Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Mengalah


Setelah selesai makan malam, ke empat orang itu membubarkan diri. Fika dan Emanuel kini tengah berada di ruang tamu sembari menonton televisi. Sedangkan Rima sudah masuk kedalam kamarnya, untuk menghindari anak dan menantunya itu. Dan Bondan? Pria itu masih berada di dapur, bukan tanpa sebab ia berada disana, karena ia pun sama ingin menghindari Fika dan Emanuel.


"Memangnya di rumah ini ada CCTV nya, Yank?" Tanya Fika, berbisik kepada suaminya.


"Ada." Jawab Ema, tanpa menoleh karena saat ini matanya tengah terfokus pada layar televisi.


"Benarkah? Berarti saat kita bercinta dan berciuman di ruang tamu dan dan dapur—. Ah! Ya ampun, kenapa kamu tidak bilang." Kesal Fika tertahan, sembari menendang nendangkan kakinya asal.


Mendengar kekesalan istrinya, Ema menoleh dan memeluk istrinya sambil berbisik.


"Dirumah ini memang ada CCTV tapi hanya ada di halaman depan dan belakang saja, selebihnya tidak ada karena aku tidak mungkin segila itu memasang CCTV di setiap sudut rumah ini." Jelas Ema.


Fika bernafas lega saat mendengar penjelasan suaminya. "Jadi, yang kamu katakan kepada Ayah dan Mami tadi bohong dong." Ucap Fika, menoleh kearah Ema dan mengecup pipi suaminya itu sekilas.


"Menurutmu?" Ucap Ema, sembari menaik turunkan alisnya dan memperlihatkan senyuman tengilnya.


"Ih, nakal ya." Ucap Fika tersenyum, lalu memukul dada bidang suaminya pelan.


"Lihat saja Ayah dan Mami kelihatan salah tingkah bukan? Jika mereka tidak melakukan kesalahan tidak mungkin bertingkah seperti itu. Apalagi ada bukti jika kepala Mami benjol." Ucap Ema lagi, dan Fika mengangguk setuju.


"Kita pantau saja mereka, sampai mana mereka bertindak." Ucap Ema, lalu mengecup bibir manis istrinya itu, kemudian memanggutnya dengan lembut dan Fika pun membalas setiap pagutan yang di berikan suaminya, keduanya kini saling mencecap dan saling berperang lidah. Ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut, keduanya sudah terbakar gairah yang membara, namun dengan cepat Fika menarik diri hingga tautan itu terlepas. Ema memejamkan matanya dan menyatukan keningnya dengan Fika, mereka tampak mengatur nafas dan juga menetralkan rasa panas yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya.


*


*


*


*


Apa iya ada CCTV, tapi kenapa tidak terlihat ya? Apa Nue meletakkannya di tempat yang tersembunyi? Batin Bondan sangat gelisah.


Sial! Kenapa aku jadi ketakutan seperti ini? Hadapilah secara jantan.


Tapi, jika mereka tahu pasti sangat kecewa dan aku juga tidak ingin membuat mereka terluka, apa lagi mereka baru saja mendapat kebahagiaan. Batin Bondan, risau dan dirinya kini berperang batin dan juga pikiran. Tapi, dirinya saat ini sudah membuat keputusan yang terbaik untuk semuanya.


Kita memang sudah tua dan berumur, tapi setiap orang berhak merasakan yang namanya cinta dan juga kasih sayang. Tapi, jika melepasmu demi kebaikan kita semua. Maka aku akan melakukannya." Batin Bondan.


Sedangkan Rima yang ada di dalam kamar, kini tengah duduk di tepian tempat tidur, sembari merenungkan kesalahannya. Kekhilafannya yang ia lakukan bersama Bondan hampir saja membuatnya terjun kedalam lumpur dosa, beruntung ada insiden memalukan yang menghentikaannya. Jika tidak, permasalahan lainnya pasti akan datang menghampiri.


"Hampir saja, aku melakukan dosa besar." Gumam Rima, sembari meremat rambutnya sendiri dengan kasar.


"Ya tuhan, maafkan kekhilafanku." Ucap Rima lagi.


Dan lagi-lagi keduanya itu harus memendam cintanya untuk yang kesekian kalinya.


Aku hanya mengikuti arus kehidupan yang di berikan oleh Tuhan. Dan aku juga tidak berharap lebih, cukup dengan melihatmu saja sudah membuatku bahagia. Batin Rima.


Uhui, udah nyezek ya gais....


Bentar lagi konfliknya datang lag i ya.. kuatkan hati kalian.


Kasih dukungan ya semampu kalian..


Jangan lupa likenya ya..