
Fika berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah yang panjang, nafasnya juga terlihat memburu dan wajahnya memerah menandakan jika gadis itu sangat marah, namun langkahnya terhenti saat namanya di panggil oleh Wali kelasnya.
"Afika, mau kemana? Masuk ke kelas, pelajaran akan di mulai." Ucap Wali kelasnya, sedikit berteriak.
"Ck, iya Bu." Sahut Fika, lalu dengan terpaksa ia berbalik arah dan memasuki kelasnya.
Kini ia harus menunda urusannya dengan Antoni, dan ia akan menyelesaikannya setelah pulang sekolah nanti.
Sampai di dalam kelas, Fika langsung menduduki kursinya tanpa menghiraukan teman sebangkunya yang terus memanggilnya.
"Fik, gue minta maaf ya." Ucap Irfan sedikit berbisik.
"Ck, kayaknya pertemanan kita cukup sampai disini saja! Lo yang sudah gue anggap teman baik gue tapi nyatanya apa? Lo ikut nggak percaya sama gue, teman macam apa lo!" Sahut Fika kesal, tanpa menatap temannya itu.
Sedangkan Irfan menundukan kepalanya, karena yang di ucapkan Fika semuanya benar. Harusnya ia lebih percaya dengan sahabatnya sendiri dan tidak terpengaruh hanya karena sebuah Foto.
"Sekali lagi gue minta maaf ya, Fik." Ucap Irfan pelan dan penuh sesal. Kini ia merasa menjadi sahabat yang buruk untuk Fika.
*
*
"Yah, kenapa perasaanku tidak enak ya." Ucap Ema, kepada Bondan.
"Perasaanmu saja kali." Jawab Bondan, sembari menyeruput kopinya.
"Tapi beneran loh, Yah. Aku merasa kalau Fika sedang dalam masalah." Ucap Ema, lagi sembari memegang dada kirinya.
"Sudah jangan berpikiran yang buruk. Katanya mau berangkat ke Hotel?" Tanya Bondan, menenangkan menantunya yang terlihat resah.
"Iya ini mau berangkat." Jawab Ema, kemudian mencium punggung tangan Bondan.
"Hati-hati di jalan." Ucap Bondan, dan di angguki oleh Ema.
Kemudian Ema berjalan kearah halaman rumah dan segera memasuki mobilnya.
"Tapi, perasaanku nggak enak banget. Semoga istriku baik-baik saja di sekolah." Gumam Ema, saat sudah di dalam mobil sembari menyalakan mesin mobilnya, setelah itu Ema memacu kendaraannya menuju Hotelnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Ema, sudah sampai di Hotel mewahnya dan ia di sambut hangat oleh para pegawainya.
"Ruri!! Bisa di majukan meetingnya?" Tanya Ema, saat memasuki ruangan Asistennya.
"Aduh bagaimana ya soalnya—"
"Ya ampun, galak banget si Bos sekarang mentang-mentang sudah manjadi pria tulen." Gumam Ruri, sembari mengelus dadanya lantaran terkejut dengan sikap Bosnya itu.
Sedangkan Ema yang kini duduk sembari menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sambil menatap foto istrinya yang ia jadikan wallpaper ponselnya.
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya , dan tidak berselang lama Ruri memasuki ruangan Bosnya itu dengan perasaan takut, karena tidak pernah Bosnya itu berkata tegas seperti tadi selama bertahun-tahun ia berkerja dengan Ema.
"Ada apa?" Tanya Ema, masih menatap ponselnya.
"Itu, meetingnya bisa di majukan dan sebentar lagi klien kita akan sampai." Ucap Ruri.
"Hem." Jawab Ema hanya berdehem saja, membuat Ruri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada apa bos?" Tanya Ruri, dengan hati-hati.
"Entahlah, aku merasakan jika istriku sedang tidak baik-baik saja." Jawab Ema.
Ah, sedang gegana rupanya. Batin Ruri.
"Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati, jadi apa yang sedang di alami istrimu, kamu ikut merasakannya." Jawab Ruri.
"Jadi benar jika istriku sedang dalam masalah?!"
"Ah, bukan seperti itu tapi—"
"Batalkan meetingnya!!" Titah Ema, lalu segera beranjak dari duduknya dan keluar dari ruanganya.
"Ya ampun!! Gue lagi yang kena ini!" Sungut Ruri, mengacak rambutnya dan menghentakkan kakinya dengan kesal.
Sabar Ruri sabar 😆
Kasih dukungan semampu kalian ya, dan emak juga akan berusaha untuk crazy Up😘
Sudah masuk rangking 20 nih, bantu up in yuk!! Syukur-syukur naiknya langsung ke rank 1, ha ha ha ngarepp