
Disisi lain, Ema kini tengah menemani istrinya yang sedang belajar di dalam kamar. Keduanya itu tengah duduk diatas lantai kamar tersebut, dengan posisi Fika duduk bersandar di tempat tidur sambil belajar, sedangkan Ema duduk di samping Fika sambil menatap wajah cantik istrinya yang terlihat sangat serius itu.
Cantiknya. Batin Ema, gemas dengan istri kecilnya itu.
"Belajar yang rajin karena sebentar lagi kamu ujian kenaikan kelas." Ucap Ema, sembari mengusap pucuk kepala istrinya.
"Iya, bawel." Jawab Fika, masih fokus ke buku sekolahnya.
"Jika tidak ada yang di mengerti tanyakan kepada suamimu ini." Ucap Ema, dengan sombong, membuat Fika mencebikkan bibirnya kesal.
"Memang kamu bisa?" Fika meragukan kecerdasan suaminya dan Ema menganggukan kepalanya dengan pasti.
"Oh. Aku kira, kamu tahunya cuma tentang make up saja." Ledek Fika, dan berhasil membuat Ema kesal dan menatapnya tajam.
"Ih, bercanda doang." Ucap Fika, lalu menutupi wajahnya dengan buku karena saat ini wajah suaminya terlihat sangat menyeramkan menurutnya.
"Mau di hukum kamu? Hem?" Tanya Ema, lalu menarik Fika keatas pangkuannya dan mendekap istrinya itu dengan erat.
"Minggir dulu, aku belum selesai belajar." Fika memberontak di dalam dekapan Ema.
"Tidak sebelum kamu mendapat hukumanmu dulu." Ucap Ema menyeringai licik.
"Ih, libur sehari apa, masa tiap hari di tusuk terus." Gerutu Fika, membuat Ema ingin tergelak namun ia tahan.
Tuing
"Wah, otak kamu sekarang mesum sekali." Ucap Ema, sembari menonyor kepala Fika.
"Sakit tahu." Dumel Fika, mengusap keningnya. "Aku mesum juga di ajarin sama kamu." Lanjut Fika, membuat Ema mengulum senyum manisnya.
Ih, jangan tersenyum seperti itu, adek meleleh bang. Batin Fika, meronta.
"Habisnya kalau di dekat kamu bawaannya pengen terus, nih si elang saja sudah mengepakkan sayapnya." Ucap Ema, tersenyum nakal. Tubuh Fika langsung menegang saat merasakan sesuatu yang kesar di bawah bokongnya.
Aduh, jangan dulu. Milikku masih sedikit sakit. Punyanya besar sekali sih! Seperti tongkat baseball. Batin Fika meringis, saat membayangakan milik suaminya yang besar dan panjang itu memasukinya.
"Aku tidak akan melakukannya, sekarang belajar lagi yang rajin." Ucap Ema, lalu melepaskan dekapannya. Ia tidak setega itu melakukannya lagi, apalagi ia tahu jika Fikanya masih merasa kesakitan saat ia akan memasuki lorong sempit istrinya itu
"Eh, tidak jadi di hukum?" Tanya Fika.
"Jadi kamu mau di hukum?" Ema balik bertanya sambil menaikan salah satu alisnya.
"Maksudku bukan sepert—"
Ucapan Fika terhenti saat bibirnya di bungkam dengan ciuman yang memabukkan itu. Ema melumaat bibir Fika hanya sesaat, kemudian ia melepaskan tautannya itu dan tersenyum manis lalu menatap istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Itu hukumanmu untuk malam ini, tapi lain kali aku tidak akan mengampunimu." Ucap Ema serak, bertanda ia tengah bergairah, tapi sebisa mungkin Ema menahan dirinya untuk tidak menyentuh istrinya malam ini.
"Iya." Jawab Fika, tersenyun malu dan wajahnya kini terlihat memerah.
Hukuman yang manis. Batin Fika.
"Sudah belajar lagi sana." Ucap Ema, lalu menurunkan istrinya dari pangkuannya, setelah itu Ema beranjak menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Fika, saat melihat suaminya berjalan menuju kamar mandi.
"Mau pipis kamu mau ikut." Jawab Ema, mengerling nakal.
"Nggak!" Sahut Fika cepat, membuat Ema tergelak lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
*
*
*
*
"Kok lama banget di kamar mandinya, ngapain sih?" Gerutu Fika, dan matanya menatap pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka. Pasalnya suaminya itu sudah hampir satu jam di dalam kamar mandi.
"Masa iya tidur." Gumam Fika, sembari membereskan buku sekolahnya dan memasukannya kedalam tas.
Ceklek
"Kok kamu lama banget sih di kamar mandinya? Ngapain aja?" Fika melontarkan banyak pertanyaan, saat suaminya itu sudah keluar dari kamar mandi.
Ema tersenyum lalu berjalan menghampiri istrinya lalu mengecup pipi istrinya dengan gemas dan penuh cinta.
"Habis pipis enak." Jawab Ema, tersenyum simpul Membuat Fika mengerutkan keningnya heran.
Pipis enak? Memangnya ada ya? Fika bertanya dalam hati dan otaknya berpikir keras.
Ada Fika polos 🤭
Kasih dukungan seikhlasnya ya seyeng. 😘