
Emanuel berdiri sembari menyilangkan kedua tangannya di dada dan sorot matanya menatap tajam dua orang yang duduk di ruang tamu. Ya, Ema berhasil mengamankan Bondan dan setelah itu, ia menjemput ibunya untuk segera di eksekusi bersama Bondan di rumahnya.
"Hah," Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebelum ia mulai bersuara.
"Sepertinya kalian ini tidak jera ya! Apa hukuman dariku terlalu berat?" tanya Ema, masih berdiri dan matanya tetap mengawasi dua orang tersebut yang tak lain adalah Rima dan Bondan.
"Tentu saja berat," Bondan yang menjawab.
"Hah, benarkah?" cibir Ema, mencebikan bibirnya kesal dan mengibaskan tangan gemulainya.
"Jangan mencibirku! Kita ini sesama pria dan pasti kamu merasakan betapa pusingnya jika tidak tersalurkan, bukankah begitu?" kali ini Bondan yang mencibir menantunya. Ada rasa puas di hati Bondan karena bisa membuat menantunya itu mati kutu.
Iya juga sih. Batin Ema, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalian ini membicarakan apa?" tanya Rima sedikit kesal.
"Itu loh Mi, membicarakan si burung masuk kesarannya, masa Mami yang sudah berpengalaman tidak tahu sih?" jawab Fika, sembari memakan buah apel yang ada di tangannya.
"Astaga!!" pekik ketiga orang itu ketika mendengar ucapan absurd Fika.
"Apa? Ada yang salah?" tanya Fika merasa tidak berdosa, sembari menatap wajah ketiga orang itu bergantian.
"Tidak ada," jawab ketiganya kompak, dan Fika menganggukan kepalanya lalu melanjutkan mengunyah buah apel yang sudah ada di dalam mulutnya.
Perasaan, aku tidak membatin Oma Airin, kenapa istriku Oon nya jadi dobel begitu ya? Dan omongannya juga persis dengan Oma Airin. Apa karena waktu pencetakan junior, aku membaca buku paduan dari Oma terlebih dulu? Batin Ema bertanya-tanya.
Sedangkan Bondan menggelengkan kepalanya berulang kali, sembari menatap putrinya yang terlihat rakus memakan buah apel.
Benarkah hormon kehamilan bisa membuat orang menjadi bodoh? Batin Bondan, menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
*
*
*
*
"Kenapa kalian jadi diam?" tanya Fika, dengan wajah bingungnya.
"Ah tidak, aku hanya memikirkan hukuman apa yang pantas untuk diberikan kepada Ayah," jawab Ema, tersenyum kecut lalu beralih menatap Ayah dan Ibunya.
"Kenapa? Apa kamu akan memisahkan kami lagi? Oh, ya ampun!" keluh Bondan.
"Apa kamu tidak kasihan kepada kami? Sungguh terlalu," lanjut Bondan lagi, dengan menirukan jargonnya penyanyi terkenal di ibukota tersebut.
"Hem, ya, baiklah aku membebaskan kalian tanpa syarat," jawab Ema pada akhirnya, karena merasa kasihan juga dengan Ayah mertuanya itu yang sudah lama puasa. Ia pun merasakan apa yang disarakan oleh Bondan, jika tidak tersalurkan itu memang tidak enak hingga membuat kepala atas dan bawah terasa pening.
Mendengar ucapan menantunya, Bondan langsung mengucapkan syukur dan memeluk Ema. Sedangkan Rima yang mendengar keputusan putranya menjadi gelisah sendiri, bukannya tidak senang akan tetapi dirinya masih takut jika di patuk oleh rajawali setiap malam.
"Tapi, ada tapinya loh," ucap Ema tersenyum jahat.
"Jangan yang aneh-aneh!" sungut Bondan dengan nada yang teramat kesal.
"Hanya satu aneh saja, aku hanya ingin kalian tinggal di rumah kalian saja, mau dirumah Ayah atau di rumah Mami terserah. Maaf bukannya mengusir, akan tetapi kami ingin mandiri dan ingin menjadi suami siaga untuk istriku yang sedang mengandung," jelas Ema.
"Bilang saja, kalau kamu terganggu dengan keberadaan kami disini, dasar modus!" sungut Rima sudah bisa menebak pikiran putranya itu yang tidak jauh dari kata mesum.
"Padahal hati Mami juga jingkrak-jingkrak tuh." cibir Ema, lalu memutar kedua bola matanya dengan malas.
Dasar sailormoon! Batin Rima kesal.
Bebas hukuman dong,,🤣
siap-siap si elang dan rajawali mengobrak-abrik sarangnya. 😆
Dukungannya d mana ya? Biar naik lagi ratingnya, 🙏🥺