Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Kelepasan


Sedangkan di ruang tamu, Bondan dan Rima sedang duduk bersisian dan mata keduanya itu terus menatap arah tangga dan sesekali melirik jam yang menempel di dinding.


"Sudah hampir dua jam?" gumam Bondan.


"Iya. kok bisa ya?" jawab Rima, menoleh kearah suaminya. Dan mata keduanya itu menatap ke arah tangga lagi sembari menopang dagu dengan tangannya masing-masing.


"Ibu sama bapak sedang apa?" tanya Bibik dari arah dapur. Bibik sangat heran dengan kedua majikannya itu yang bertopang dagu dan terlihat seperti orang yang sedang mengantri minyak goreng.


Bondan dan Rima menoleh bersamaan kearah sumber suara itu. "Itu menunggu Nue dan Fika, tapi sejak tadi tidak turun," jawab Rima.


"Idih! Ibu sama Bapak bagaimana sih? Den Nue dan Neng Fika pasti sedang melepas kangen," jawab Bibik, membuat Bondan dan Rima saling menatap.


"Iya aku juga tahu, tapi bagaimana caranya? Kaki Nue 'kan sedang sakit, dan aku takut jika terjadi apa-apa dengannya," jelas Rima, membuat Bibik menepuk jidatnya dengan keras.


"Bisa di atur, kan Neng Fika bisa menjadi jokinya," jawab Bibik, terkekeh geli karena dua majikannya yang terlihat polos.


Bondan dan Rima berfikir sejenak, kemudian keduanya itu menepuk jidatnya bersamaan.


"Kenapa kita jadi bodoh begini ya?" tanya Bondan terkekeh pelan.


"Iya, mungkin karena kita terlalu mencemaskan keadaan Nue," jawab Rima ikut terkekeh.


Sedangkan Bibik menggeleng pelan, lalu berjalan menuju halaman belakang untuk menyirami tanaman.


"Bagaimana jika kita melakukan hal itu juga?" tanya Bondan, menaik turunkan alisnya.


"Hih! Bisa patah pinggangku!" tolak Rima dan ingin beranjak dari duduknya namun pinggangnya sudah di tarik oleh Bondan hingga dirinya terjatuh diatas pangkuan suaminya.


"Bon bon!" kesal Rima.


"Tidak ada penolakan sayang," ucap Bondan lalu menggendong istrinya menuju kamar bawah.


*


*


*


*


Sampai di dalam kamar, Bondan langsung meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur dengan perlahan dan ia pun segera menindih tubuh istrinya.


"Bon," lirih Rima, ketika Bondan mengusapkan jambangnya kepipinya.


"Aku menginginkanmu, apa kamu tidak merasakannya?" Bondan menarik tangan Rima dan menempelkan telapak tangan itu ke tonjolan dibawah sana.


Bondan memejamkan matanya, menikmati pijitan lembut dari istrinya yang selalu membuatnya mabuk kepayang.


"Boleh kita mulai sekarang?" tanya Bondan dengan suara seraknya, menandakan jika gairahnya sudah tidak terbendung lagi. Rima menganggukan kepalanya pelan.


Melihat istrinya mengangguk pelan, membuat Bondan tersenyum dan langsung melucuti pakaian istrinya dan juga pakaiannya sendiri hingga keduanya polos tanpa sehelai benang pun.


Bondan mulai memposisikan dirinya dan mengarahkan burung rajawali menuju sarangnya.


"Bon! Si du*rex mana?" Rima menahan dada bidang Bondan yang kekar dan di penuhi tatto itu.


"Aku tidak membawanya, lagian pakai sarung tidak enak, bukannya kamu sudah meminum pil kontrasepsi?" tanya Bondan, dan sembari menggesekkan si kepala rajawali di depan pintu sarangnya, sehingga membuat Rima mendesis enak.


"Aku tidak meminumnya lagi, bukankah satu bulan ini kita tidak berhibungan," ucap Rima sembari menggigit bibir bawahnya, ketika kepala rajawali mulai melesak masuk kedalam intinya dan...


Blesh


"Ugh," racau keduanya ketika rajawali sudah tertanam sempurna di dalam sana.


"Baiklah nanti aku akan mengeluarkannya di luar," ucap Bondan, dan dingguki Rima.


Dan Bondan pun mulai menggerakan pinggulnya naik turun dan maju mundur dengan kecepatan sedang, membuat Rima terus mendesah enak.


"Kenapa?" tanya Bondan, ketika melihat istrinya merem melek.


"Nikmat," jawab Rima dengan susah payah. Bondan tersenyum lalu membungkam bibir istrinya dengan ciuman panas, dan salah satu tangannya meremat dua bukit kembar itu bergantian dan tangan satunya lagi menopang tubuhnya agar tidak terlalu menindih istrinya.


Dan detik selanjutnya hanya terdengar desahaan dan lenguhan, hingga keduanya mencapai pelepasan bersama.


Bruk


Bondan langsung ambruk diatas tubuh istrinya dan nafasnya terengah.


"Kenapa kamu mengeluarkannya di dalam?!" kesal Rima dan memulul punggung Bondan dengan keras. Dan ia berusaha untuk mendorong tubuh Bondan yang besar itu untuk melepas penyatuannya.


"Hah?! Aku kelepasan," jawab Bondan baru tersadar, kemudian ia menghisap pucuk bukit kembar itu seperti bayi yang kehausan.


"Bondan!!!!!"


Sudah tercebur sekalian aja ya, Yah. Atau cuma akal-akalannya Ayah Bondan saja nih? 😆


Jangan lupa kasih dukungannya ya Sayang-sayang ku, 😘😘