
Fika mulai membuka kedua matanya dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah suami tampannya yang tertidur miring menghadapnya dan merengkuh tubuh rampingnya.
Fika mengulas senyum kemudian tangannya terulur untuk menelusuri wajah suaminya yang sangat tampan itu dan tangan Fika terhenti saat jarinya menyentuh bibir seksih yang semalaman suntuk mencumbunya tiada henti. Ya, tadi malam Ema meminta tambah satu ronde lagi dan Fika hanya bisa pasrah saja, karena sentuhan tangan suaminya membuatnya mabuk kepayang.
Teringat hal itu, Fika, tersenyum malu dan wajahnya bersemu merah. Ah, ia tidak menyangka jika malam pertamanya akan terjadi secepat ini, bahkan ia dulu sempat menolak untuk tinggal satu rumah dengan Ema. Namun kenyataanya sekarang, ia sudah menjadi milik suaminya seutuhnya.
Setelah puas menatap dan menelusuri wajah tampan suaminya, ia berniat untuk menarik tangannya namun gerakannya tertahan saat tangannya sudah di cekal lebih dulu oleh Ema. Dengan cepat, Fika, segera memejamkan matanya lagi.
Oh, My God. Jadi sejak tadi dia sudah bangun,, malunya. Batin Fika.
Ema tersenyum lalu membuka kedua matanya dan menatap wajah istrinya yang pura-pura tidur.
CUP
Ema mengecup tangan istrinya yang ada di genggamannya, kemudian berlanjut mengecup bibir istrinya yang masih terlihat bengkak karena ulahnya tadi malam, ia menggigit gemas bibir itu saat akan mencapai pelepasan keduanya.
"Nue!" Kesal Fika, dan membuka matanya kembali, saat bibirnya dikecup berulang kali oleh suaminya.
"Pagi." Sapa Ema, dengan suara serak khas bangun tidur dan memperlihatkan senyuman manisnya.
Fika yang tadinya ingin marah, kini menjadi meleleh saat melihat ekspresi wajah suaminya yang sangat menggoda imannya.
Kenapa kamu ganteng banget sih, bangun tidur aja ganteng maksimal kayak gitu, Jadi pengen ngarungin kamu deh, biar gak di lihat sama cewek lain. Batin Fika, gemas sendiri dengan suaminya.
"Kenapa diam? Bukannya kamu tadi mengagumi ketampanan suamimu ya?" Goda Ema.
"Ih, nggak ya, pede banget sih." Elak Fika, lalu menundukan pandangannya ke arah dada bidang suaminya yang ada beberapa tanda merah disana.
Ya ampun, ternyata aku ganas juga ya. Batin Fika, ia merasa sangat malu.
"Ini hasil karya kamu, tadi malam kamu sangat ganas sekali dan juga suara desa.... Emmpp." Ucapan Ema terhenti, saat bibirnya di bekap dengan telapak tangan Fika.
Ema tergelak ketika melihat wajah istrinya yang sudah merona malu, kemudian Ema menyingkirkan tangan mungil Fika yang masih menempel di bibirnya. Lalu Ema, merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapan hangatnya.
"Kamu malu?" Tanya Ema, sembari mengelus punggung polos istrinya dan sesekali ia mengecup lembut pucuk kepala Fika dengan penuh kasih sayang.
"Iya, makanya jangan di bahas lagi." Rengek Fika manja.
"Tapi, praktek langsung boleh ya?" Tanya Ema, membuat Fika mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya dengan bingung.
"Ini, dia sudah on lagi." Jawab Ema, seolah tahu apa yang ada di pikiran istrinya. Lalu ia menarik tangan Fika dan mengarahkannya ke sesuatu yang panjang dan keras di bawah sana. Mata Fika, membola sempurna dan secepat kilat ia menarik tangannya dan mengumpati suaminya itu.
"Dasar menyebalkan!! Apa tidak kurang tadi malam? Kamu minta jatah 2 kali loh!" Sungut Fika, sembari memukul pelan dada Ema.
"He he he, enak sih. Jadinya mau berapa ronde pun kurang terus." Jawab Ema ringan, membuat Fika mendelik kesal.
"Dasar mesum!!!" Umpat Fika, lalu ia melepaskan pelukan suaminya dan ingin beranjak dari tempat tidur, namun baru saja akan menurunkan sebelah kakinya, gerakannya tertahan saat ia merasakan nyeri yang luar biasa di bagian bawahnya.
"Ahh, sakit." Rintih Fika, sembari menggigit bibir bawahnya.
Mendengar istrinya merintih kesakitan, Ema langsung bangun dan memeluk istrinya dengan erat dari samping.
"Maaf, masih sakit ya?" Tanya Ema, merasa sangat bersalah.
"Iya." Fika mengangguk pelan di pelukan suaminya.
"Coba aku lihat, aku ingin mengobatinya." Ucap Ema polos.
"Hah? Apa yang di obati?" Beo Fika, ia mendongakkan kepalanya dan menatap Ema yang juga tengah menatapnya.
"Itu, punyamu. Kan punyamu kecil dan punya ku besar dan bisa jadi milikmu terluka parah." Ucap Ema lagi, membuat Fika mengapit kedua pahanya dan menatap suaminya sebal.
"Aku serius sayang." Jawab Ema, dan memperlihatkan wajah manisnya, membuat Fika langsung memalingkan wajah karena ia tidak tahan jika melihat wajah tampan suaminya itu.
Duh, tampannya. Batin Fika gemas.
"Antar aku ke kamar mandi saja, sepertinya berendam bisa membuat tubuh ku rilex." Ucap Fika, mengalihkan pembicaraan.
"Berendam itu perlu waktu yang cukup lama, sedangkan ini sudah hampir jam 7." Ucap Ema, tersenyum sembari menatap jam yang terletak di meja nakas.
"Hah? Aku telat sekolah dong." Ucap Fika dengan lesu. "Ini gara-gara kamu!" Lanjut Fika dengan nada sewot.
"Lah kok aku? Tadi malam kita sama-sama enak loh, apa lagi kamu merem melek dan terlihat sangat sek—"
"Stop!!!!" Potong Fika dengan cepat, sembari menutup kedua telinganya.
"He he he, Love You." Ucap Ema, lalu mengecup bibir manis itu yang sedang cemberut dan menyesapnya sesaat.
"Sekarang mandi saja, dan nanti kita kesalon. Mau ya di SPA biar badanmu rileks." Ucap Ema, sembari mengangkat tubuh polos istrinya menuju kamar mandi.
"Iya." Jawab Fika, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya.
*
*
*
Sedangkan di lantai bawah, bibi sedang membersihkan ruang tamu dan matanya sembari melirik ke arah tangga.
"Sudah jam 7 lewat, tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Duh, bangunin nggak ya? Tapi kalau di bangunin nanti mengganggu lagi." Ucap Bibi, dilema, kemudian Bibi melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Kira-kira Den Nue, bisa bobol gawang nggak ya? Secara 'kan Den Nue, gemulai begitu. Ah, gara-gara ibu nih, otakku jadi mikir yang enak-enak, mana lagi LDR an lagi." Gerutu Bibi, lalu menggelengkan kepalanya, setelah pekerjaannya di ruang tamu selesai, ia berpindah ke ruangan lainnya.
Sementara itu Nue dan Fika sudah selesai membersihkan diri dan juga berpakaian rapi.
"Kamu pakai apa itu?" Tanya Fika, saat melihat Ema mengoleskan sesuatu di bibirnya.
"Pelembab bibir, kamu mau pakai?" Tanya Ema balik.
Ah, pantas saja bibirnya lembut banget. Batin Fika.
"Boleh deh." Ucap Fika, menengadahkan tangannya, meminta pelembab bibir itu dari Ema.
"Kalau buat kamu ada cara khusus untuk memakai pelembab bibir ini." Ucap Ema, membuat Fika mengerutkan kening.
"Caranya?" Tanya Fika heran.
"Begini caranya—" Ema tidak melanjutkan ucapannya, namun ia langsung menarik tengkuk Fika dan mengecup bibir manis itu yang sudah jadi candunya, kemudian Ema menyesap bibir itu dengan lembut.
Fika melotot sempurna dan langsung mendorong dada bidang Ema, agar tautan itu terlepas.
"Nah, ini baru benar." Ucap Ema terkekeh, lalu mengusap bibir istrinya itu dengan ibu jarinya.
"Dasar modus!!!!"
Nue pinter banget ya sekarang, pengen jadi Fikanya, 🤭
Jangan pelit like!! Pembacanya makin banyak tapi yang ngelikenya dikit banget🤧