Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Sebesar telur puyuh?


Kemudian Bondan menggendong Rima menuju suatu ruangan yang ada disana, tepatnya di kamarnya yang ada dilantai bawah dan tidak jauh dari ruang tamu. Bondan menggendong Rima seperti koala dengan bibir yang masih bertaut. Bondan melangkahkan kakinya dengan terburu hingga ia tidak memperhatikan langkahnya, dan pada akhirnya.


GEDABRUK


"AW! Bon bon!" pekik Rima sembari memegangi keningnya.


Ya, Kaki Bondan tersandung kakinya sendiri, hingga membuat dirinya terjatuh dan tentu saja Rima yang menjadi korban utama, kepalanya harus terbentur kusen pintu kamar Bondan dan membuat kening Rima benjol sebesar telur puyuh.


"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Bondan penuh sesal, kemudian ia membantu Rima berdiri.


Bondan tidak menyangka jika hal memalukan ini terjadi kepadanya.


"Kamu menyebalkan!" Sungut Rima, lalu menepis tangan Bondan dengan kasar kemudian ia berdiri sendiri dengan tertatih, karena kepalanya terasa sangat sakit dan juga nyeri.


"Maaf." Ucap Bondan sekali lagi, lalu ia mengusap kening Rima yang benjol itu dengan lembut.


"Sakit Bodoh!" Umpat Rima, kemudian menepis tangan Bondan dan berjalan menuju sofa ruang tamu lagi.


Ya ampun, memalukan sekali. Batin Bondan, sembari melihat Rima yang berjalan menuju ruang tamu sembari memegangi kening yang benjol itu.


Rasanya Bondan ingin mengutuk dirinya sendiri karena keteledorannya tadi membuat pujaan hatinya terluka.


Dasar Bondan Bodoh! umpat Rima dalam hati, saat ia sudah mendudukan diri di atas sofa, lalu ia menyenderkan punggungnya di senderan sofa tersebut, sembari memejamkan matanya dan mengusapi keningnya yang benjol itu.


Sakit sekali dan sangat memalukan. Batin Rima, sangat kesal dan bercampur malu.


"Maafkan aku ya." Ucap Bondan, duduk di samping Rima, lalu mengompres kening Rima dengan kantong kompres es batu.


Rima mendengus kesal kemudian ia merebut kantong kompres itu dari tangan Bondan dengan kasar.


Rima menatap Bondan dengan penuh kekesalan sembari memegang kantong kompres tersebut yang di letakkan di keningnya, ingin rasanya ia memaki pria yang ada di sampingnya itu, namun akal sehatnya masih waras dan memilih untuk memendam rasa marah dan kesalnya.


"Sakit tahu!" ketus Rima, lalu mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya dari Bondan.


"Iya maaf, aku terlalu bersemangat tadi." Jelas Bondan, membuat Rima menatap pria itu lagi dengan tajam.


"Apa disini ada obat pereda nyeri?" tanya Bondan, kepada Rima.


"Tidak tahu!" Ketus Rima, sembari mengompres keningnya.


Bondan, Bondan apa yang baru saja kamu lakukan? Sangat memalukan, dan aku sepertinya tidak mempunyai muka lagi, jika berhadapan dengannnya nanti. Gumam Bondan dalam hati. Kemudian Bondan menaiki motornya dan melajukannya menuju apotek terdekat.


Sedangkan Rima terus merutuki Bondan, saat pria itu sudah tidak terlihat lagi.


"Menyebalkan! Untung saja keningku cuma benjol, coba kalau sampai bocor. Ya ampun, aku tidak bisa membayangkannya." Rutuk Rima, sembari terus mengompres keningnya agar benjolannya itu mengecil.


"Nanti jika Nue dan Fika bertanya tentang keningku, aku harus menjawab apa?" Gumam Rima, sangat gelisah.


*


*


*


*


Dan tidak berselang lama Bondan sudah sampai rumah, sembari menenteng kantong plastik berwarna putih di tangan kanannya.


"Cepat sekali?" Tanya Rima, saat melihat Bondan duduk di sampingnya.


"Ngebut." Jawab Bondan singkat, tanpa melihat Rima kemudian ia menyerahkan obat pereda nyeri tersebut.


"Terimakasih." Ucap Rima, saat menerima obat tersebut.


"Hem, aku kebengkel dulu." Pamit Bondan, langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Rima.


"IH! Menyebalkan!! harusnya 'kan dia mengambilkan air putih untuk meminum obatnya!" Kesal Rima, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih.


"Aduh, sakit sekali." Keluh Rima, sembari memegangi keningnya.


Cie ... Cie ... yang udah pada traveling ternyata ambyar.🤣


Kasih dukungan seikhlasnya yak. 😘


Senin ya senin, Votenya jangan lupa!