Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Masih ada rasa?


Bondan sampai rumahnya langsung memasuki kamarnya, tanpa memperdulikan anak dan menantunya yang menyapanya.


Fika dan Ema saling pandang dengan tatapan bingung kemudian keduanya itu menaikkan kedua bahunya bersamaan.


"Sepertinya kita harus mencari tahunya sendiri." Ucap Ema, sembari mengusap pucuk kepala istrinya kemudian mengecup pipi istrinya dengan mesra.


"Iya aku setuju." Jawab Fika, lalu mengusap rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar itu dengan lembut.


"Apa kamu siap menjadi detektif." Tanya Ema dan diangguki Fika.


"Lalu apa yang harus kita lakukan lebih dulu?" Tanya Ema lagi.


"Sini aku bisikin." Fika menarik leher suaminya agar mendekat.


"Oke ... Oke ...aku setuju, tapi apa rencana ini akan berhasil?" Tanya Ema, saat istrinya itu membisikan sesuatu ke telinganya.


"Kita coba dulu." Ucap Fika, tersenyum senang.


"Ih, istri aku pinter banget sih, jadi makin gemesss... gemess." Ucap Ema, sembari memukul pundak Fika dengan pelan dan berulang kali.


"Bisa tidak sih tangan kamu itu jangan kemayu!" Sungut Fika, dan mencebikkan bibirnya kesal lalu ia menyingkirkan tangan suaminya yang masih memukul pelan pundaknya.


"He he he, tangan boleh gemulai tapi elangku bisa bikin kamu mabuk kepayang, kan?" Ucap Ema, menaik turunkan alisnya dengan tampang mupengnya.


"Apaan sih!" jawab Fika sedikit kesal, namun dalam hati ia membenarkan perkataan suaminya.


Bukan hanya mabuk kepayang, Bang. Tapi, sudah bikin aku tepar dengan sekali tusukan. Batin Fika, meronta.


Kenapa dia jadi hot begitu sih. Batin Fika lagi, dan kali ini wajahnya bersemu merah karena ia tengah membayangkan percintaan panas dengan suaminya.


Arghhh, otakku sudah tidak polos, hiks. Lanjut Fika, lalu menggelengkan kepalanya agar pikiran mesum itu hilang dari kepalanya.


"Kamu kenapa." tanya Ema, sembari menepuk pundak Fika, saat melihat istrinya itu menggelengkan kepalanya.


"Pasti mikirin mesum ya? Atau kamu lagi memikirkan panasnya percintaan kita kemarin malam." Bisik Ema sensual, sembari menggeryangi paha istrinya.


"Jangan nakal!" Sungut Fika, dan menepis tangan suaminya itu, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya lalu berlari menuju kamarnya.


Pahit ... pahit ... Batin Fika, saat sudah merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


Sedangkan Ema yang masih di ruang keluarga kini tertawa terbahak saat melihat ekpresi istrinya yang ketakutan karena ulahnya, kemudian Ema mematikan Televisi yang menyala itu lalu setelahnya ia segera menghampiri istrinya kedalam kamar untuk beristirahat, karena hari sudah malam dan ia pun sudah merasa mengantuk.


*


*


*


Disisi lain Bondan kini tengah berada di dalam kamarnya sembari mengusap foto mendiang istrinya itu.


"Dia kembali di kehidupanku, tapi kini dia kembali dengan status besan, lucu bukan? Ya, Fika kita menikah dengan putranya. Aku rasa kamu sudah tahu segalanya."


"Aku tidak tahu kenapa kamu menginginkan aku kembali bersamanya, Bun." Ucap Bondan pelan, sembari menggelengkan kepalanya.


"Mana mungkin aku menghianati cintamu yang begitu tulus untukku." Ucap Bondan lagi, menatap foto cantik mendiang istrinya.


"Semua yang terjadi biarlah menjadi kenangan. Aku harap kamu mengerti dan semoga kamu tenang di alam sana. Aku mencintaimu, sayang." Ucap Bondan, kemudian ia mengecup foto itu dengan mesra.


Mulut memang mudah untuk berbicara, akan tetapi hati tidak bisa untuk bisa untuk di bohongi. Di dalam relung hati Bondan yang terdalam, rasa itu muncul lagi saat ia bertemu lagi dengan Rima. Namun Bondan, tengah berusaha untuk menepis rasa itu, karena saat ini ia masih sangat mencintai dan menyayangi mendiang istrinya.


Galaukan jadinya, sedikit rumit nih sampe kepala emak cenut-cenut mikirin alur ceritanya.


Kejam kalian kalau nggak dukung Emak. 🤧