
Seorang pria berdiri di depan pintu gerbang rumah mewah sembari mengumpat kesal. Bagaimana tidak kesal? Jika ia tidak di perbolehkan masuk kedalam rumah tersebut oleh satpam yang berjaga disana, tapi ia tidak kehabisan akal agar bisa memasuki rumah mewah tersebut.
"Pak, kenapa aku tidak di perbolehkan masuk? Aku ini suami dari nyonya kalian berdua," ucap Bondan sembari menatap dua satpam yang berdiri di balik gerbang tersebut.
"Kami tahu, Pak. Tapi, Den Nue tidak memperbolehkan anda masuk, dan ini perintah yang tidak boleh dibantah," ucap salah satu satpam dengan sopan. Tentu saja mereka takut, karena Emanuel yang berkuasa di rumah itu, walaupun sudah tidak tinggal disana. Ema lah yang menggaji seluruh Art dan satpam yang ada di sana. Sebagai bawahan yang tidak ingin kehilangan pekerjaan tentu saja mereka tidak ingin membantah titah Bos besarnya.
Anak itu, benar-benar keterlaluan! umpatnya dalam hati. Saat tahu jika dalang di balik semua ini adalah ulah menantu sekaligus anak sambungnya.
"Baiklah, aku akan menghubungi istriku saja," ucapnya kemudian ia merogoh ponselnya yang ada di dalam waistbagnya, kemudian ia menghubungi istrinya. Dan tidak berselang lama keluarlah wanita cantik dari dalam rumah tersebut menggunakan jubah tidur berwarna pink, Bondan tersenyum senang saat melihat wanita pujaannya yang sudah menjadi istrinya itu menghampirinya.
"Kenapa suamiku tidak di perbolehkan masuk?" tanya Rima, dengan nada yang tidak bersahabat kepada dua satpam tersebut.
Kedua satpam tersebut menundukan kepala tidak berani menatap majikannya yang terlihat sangat marah.
"Maaf, Bu. Ini adalah perintah Den Nue," jawab salah satu satpam dengan kepala yang masih tertunduk.
Rima memejamkan matanya sesaat dan menggeram kesal, karena semua ini adalah ulah putranya. Ia menjadi merasa tidak enak dan merasa bersalah dengan Bondan, karena baru pertama kali berkunjung malah tidak di perbolehkan masuk kedalam rumahnya.
"Mana kunci gerbangnya!" Rima menengadahkan tangannya kepada salah satu satpamnya tersebut, namun tangannya sudah menggantung terlalu lama, tapi kedua satpam itu tak kunjung memberikan kunci gerbang.
"Oke, aku akan mengadukan kalian ke Nue, jika kalian tidak menghormatiku. Pasti kalian tahu sendiri hukuman apa yang akan kalian terima." Rima sedikit menggertak kedua satpam tersebut.
Terlihat jelas jika kedua satpam itu saling senggol dan saling lirik, seolah berkata, bagaimana ini?
Kedua satpam itu seperti akan makan buah simalakama, berada di posisi yang serba salah.
"Em, saya berikan kuncinya tapi jangan di adukan ke Den Nue ya, Bu. Dan kami juga tidak akan mengadukan kalau Pak Bondan berkunjung kesini," tawar kedua satpam tersebut.
Rima tersenyum puas dalam hati, begitu pula dengan Bondan.
"Baiklah, deal ya! Awas kalau masalah ini bocor dan rekaman CCTV yang ada suamiku juga harus kalian hapus," ucap Rima dan di angguki kedua satpam tersebut, kemudian salah satu satpam tersebut membukakan pintu gerbang untuk Bondan.
Bondan segera memasukan motornya kedalam halaman rumah tersebut, setelah pintu gerbang tersebut terbuka.
"Terimakasih," ucap Bondan kepada kedua satpam tersebut.
"Iya pak sama-sama, dan maafkan kami," jawab keduanya, dan Bondan menganggukan kepalanya mengerti.
"Ayo, kita masuk," ajak Rima lalu menggandengan tangan Bondan, memasuki rumahnya.
*
*
*
*
"Maafkan Nue dan kedua penjaga itu ya, mereka sungguh keterlaluan," ucap Rima tidak enak hati, ketika keduanya sudah berada di dalam rumah tersebut.
"Iya tidak apa-apa," jawab Bondan, lalu menarik pinggang ramping Rima hingga menempel erat ketubuhnya.
"Bon." Rima menahan bibir suaminya itu yang akan menciumnya. Bondan mengambil tangan istrinya itu lalu mengecupnya.
"Kenapa? kamu tidak merindukanku?" tanya Bondan, lalu menyatukan keningnya dengan kening Rima.
Rima memejamkan matanya dan menelan ludahnya dengan kasar. Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakan tentang keturunan dengan Bondan, pikir Rima.
"Bukan begitu, ada hal penting yang harus kita bicarakan lebih dulu," ucap Rima pelan, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap netra berwarna abu yang juga menatapnya.
"Kita bicarakan di kamar saja," ucap Rima lalu melepaskan tangan Bondan yang melingkar di pinggangnya.
"Hem, bilang saja sudah tidak sabar," goda Bondan, seraya mencolek dagu istrinya dan lalu ia mengerlingkan matanya nakal.
"Ih, aku serius," kesal Rima, lalu menarik tangan Bondan dan berjalan menaiki anak tangga.
"Pelan-pelan jalannya, sabar nanti juga aku kasih," goda Bondan lagi, membuat Rima memutar kedua matanya dengan malas dan mencebikan bibirnya dengan kesal.
Saat sudah berada di dalam kamar mewah Rima, Bondan langsung membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan Boxer yang menutupi burung Rajawalinya yang sudah siap mengepakkan sayapnya.
Gleg
Rima menelan salivanya ketika melihat tubuh Bondan yang sangat seksih itu, ditambah tonjolan di bawah sana yang terlihat besar dan membuat bagian bawahnya berkedut kencang.
"Bon, tunggu dulu ada yang harus kita bicarakan, ini penting," ucap Rima dan menahan dada bidang suaminya yang akan mencumbunya.
"Aku sudah tidak tahan sayang," ucap Bondan dengan nafas yang memburu lalu mengecupi leher Rima dengan penuh gairah.
"Emh Bon," Rima meracau ketika lehernya di cumbu dengan sangat rakus oleh suaminya. Lalu ia menarik dirinya dan cumbuan itu terlepas.
"Bon, dengarkan aku dulu," kesal Rima.
Bondan menatap Rima sudah seperti singa kelaparan, kemudian ia menarik tengkuk Rima dan mencium bibir itu dengan sangat rakus. Dan kedua tangannya menarik tali jubah tidur istrinya itu lalu ia melemparkannya jubah tersebut dengan asal. Dan terpampanglah tubuh mulus dan molek yang terbungkus lingerie warna merah yang membuat Rima semakin terlihat sangat seksih.
"Owh, kamu sudah mempersiapkan semuanya, sayang? Jadi mari kita mulai malam panjang kita," desis Bondan di dekat telinga Rima.
Rima yang mendengarkan suara Bondan yang sangat berat nan seksih itu, malah semakin membuat Rima panas dingin dan semakin merinding dibuatnya.
"Bon, kita berbicara dulu ini masalah anak," ucap Rima dengan pelan dan membelai rahang tegas suaminya.
Bondan yang ingin menerkam istrinya pun menghentikan pergerakannya. "Maksud kamu apa?"
"Apa kamu ingin mempunyai anak dengan ku? Maksudku baby?" tanya Rima dan menatap lekat wajah suaminya.
Bondan tersenyum, kemudian ia mengusap lembut tangan kanan istrinya.
"Tentu saja mau jika tuhan memberikan kesempatan dan percaya kepada kita, tapi jika tidak ya tidak apa-apa karena sudah ada Fika, Nue dan juga Cucu kita. Lagi pula umur kita ini sudah tua, dan sangat beresiko jika kamu mengandung di umur saat ini," jawab Bondan, tersenyum lembut membuat Rima bernafas lega.
"Tapi jika nanti kalau aku hamil bagaimana? Apalagi kamu sudah menanamkan benihmu dua kali?" tanya Rima dengan wajah lesu.
"Kita tunggu saja sampai bulan depan dan untuk saat ini aku akan mengeluarkannya diluar," jawab Bondan lalu ia mulai mendekatkan wajahnya dan bibirnya berusaha untuk meraih bibir istrinya.
"Diluar mana enak! " jawab Rima, kemudian ia berjalan kearah meja rias dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja rias tersebut.
"Pakai ini ya?" tanya Rima sembari memperlihatkan sesuatu kepada Bondan.
"Ish, nakal ya kamu!" Bondan langsung menerjang tubuh istrinya dan membawanya keatas ranjang.
Dan selanjutnya keduanya itu.
Bersambung...🤪
Udah gerah dan panas eh digantung🤣
Makasih semuanya yang sudah mendukung karya Emak dan mengikuti karya Emak sampai saat ini. SG sudah 100 bab loh. Wah nggak berasa ya, perasaan baru kemarin rilis, 🎉
Udah gitu aja Emak ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kalian semua,, dan jangan lupa tetap dukung karya Emak ya 😘