Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Katakan, apa mau kalian?!


Emanuel menggenggam tangan Fika dengan erat, kemudian ia menundukan kepalanya dan mengecup kening istrinya dengan lembut dan cukup lama.


"Maafkan aku." Bisik Ema, lalu ia menangkup salah satu sisi wajah Fika. Air matanya luruh begitu saja, ia tidak mampu untuk menahan kesedihannya dan ia juga merasa sangat bersalah kepada istrinya.


"NO, ini juga salahku. Aku yang tidak bisa menjaganya." Ucap Fika, ia belum tahu jika kandungannya terselamatkan. "Maaf, aku mengecewakanmu, aku bukan ibu yang baik. Maafkan aku." Ucap Fika terisak, sembari menghapus air mata suaminya.


"Tidak, kamu tidak salah sayang." Lirih Ema terisak, lalu memeluk istrinya dengan erat dan Fika membalasnya tak kalah erat. Kemudian Ema mengurai pelukannya, dan menatap istrinya dengan mata yang sembab. "Kamu wanita kuat, terimakasih sudah berjuang untuk mempertahankan anak kita." Lanjut Ema, sembari mengusap perut istrinya dengan penuh kelembutan.


"Jadi? Anak kita—"


Ema mengangguk dan air matanya keluar lagi membasahi pipinya. "Iya, dia masih disini, dia kuat seperti kamu." Ucap Ema, tersenyum lembut.


Tangis Fika langsung pecah dan ia juga tersenyum bahagia, lalu ia memeluk suaminya lagi dengan erat.


"Terimakasih Tuhan." Ucap Fika terisak, di balik ceruk leher suaminya.


Keduanya itu saling berpelukan erat dan mengucapkan syukur kepada Tuhan. Saling melepaskan kesedihan yang beberapa saat yang lalu menyesakkan dada dan kini tergantikan perasaan bahagia.


"Sudah jangan menangis lagi." Ema mengurai pelukannya dan menghapus air mata istrinya, kemudian ia mengecup kedua mata Fika dengan lembut.


"Sekarang kamu harus banyak istirahat dan harus bedrest, karena kandungan kamu sangat lemah." Ucap Ema, tersenyum lembut lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Iya." Jawab Fika dengan lirih dan tersenyum tipis.


"Sekarang kamu istirahat ya dan sebentar lagi dokter akan memindahkanmu ke ruang rawat." Ucap Ema, sembari mengelus kepala Fika.


"Iya." Jawab Fika tersenyum. Setelah itu Ema menghubungi Mami Rima dan Ayah Bondan untuk mengabarkan kondisi Fika saat ini.


*


*


*


*


Dengan setia Ema duduk di samping tempat tidur pasien dan menggenggam tangan Fika dengan erat. Ema tersenyum tipis saat melihat istrinya tertidur dengan mulut yang terbuka.


Kamu adalah bahagiaku, mau seperti apapun dirimu, aku tetap mencintai dan menyayangimu. Batin Ema.


Baby, terimakasih sudah bertahan di perut mama. Papa berjanji akan terus menjaga kalian. Lanjut Ema dalam hati, sembari mengusap perut Fikanya dengan lembut.


Suara pintu kamar tersebut terbuka dari luar, Ema menoleh dan menatap pintu tersebut, dan ternyata Bandan dan Rima lah yang datang.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Tanya Bondan, dengan nada penuh emosi dan menatap tajam menantunya.


Ema melepaskan tangan istrinya dengan lembut, agar Fika tidak terbangun, kemudian ia beranjak dari duduknya dan berhadapan dengan kedua orang yang ia segani itu.


"Bisa kita bicara." Ucap Ema dengan nada yang serius dan menatap Ayah mertua dan maminya bergantian.


Kemudian Ema berjalan keluar dari ruangan rawat tersebut dan di ikuti oleh Bondan dan Rima.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Rima, saat sudah berada di luar ruangan itu.


"Aku yang seharusnya bertanya, kalian ini kenapa!" Ema balik bertanya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, bagaimana bisa Fika bisa seperti itu dan hampir kehilangan bayinya! Apa kamu tidak becus menjaganya!" Ucap Bondan dengan nada penuh emosi.


"Aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Ucap Ema, kepada kedua orang yang berada di hadapannya itu.


"Ya! aku tahu jika kamu tidak bisa menjaganya!" Cibir Bondan masih emosi.


"Sudah, kenapa kalian ini menjadi seperti ini? Nue, sekarang katakan apa tujuanmu ingin berbicara dengan kami." Ucap Rima, sekaligus melerai kedua orang pria yang ada di hadapannya.


"Sekarang katakan, apa mau kalian?!" Tanya Ema tegas dan menatap tajam kedua orang itu.


Ada bawang dan tegangnya juga ya, 🤧


Kasih dukungannya ya gaes,, dengan cara like, vote, komentar dan kasih gift semampu kalian.