mendengar jawaban menantunya, tapi ia juga bahagia karena Rima sebentar lagi akan menjadi istri SAH nya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Kawinnnnnn, Yes. Batin Bondan bersorak bahagia.
"Jangan senang dulu! Jika kalian sudah menikah kalian harus tinggal terpisah selama satu bulan, sebagai hukuman untuk kalian berdua!" ucap Ema dengan tegas.
"Apaa!!!"
Rasakan! Biar mleyot yuh Si burung garuda, masih untung aku tidak memotong burungmu. Batin Ema dan menatap tajam Ayah mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi Ayah tirinya.😅
Menantu lucknut! Aku akan membalasmu dengan jurus naruto! Sungut Bondan dalam hati, dan membalas tatapan tajam menantunya.
Kasih dukungannya ya, jangan lupa like, vote, favorite, komentar dan kasih gift semampu kalian ya.
Happy weekend😘