
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, dimana pasangan pengantin baru yang akan membuka segel namun gagal karena kepolosan mereka berdua, kini pasangan itu terlihat canggung dan tidak bertegur sapa beberapa hari ini.
Ya, Afika sudah kembali ke aktifitas sekolahnya begitu pula dengan Ema yang sudah sibuk dengan rutinitasnya.
"Ehm, hari ini aku nggak bisa jemput kamu." Ucap Ema, memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Ah iya." Jawab Fika, lalu memalingkan wajahnya yang bersemu merah lantaran ia masih mengingat kejadian konyol beberapa waktu yang lalu. Begitu pula dengan Ema, ia harus menebalkan mukanya saat berhadapan dengan istrinya. Bagaimana tidak? Jika membobol keperawanan istrinya saja tidak tahu, dan hal itu menurutnya sangat memalukan sekali, apa lagi ia adalah seorang pria.
"Em, besok setelah kamu pulang sekolah, kita kedokter kandungan ya." Ucap Ema lagi, setelah itu ia mengigit bibir bawahnya. Ia takut jika mendapat penolakan dari istrinya.
"Untuk apa?" Tanya Fika heran.
"Itu untuk itu konsultasi." Jawab Ema ragu.
"Iya." Jawab Fika, sembari memejamkan matanya, entah kenapa kejadian beberapa waktu yang lalu masih menghinggapi kepalanya dan juga bayangan milik suaminya yang besar dan panjang itu juga tidak mau hilang dari pikirannya.
Anak perawan tidak boleh Omes! Batin Fika, merutuki dirinya sendiri.
Tidak berselang lama Mobil yang di kendarai Ema sudah sampai di depan gerbang sekolah. Fika segera keluar dari dalam mobil dan tak lupa ia mencium punggung tangan suaminya lebih dulu.
"Memalukan." Ema merutuki dirinya sendiri, kemudian ia melajukan mobilnya menuju Hotelnya.
*
*
*
*
Sedangkan dirumah pengantin baru itu sendiri kedatangan tamu tak diundang.
"Masa Bibi mencuci sprei mereka tidak ada bercak darah sih?" Tanya Rima, kepada Artnya yang betugas di rumah Ema.
"Benar, Bu. Tidak ada sama sakali." Jawabnya.
"Ya sudah sana, Bibi lanjutkan perkerjaan Bibi lagi." Ucap Rima, kemudian Artnya itupun langsung pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Masa iya belum Gol? Sudah satu minggu loh mereka menikah." Gumam Rima, lalu berjalan menuju kamar pengantin baru itu.
"Maafkan Mami karena sudah lancang memasuki kamar pribadi kalian." Ucap Rima, saat memasuki kamar tersebut, kemudian Rima membuka lemari yang ada di sana.
"Ya ampun, Nue. Bagaimana mau gol jika istrinya saja memakai baju tidur saja tertutup semua seperti ini." Gumam Rima, saat melihat tumpukan baju tidur Fika di dalam lemari itu dengan banyak motif anak-anak, seperti keropi, tayo, dan kuda poni.
Rima tersenyum penuh arti kemudian ia menutup kembali lemari itu dan merogoh ponselnya yang ada di kantong celananya kemudian ia menghubungi seseorang.
Disisi lain Ema yang sudah berada di ruang kerjanya kini terlihat tidak bersemangat.
"Pengantin baru biasanya itu wajahnya memancarkan kebahagiaan, tapi kenapa ini malah sebaliknya, Why?" Tanya Ruri, saat memasuki ruangan bosnya itu dan langsung mendudukan diri di depan meja Ema.
"Ck, kepo benget sih." Ema berdecak kesal menanggapi perkataan Asistennya itu.
"Ayolah, Bos. Kita kenal tidak sehari dua hari, kan? Jadi apa salahnya berbagi masalahmu denganku." Ucap Ruri lagi.
Apa aku harus menceritakannya kepada Ruri ya? Batin Ema.
"Hem, apa yang kamu lakukan saat malam pertama dulu?" Tanya Ema sedikit ragu.
Ruri mengernyit saat mendapatkan pertanyaan dari Ema dan ia menatap wajah pria itu dengan intens kemudian ia tertawa terbahak.
"Aku serius, Nuri!" Kesal Ema kepada Asistannya.
"Tunggu... Tunggu, apa ini ada kaitannya dengan malam pertama kalian?" Tanya Ruri, masih menyisakan tawanya.
"Iya."Jawab Ema singkat, dan menatap sebal wanita yang duduk bersebrangan dengan dirinya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ruri lagi, tapi kali ini wajahnya sangat serius.
"Hah." Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar, setelah itu barulah ia menceritakan kejadian yang memalukan itu.
"Ha ha ha ha ha." Ruri tertawa terbahak saat mendengar cerita bosnya itu, bahkan ia sampai memegang perutnya yang terasa kaku karena tertawa keras.
"Puasin deh ketawanya." Cibir Ema kesal.
"Aduh perutku kaku, lagian kenapa kamu harus mengukurnya? Jika kalian membicarakan perbandingan besar dan kecil tentu saja tidak muat, tapi milik wanita itu elastis mengeluarkan kepala bayi saja muat."Jelas Ruri, masih menyisakan tawanya.
"Oh iya ya, kenapa aku bego banget ya." Ucap Ema menganggukan kepalanya berulang kali.
"Dasar bodoh, apa karena habis hibernasi kepalamu itu jadi lola? Loading lama?" Cibir Ruri.
"Heh, enak saja. Aku ini anak polos dan perjaka tulen. Jadi wajar dong kalau aku tidak tahu." Jawab Ema dengan kesal.
"Ya nggak polos-polos banget kali. Mau aku kasih tips nggak?" Tanya Ruri, sembari menaik turunkan alisnya.
"He he hee, tahu aja sih. Jadi mau nggak?"
"Iya deh." Jawab Ema pada akhirnya.
Lumayan buat edukasi. 🤣
*
*
*
Tidak terasa hari sudah berganti malam dan Ema baru pulang bekerja, ia memasuki rumahnya terlihat sepi, biasanya istrinya itu selalu duduk di ruang tamu sambil belajar.
"Kemana dia?" Gumam Ema, sembari menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Namun saat sudah berada di dalam kamar ia tidak menemukan istrinya, kemudian ia turun lagi kebawah dan menuju ruang olah raga yang ia buatkan khusus untuk istrinya berlatih.
Dan benar saja saat ia memasuki ruangan itu, Ia melihat Fika sedang bergelut dengan samsak tinju.
Sungguh Ema sangat terpesona dengan tubuh istrinya itu, yang ramping, sexii dan sangat menggoda imannya.
"Sayang?" Panggil Ema.
Fika yang mendengar suara suaminya pun langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh kearah suaminya. Lalu ia melepaskan sarung tinjunya dan menatap suaminya dengan kesal.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Ema dengan heran.
"Kamu menyebalkan." Jawab Fika.
"Aku?" Ema menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya aku berbuat apa?" Ema bertanya, sambil menaikan kedua alisnya dan tetap menampilkan senyumannya.
"Ish, jangan pura-pura nggak tahu deh, kamu 'kan yang mengganti baju tidurku dengan baju yang tak layak pakai." Ucap Fika dengan kesal dan menatap tajam suaminya.
"Baju apa? Aku malah tidak tahu sama sekali yang kamu maksud, aku ini baru pulang kerja loh, bukannya di sambut malah kamu tuduh tidak jelas seperti itu." Jawab Ema, mulai terpancing emosi.
Kemudian Ema langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Jadi kalau bukan Nue, siapa lagi?. Batin Fika, lalu segera berlari mengejar suaminya.
"Nue, aku tidak bermaksud menuduhmu." Ucap Fika saat sudah berada di dalam kamar, dan ia melihat Ema tengah membuka jasnya.
"Tunjukan baju apa yang kamu maksud itu." Ucap Ema kepada Fika, dan istrinya itu pun langsung membuka lemari dan mengeluarkan semua baju haram yang ada di dalam sana.
"Ini." Ucap Fika, sembari menjenjeng salah satu baju haram itu.
Ema awalnya terkejut namun tidak berapa lama kemudian ia tersenyum penuh arti, padahal ia baru saja akan merencanakan membelikan baju haram itu namun ia sudah keduluan oleh maminya.
"Kalau itu dari aku, memangnya kamu mau apa?" Tanya Ema.
"Ya aku buanglah, baju tidak layak pakai begini." Jawab Fika kesal.
"Kata siapa tidak layak pakai?" Ema mendekati Fika lalu memeluk pinggang ramping itu hingga keduanya tidak berjarak sama sekali.
"Baju ini gunanya untuk membuat suamimu senang, jadi mulai sekarang pakai baju ini saat dirumah." Bisik Ema sensual, membuat bulu kuduk Fika meremang.
"Apa? Tidak mau!" Tolak Fika.
"Baik." Ucap Ema, lalu tanpa banyak kata lagi ia langsung melumaat bibir manis istrinya dengan penuh gairah.
"Hah hah hah" Fika mengambil nafas sebanyak mungkin saat ciuman pans itu terlepas.
"Mau pakai sendiri atau aku akan yang akan—"
"IYA MAU!!!" Jawab Fika kesal.
"Good Girls." Ucap Ema, lalu mengecup bibir istrinya sekilas, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa dia sekarang menakutkan sekali sih!" Fika menghentakkan kakinya kesal, saat suaminya sudah tidak terlihat.
"Gara-gara baju haram ini, mungkin malam ini aku akan kehilangan keperawananku." Gumam Fika.
Gemes sama mereka berdua, 😄
Kasih dukungan semampu kalian ya...