Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Deg-degan


Tangan gemulai itu sangat terampil mengolah bahan-bahan yang ada di depannya. Ya, semenjak kehamilan istrinya yang semakin membesar ia kursus masak dengan chef handal yang ada di kotanya itu. Bukan tanpa sebab ia melakukan semua itu, karena Fika selalu meminta di masakan olehnya.


"Yank, sudah selesai belum?" tanya Fika, yang masih setia duduk di meja makan sembari menatap suaminya yang sedang berkutat di dapur.


Suaminya kali ini terlihat sangat manis sekali, menggunakan apron bermotif sailor moon namun yang membuat menarik adalah, Ema tidak mengenakan baju atasan hanya apron saja yang menutupi badan depannya.


Ah, gemes banget sama Papa. Batin Fika meronta ketika melihat suaminya terlihat menggemaskan.


"Sebentar lagi, sayangku," jawab Ema, menoleh kearah istrinya, sembari memegang mangkok ukuran sedang di tangannya.



"Cepetan, sudah lapar nih," ucap Fika manja, dan mengerucutkan bibirnya kesal.


"Iya, sayang. Yang sabar dong," jawab Ema, dan segera menata makanan itu kedalam mangkok dan segera menyajikannya ke hadapan istrinya.


"Wah, terimakasih Papa gemulai," ucap Fika, sembari bertepuk tangan heboh, ketika melihat makanan itu ada di hadapannya.


"Sama-sama, sayang," jawab Ema, lalu mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut. Fika tersenyum, lalu menganbil sendok dan garpu untuk mengaduk makanan itu. Ema tidak marah jika di bilang gemulai oleh istrinya, karena memang itulah kenyataannya jika dirinya memeng gemulai. Malahan ia bangga dengan istrinya dan bersyukur karena istrinya itu tidak malu mempuyai suami seperti dirinya dan mencintainya dengan sangat tulus.


"Hem, sepertinya ini sangat enak sekali," ucap Fika, sembari mengendu makanan itu seperti kucing yang kelaparan, kemudian ia menggeser mangkok tersebut kehadapan Ema.


"Makan," titah Fika, saat melihat suaminya menatapnya dengan heran.


"Loh kok?"


"Aku sudah kenyang," ucap Fika, tidak berperasaan.


"Tapi, katanya kamu lapar? Jadi—"


"Aku sudah kenyang dan puas hanya menghirup aromanya saja," potong Fika, membuat Ema mendesah frustasi, kemudian Ema segera memakan Bibimbap yang ada di mangkok tersebut hingga tak tersisa.


"Sudah habis, puas?!" Ema menunjukan mangkuk tersebut kepada istrinya.


"Perutmu besar sekali? Harusnya kamu itu diet jangan makan terlalu banyak, NgeGym sana," ucap Fika sembari menepuk perut suaminya yang terlihat membuncit.


Sabar ... sabar ... sabar .... gumam Ema dalam hati.


Lagi-lagi Ema harus memendam kekesalannya. Siapa yang membuatnya gendut? Setiap istrinya menginginkan suatu makanan pasti berakhir seperti tadi.


"Jika kamu bukan istriku, sudah ku pastikan kamu akan ku tendang dari sini," ucap Ema, namun tertahan di dalam hati.


"Iya, aku akan ngeGym sekarang," ucap Ema, sembari menggertakkan giginya karena saking kesalnya.


"Gitu dong. Makin cinta deh," ucap Fika, lalu beranjak dari duduknya dan mengecup bibir suaminya dengan mesra, dan tentu saja Ema tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung membawa istirnya keatas pangkuannya dan melumaat bibir istrinya dengan ganas.


"Sayang," Fika mendorong dada bidang suaminya, saat ia sudah kehabisan nafas.


Kemudian Ema melepaskan apronnya dan meletakkannya diatas meja makan. "Aku mau olah raga siang, agar kalori dalam tubuhku ini berkurang," ucap Ema dengan suara seraknya, lalu menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar utama.


"Ah, kamu curang," rengek Fika manja, tapi walau begitu dirinya melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya.


Ema tersenyum puas, kemudian ia segera merebakan tubuh istrinya diatas ranjang panas itu dan selanjutnya.


Sensorrrrrrr🤣😜


*


*


*


*


Disisi lain seorang wanita sedang berjalan menuju apotek terdekat rumah suaminya untuk membeli sesuatu disana.


"Ya, ampun hari ini panas sekali," keluhnya sembari menyeka keringat yang ada di keningnya.


Sampai di apotek ia segera membeli sesuatu yang ia butuhkan dan setelah itu is segera kembali kerumahnya.


Burung beneran loh ya, yang bisa terbang itu. 🤣


"Iya pak, siang juga," jawba Rima tersenyum manis. Dan terus melanjutkan langkahnya.


Sampai di perempatan jalan yang akan masuk ke gang rumahnya, ia di sapa lagi oleh bapak-bapak yang sedang ngopi bersama di depan rumah.


"Duh, Bu. Siang-siang begini jalan sendirian, Pak Bondan kemana Bu?" tanya salah satunya.


"Ada di rumah pak, masih tidur," jawab Rima asal, padahal suaminya sudah berangkat kebengkel.


"Wah, lembur terus ya? Hebat ya masih strong," balas salah satunya lagi, membuat Rima bergidik ngeri kemudian ia segera berlari menujui rumahnya.


"Hih, ya ampun orang-orang disini julid sekali," ucap Rima, setelah ia masuk kedalam rumah dan segera mengunci pintu rumah.


Ya, begitulah, Rima setiap hari harus mendapat godaan dari para tetangganya, dan membuatnya tidak nyaman tapi demi menghargai suaminya, ia tetap memilih tinggal bersama Bondan di perumahan sederhana itu.


Kemudian Rima menuju kamar dan ingin segera menggunakan benda pipih yang baru saja ia beli dari apotek.


"Semoga garis satu," gumam Rima, tangannya bergetar saat membuka bungkusan benda pipih itu.


"Huh, kenapa jantungku berdetak cepat seperti ini?" gumam Rima lagi, kemudian ia segera menurunkan celananya beserta underwearnya dan menampung urinenya di wadah kecil dan segera mencelupkan benda pipih itu kedalam sana.


Setelah menunggu selama lima menit, Rima segera mengambil benda pipih itu untuk melihat hasilnya.


Nafas Rima seperti habis lari maraton dan tangannya terus bergetar hebat saat akan melihat banda pipih itu.


"Ya Tuhan," Rima menutup mulutnya sendiri saat melihat hasilnya.


Rima memejamkan matanya, lalu ia meletakkan benda pipih itu di pinggiran bak mandi kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar dan air matanya mengalir tanpa di minta.


Tok


Tok


Terdengar ketokan pintu dari luar rumah, Rima segera beranjak dan memakai celananya kembali, lalu bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek


Rima membuka pintu rumahnya, saat tahu siapa yang datang.


"Sayang," ucap Bondan, ketika pintu di buka oleh Rima.


"Bon, aku pikir tidak pulang makan siang?" tanya Rima, lalu menggandengan tangan suaminya menuju ruang makan.


"Mana mungkin aku melewatkan makan siang bersama istriku yang cantik ini, apa lagi masakan istriku sangat lezat," ucap Bondan, lalu menundukan sedikit badannya dan mencium pipi Rima dengan mesra.


"Gombal," gerutu Rima. Dan keduanya itu duduk di meja makan.


"Mau makan pakai apa?" tanya Rima, saat membuka tudung saji.


"Mau makan kamu dulu boleh?' tanya Bondan, lalu mennggendong istrinya menuju kamar.


"BONDAN!!!"


Yuhuu, sedikit pengumuman ya Zeyeng,


Oh! My Bodyguard udah rilis ya..


Kisahnya Crystal dan Bodyguardnya yang super dingin dan misterius.


Yuk langsung cap cus bila berkenan dan kasih dukungan juga ya..


Makasih semua😘😘🥰🥰