
Yang jomblo menepi!!
Bacanya malam aja ya!
Liburan singkat di pulau bidadari selama tiga hari itu telah berakhir, mereka memanfaatkan kesempatan liburan itu untuk quality time dan juga berbulan madu. "Kapan kita bisa liburan bersama lagi?" tanya Bondan, yang sedang menyetir mobil. Mereka saat ini sedang perjalanan pulang kerumah.
"Ck! Tidak ada liburan lagi!" sahut Fika, kesal.
Bagaimana tidak kesal? Kalau tiga malam berturut-turut ia di gempur terus oleh suaminya, dengan alasan ingin kejar target. Sedangkan Arjuna di titipkan kepada Bondan dan Rima.
"Kamu kenapa sih? Sewot sekali? Mau datang bulan?" tanya Rima, sembari mengelus lembut kepala Arjuna yang tidur di pangkuannya.
"Eh, jangan datang bulan! Usahaku sia-sia dong? Sudah lemes nih lutut," celetuk Ema, sembari menoleh kebelakang dimana istri dan ibunya duduk di jok belakang.
Dug
Fika menendang sandaran jok mobil yang di duduki suaminya dari belakang, karena ia sangat kesal dengan ucapan suaminya yang tidak berfilter.
Bondan dan Rima terkekeh geli, saat melihat Ema dan Fika ribut kecil. "Kalau gagal ya buat lagi, jangan pantang menyerah," sahut Bondan, di selingi kekehan geli.
"Iya, Ayah benar. Kita ini 'kan para pejantan tangguh," jawab Ema, tergelak. Membuat Fika semakin cemberut kesal.
"Kalian ini sama-sama, maniak!" sungut Fika.
Bondan dan Ema tergelak bersama, ketika mendengar ucapan Fika, sedangkan Rima hanya mendengus kesal sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah Emanuel. Mereka segera turun dari mobil tersebut dan berjalan kedalam rumah untuk segera mengistirahatkan diri.
"Ah, lelahnya." Bondan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu, sembari merenggangkan otot tubuhnya, karena lelah menyetir mobil selama hampir dua jam perjalanan.
Rima berada di dapur untuk membuatkan kopi suaminya, sedangkan Fika, Ema dan Arjuna sudah berada di dalam kamar.
"Ganti baju dulu, sayang." Ema mengingatkan saat istrinya yang akan merebahkan diri di samping Arjuna terlelap diatas tempat tidur.
"Tapi, aku malas. Gantiin," ucap Fika manja kepada suaminya.
"Nanti kalau aku yang menggantikan bajumu bisa lain urusannya," jawab Ema, terkekeh.
"Lain bagaimana?" tanya Fika, mendudukan diri tepian tempat tidur.
"Aku akan menginginkan hal yang lebih, ingin selalu bercinta denganmu," ucap Ema, berjalan mendekati istrinya, lalu melepaskan satu persatu kancing dress yang di kenakan Fika, lalu meloloskan dress itu dari tubuh istrinya.
"Nue!" kesal Fika, ketika tangan suaminya itu sudah masuk kedalam kain berbusa dan memelintir pucuk bulatan kenyal yang ada di dalam sana.
"Kamu sendiri yang memancingku, jadi jangan salahkan aku," desis Ema, berjongkok di hadapaan Fika lalu membuka kian berbusa itu, kemudian ia menghisap pucuk bulatan kenyal itu bergantian.
"Sayang" Fika merintih nikmat. Jika sudah di perlakukan seperti ini, ia tidak bisa menolak lagi dan ia langsung membuka kedua kakinya dengan lebar dan menuntun tangan suaminya agar mengobok-obok bagian intinya yang sudah terasa gatal.
"Kamu menginginkannya?" tanya Ema, dengan suara seraknya. Menahan tangannya yang diarahkan kearah daging merekah itu.
"Iya sangat, please," pinta Fika, memohon lalu mengangkat bokongnya dan melepaskan underwearnya. "Please," mohon Fika.
"Bukankah kamu tadi marah kepadaku, karena aku terus meminta jatah kepadamu?" tanya Ema, menahan dirinya yang sudah sangat bergairah.
Sok, jual mahal!
"Tidak, aku tidak marah. Aku ingin! cepat masukan, nanti Arjuna bangun," rengek Fika, semakin membuka kedua kakinya dengan lebar di tepian tempat tidur itu.
"Kamu ini tidak berpendirian ya?" tanya Ema, menelan ludahnya kasar saat melihat daging merekah berwarna pink itu ada di depan matanya. Celananya langsung sesak seketika, karena si elang sudah siap untuk mengepakkan sayapnya.
"Nue! Please," rengek Fika.
"Hem, baiklah karena kamu memaksa," ucap Ema, lalu memelorotkan celana panjangnya beserta boxernya dan tersebulah burung kutilang yang sudah berubah wujud menjadi burung elang yang sangat besar dan gagah.
Kapan lagi bisa seperti ini? Karena sejak mempunyai Arjuna, jatah si elang masuk ke sarangnya hanya satu minggu sekali dan paling banyak 2 kali.
Ema mulai memposisikan dirinya, bercinta di tepian tempat tidur memang sangat untuk mereka saat ini, karena tidak menimbulkan gempa lokal yang membuat Arjuna terganggu.
"Ugh." Fika menggeliat dan mengerang nikmat, saat kepala si elang mulai masuk kesarangnya.
Blesh
Kepala elang beserta lehernya sudah masuk sempurna di dalam sana. Ema mulai menggerakan pinggulnya dengan kecepatan sedang. Fika menutup mulutnya dengan telapak tangannya, agar desahaan tidak keluar dari mulutnya.
"Ah ah." Ema meracau, disela kegiatannya. Miliknya terasa di jepit didalam milik istrinya.
*
*
*
Sedangkan di lantai bawah, Bondan dan Rima sedang ngopi bersama sembari menonton televisi.
"Kenapa kopi buatanmu selalu enak ya? manisnya pas," ucap Bondan, setelah menyeruput dari cangkir bermotif kuda poni itu.
"Ya jelas enak 'kan takaran gula pas," jawab Rima.
"Bukannya kamu bikin kopinya ini pakai takaran cinta dan kasih sayang kamu ya?" tanya Bondan, mode gombal.
"Ck! apaan sih!" ucap Rima, tersipu malu. "Yang namanya buat kopi itu, pakai gula dan kopi kalau pakai cinta dan sayang memangnya bisa? Yang ada nanti ambyar karena tidak ada rasa," cibbir Rima, kesal.
"Hais, kamu tidak bisa diajak romantis ya!" Bondan menatap kesal istrinya.
"Lagian sudah tua, masih saja pinter gombal! Belajar dari mana sih?" tanya Rima.
"Dari raja gombal lah, Tuan Xander Clark," jawab Bondan membuat Rima melongo.
"Mana mungkin Tuan Xander bisa selebay itu?" Rima tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Kamu tidak percaya? Ini lihat Vlognya, beliau sangat pintar menggombali istrinya, mungkin ini rahasia keharmonisan rumah tangga mereka," jelas Bondan, sembari memperlihatkan ponselnya kepada istrinya.
"Wah, iya. Tuan Xander mempunyai bakat terpendam," ucap Rima, saat melihat Vlog Xander Clark.
Disaat keduanya ini sedang sibuk melihat Vlog Xander, Ema turun dari lantai atas hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada.
Mata Rima dan Bondan teralihkan bergantian menatap Ema yang berjalan menuju dapur.
"Astaga! itu anak tidak ada lelahnya," ucap Rima, menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa kamu ingin?" tanya Bondan, mengecup pipi istrinya dengan mesra.
"Tidak!" jawab Rima dengan tegas, lalu menjauhkan dirinya dari sisi Bondan.
"Loh, Mami dan Ayah masih disini?" tanya Ema, terkejut. Ia baru menyadari jika kedua orang tuanya masih berada disana.
"Hem, saking asiknya main sosor-sosoran tidak ingat orang tua!" cibir Bondan.
"Kejar target, Yah," jawab Ema, tersenyum malu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian ia mengambil apron sailor moon untuk menutupu badannya.
"Alasan!" cibir Rima.
Nue menaang banyak ya...🤣
Jangan lupa dukungannya, kasih like, vote, komentar dan kasih gift😘