Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Pelet cinta


Setelah mengantarkan istrinya, Ema langsung mengemudikan mobilnya menuju Hotel mewahnya dan tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di hotel tersebut dan ia segera memasuki ruang meeting karena kliennya sudah menunggu disana.


"Selamat pagi." Sapa Ema, dengan ramah dan segera menduduki kursi kebesarannya yang ada di ruang meeting tersebut.


"Pagi, pak." Jawab Klien dan Ruri bersamaa.


Kliennya memandang Ema dengan tatapan kagum.


Duh, ganteng banget ya. Batin wanita tersebut.


"Ruri, mana materinya." Pinta Ema, kepada Ruri, dan dengan sigap Ruri memberikan Map berwarna biru kepada Ema.


"Sebelumnya saya minta maaf ya, Bu. Karena meetingnya harus tertunda." Ucap Ema, kepada Kliennya dan tersenyum manis.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa, Panggil saya Hilda saja." Balas Hilda, tersenyum lembut.


"Oke, Hilda." Jawab Ema, kemudian meeting pun di mulai.


"Jadi, banyak keuntungan yang akan Ibu dapatkan jika bekerja sama dengan hotel kami." Ucap Ema kemudian menjelaskan keuntungan lainnya dengan jelas.


"Iya, Pak. Saya setuju sekali." Jawab Hilda, dan menatap kagum Ema.


"Ehem." Ruri berdehem keras, saat melihat Hilda menatap Bosnya dengan penuh kekaguman.


Hilda yang mendengar suara Ruri, langsung mengalihkan pemandangannya.


"Oke, jadi saya harap kedepannya kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik." Ucap Ema, sembari menyerahkan kontrak kerja sama kepada Hilda.


"Tentu saja, Pak." Ucap Hilda tersenyum senang, sembari menandatangani kontrak kerja sama tersebut dan menyerahkannya lagi kepada Ema.


"Terimakasih." Ucap Ema.


"Sama-sama, Pak. Saya juga berterimakasih." Ucap Hilda tersenyum lembut menatap Ema.


Kemudian mereka bertiga mengobrol sejenak, sebelum mengakhiri meeting.


"Pak Nue, sudah punya pacar belum?" Tanya Hilda, dengan tak tahu malu.


Bibit pelakor. Batin Ruri.


Dasar Buaya empang! Mentang-mentang sudah jadi tulen. Maki Ruri dalam hati.


"Aku boleh daftar dong jadi pacar Pak Nue." Ucap Hilda, tersenyum manis.


"Aku memang tidak punya pacar, tapi aku sudah mempunyai istri, jadi maaf ya Hilda, anda kurang beruntung." Jawab Ema, menampilkan senyuman manisnya.


Ruri tercengang saat ia mendengar pengakuan Ema, apalagi saat ia melihat wajah Hilda yang terlihat syok dan frustasi, membuat Ruri ingin meledakkan tawanya dengan keras.


"Ah, sudah ada yang punya ya. Hatiku terpotek." Ucap Hilda, diselingi tawa garing.


"Masih pengantin baru dia, dan istrinya juga masih bocil." Ucap Ruri, semakin memanasi telinga Hilda.


"Yang bocil itu yang seger." Jawab Ema tergelak, membuat telinga Hilda semakin panas.


"Sepertinya, saya harus undur diri, Pak." Hilda beranjak dari duduknya, kemudian Ema dan Ruri pun mengikuti kemudian mereka bertiga berjabat tangan dan mengucapkan terimakasih.


"Ha ha ha, anjay gila lo ya!" Ruri tertawa terbahak, saat Hilda sudah keluar dari ruangan meeting.


"Lagian gatel, dari awal gelagatnya juga sudah aneh." Ucap Ema, masih tergelak.


"Salut deh, sama lo yang berhasil menghempaskan bibit pelakor." Ucap Ruri, bangga dengan teman sekaligus bosnya itu.


"Yups, lagian si elang bangunnya sama Fika saja." Ucap Ema, mmebuat Ruri menggelengkan kepalanya bertanda jika ia tidak percaya dengan ucapan Ema.


"Serius! Hanya Fika yang mampu membangunkan si Elang." Ucap Ema dengan serius.


"Hebat ya. Pakai pelet apa, bini lo itu?" Tanya Ruri dengan keheranan.


"Yang jelas, pakai pelet cinta." Jawab Ema, terkekeh.


"Dasar bucin!!"


Sudah bucin akut bosmu itu, Ruri.😁


Jangan lupa kasih dukungannya semampu kalian aja. 😘