
Jika di kamar utama sedang terjadi adegan yang enak-enak, berbeda dengan situasi di lantai bawah tepatnya di ruang makan sedang terjadi perang dingin antara Bondan dan Rima.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" Kesal Rima, sembari menatap tajam Bondan. Bagaimana tidak kesal? Jika Bondan mengeklaim dirinya di depan semua pria yang menatapnya saat akan pulang dari rumah sakit. Menurut Rima, sikap Bondan sangatlah berlebihan.
"Aku mengatakan apa adanya, memangnya salah jika aku mengutarakan isi hatiku?" Tanya Bondan balik dengan nada santai, dan membuat Rima menggeram kesal.
"Kamu cemburu?" Tanya Rima penuh selidik, sembari meletakkan secangkir kopi di meja makan tepat di hadapan Bondan.
"Aku?" Bondan tergelak sembari menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja, iya, aku cemburu." Jawab Bondan pada akhirnya.
"Kamu itu masih sangat cantik dan dokter Ricky saja sampai mengatakan rasa sukanya kepadamu." Keluh Bondan, kemudian ia menyesap kopi yang baru saja di buatkan oleh Rima.
"Manis." Ucap Bondan, lalu meletakkan cangkir kopinya diatas meja.
"Jangan membual!" Sungut Rima.
"Apa? Aku mengatakan jika kopi ini manis." Jawab Bondan, menahan tawanya.
"Oh." Rima merasa malu dan wajahnya kini bersemu merah karena salah paham dengan ucapan Bondan.
"Jangan malu seperti itu, karena wajahmu akan semakin terlihat sangat cantik." Ucap Bondan, lalu menarik tangan Rima, hingga membuat wanita itu jatuh keatas pangkuannya dan mendekap tubuh ramping itu dengan erat.
"Sudah tua, jangan kebanyakan membual!" ketus Rima, menutupi rasa gugupnya. Dan ia juga tidak menolak ketika Bondan merengkuh tubuhnya.
Aduh jantungku, rasanya mau lompat dari tempatnya. Ya ampun, kenapa dia sangat tampan jika di lihat dari dekat. Rahang tegasnya yang di penuhi dengan jambang, alis tebal, hidung yang sangat mancung, apalagi bibirnya itu yang seksih dan menggoda. Rima mengagumi Bondan dalam hati.
"Memang kamu sangat cantik." Ucap Bondan, lalu mengecup pipi Rima dari samping. "Jadi nggak sabar pengen cepat halalin kamu." Ungkap Bondan, membuat Rima bersemu merah.
"Aku belum memberi jawaban, jadi jangan kepedean." Ucap Rima, sembari memukul dada bidang itu dengan pelan.
"Karena aku sangat yakin jika kamu tidak akan mampu menolak pesonaku." Bisik Bondan, lalu menarik dagu Rima dengan tangan kanannya dan tangan kirinya juga sudah merambat naik keatas dan sampai di tengkuk Rima.
"Kamu mau apa?" Tanya Rima, saat Bondan memajukan wajahnya. Rima memundurkan kepalanya tapi tengkuknya sudah ditahan oleh tangan kekar itu.
"Bon, kita tidak bol—" Ucapan Rima terhenti, ketika bibir tebal itu sudah berlabuh di bibir mungilnya.
CUP
Bondan mengecup bibir Rima dengan lembut kemudian ia mulai menggerakkan bibirnya dan mengisap bibir atas bawah itu bergantian. Rima diam tidak membalas ciuman itu, tapi bukan Bondan namanya jika tidak mampu membuat Rima terbuai dalam ciuamannya.
Dan benar saja, saat ini Rima sudah mulai membalas ciuaman Bondan yang sangat panas dan menggairahkan itu. Bahkan kedua tangan Rima sudah melingkar di leher Bondan.
Khilaf?
Ya, sebut saja begitu, keduanya kini melakukan ke khilafan yang sudah ketiga kalinya. Rima ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain dan merespon baik cumbuan dan ciuman yang di berikan oleh Bondan.
"Bon—"
"Hem? Bolehkah aku melakukan hal yang lebih? Aku akan segera menikahimu."
Dan selanjutnya, Rima....
Bersambung
He he hee, jangan pada marah🤭
Jangan lupa kasih dukungannya ya, semampu kalian.. love you all.
Bonus Visual, Ayah lagi ngopi
Rima, melihat Bondan yang sedang ngopi🤭