Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Terkuak


Fika terdiam, saat ia mendengar penuturan suaminya, dan ia mencoba mempertimbangkan ucapan suaminya itu.


"Kamu jangan khawatir." Ucap Ema, sembari mengusap air mata istrinya.


"Tapi, home schooling itu 'kan mahal." Balas Fika, menundukan wajahnya, sembari mengelus perutnya.


Ema tersenyum, lalu ia ikut mengelus perut istrinya itu dengan sangat lembut, kemudian ia berkata. "Kamu lupa jika suamimu ini kaya raya." Ucap Ema, tersenyum manis, kemudian ia mengecup kening Fika dengan rasa cinta.


"Iya, kamu memang kaya, tapi aku masih takut jika aku hamil muda. Karena yang aku dengar resikonya sangat besar." Jelas Fika, membuat Ema terdiam namun hanya sesaat.


"Nanti kita konsultasi ke dokter dan Mami dulu juga menikah muda, malah waktu itu usianya masih 15 tahun." Ucap Ema, membuat Fika terkejut.


"Benarkah? Pantas saja Mami masih sangat muda dan cantik." Ucap Fika. Dan obloran tentang masalah kehamilan kini berganti membahas mami Rima.


"Hum, tapi usia beliau sudah 52 tahun. Dulu Papiku meninggal saat aku berusia 10 tahun, dan setelah itu Mami tidak pernah menikah lagi." Jelas Ema, membuat Fika menganggukan kepalanya bertanda jika dirinya mengerti.


"Tapi,mana mungkin mami tidak ingin menikah lagi, secara 'kan waktu itu beliau masih muda dan pasti banyak pria yang suka sama mami."


Ucapan Fika, membuat Ema mengingat satu hal yang terlupakan selama ini. "Dulu ada pria yang datang melamar mami, orangnya tampan dan sepertinya usianya masih sangat muda, tapi waktu itu mendiang Opa dan Oma tidak memberi restu karena perbedaan usia mereka." Jelas Ema, membuat Fika menganggukan kepalanya lagi.


Ema masih mengingat jelas dengan kejadian 25 tahun silam, dimana ibunya di lamar oleh pria muda. "Astaga!" Pekik Ema, hingga membuat Fika terkejut mendengarnya.


"Kenapa?" Tanya Fika, mendongak dan menatap suaminya itu.


"Kamu punya foto Ayah waktu masih muda?" Tanya Ema, melepaskan pelukkannya kemudian ia mendudukan diri sembari meremat rambutnya asal.


"Sepertinya ada di kamar Ayah. Hei, kamu kenapa sih?" Tanya Fika panik, saat melihat perubahan wajah suaminya.


"Beritahu aku, karena aku ingin memastikan suatu hal yang sangat penting." Ucap Ema, lalu dengan cepat ia mengenakan pakaiannya dan Fika pun melakukan hal yang sama.


"Ayo." Ajak Fika, lalu menari tangan Ema. Berjalan keluar kamar dan menuju kamar Bondan.


Sampai di dalam kamar Bondan, Fika dan Ema bekerja sama untuk mencari Foto Bondan saat masih muda dulu.


"Disini tidak ada, apa kamu yakin jika Ayah masih menyimpan foto lamanya di kamar?" Tanya Ema, sembari berkacak pinggang dan matanya menelusuri setiap sudut kamar itu.


"Aku sangat yakin karena aku pernah melihatnya, saat membersihkan kamar Ayah. Tapi diletakkan dimana aku tidak tahu." Jelas Fika, membuat mendesah frutasi.


"Lagian, kenapa kamu tiba-tiba ingin melihat Foto Ayah?" Tanya Fika, dengan penuh keheranan.


"Kamu akan tahu jawabannya nanti, jika fotonya sudah ketemu." Jawab Ema, membuat Fika semakin penasaran.


"Coba kamu ambil karton yang ada di atas lemari itu." Fika menunjuk sebuah karton berukuran cukup besar yang terletak diatas lemari pakaian.


*


*


*


*


Fika dan Ema membawa karton tersebut kedalam kamarnya, kemudian Ema membuka karton itu dengan perasaan yang campur aduk dan jantungnya kini berdetak sangat cepat.


Dan benar saja, didalam karton tersebut ada sebuah album foto yang terlihat usang dan ada beberapa barang lainnya seperti baju rajut, syal, dan topi yang sudah terlihat rapuh karena termakan usia.


Ema mengambil Album foto tersebut, kemudian ia membukanya dengan perlahan dan alangkah terkejutnya saat ia melihat foto Bondan waktu masih muda.


Bahkan Ema tak mampu berkata dan kini ia membekap mulutnya dengan tangan kanannya. Melihat reaksi suaminya terlihat syok, Fika pun penasaran dan ikut melihat Foto tersebut.


Tidak ada yang aneh menurut Fika, saat ia melihat foto tersebut. Fika melihat foto ayahnya sambil merangkul seorang wanita. Karena foto itu terlihat hitam putih, Fika tidak bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang di rangkul ayahnya itu.


"Ada apa dengan foto ini?" Tanya Fika, masih belum mengerti dengan keadaan.


"She is my Mom." Ucap Ema, sembari menunjuk foto tersebut.


"Apa?!" Pekik Fika, sangat terkejut dengan ucapan suaminya.


"Oh my god!" Ema meraup wajahnya dengan kasar.


"Jadi mereka—"


"Ya, Ayah adalah pria yang dulu melamar Mami." Ucap Ema pelan, karena ia tidak menyangka jika pria yang sekarang menjadi Ayah mertuanya adalah mantan kekasih Ibunya.


"Ya ampun, pantas saja setiap mereka bertemu pasti tingkah laku mereka sangat aneh." Ucap Fika, ikut syok dan juga sangat terkejut dengan kenyataan ini.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Karena jika dilihat dari tingkah mereka, sepertinya Ayah dan Mami masih saling mencintai" Ucap Fika, kepada suaminya.


Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu ia menundukkan kepalanya kemudian ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


Aku kok deg-degan ya, dengan keputusan Ema.


Kasih dukungan seikhlasnya yak.😘