Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Ekstra part 4


Hari demi hari terlalui begitu cepat, tidak terasa usia Arjuna kini sudah berusia lima tahun dan Fika juga sudah selesai menyelesaikan pendidikannya hingga tamat kuliah dengan nilai yang sangat membanggakan. Bisnis Emanuel juga semakin sukses dan rencanakan ia akan mengalihkan salon, butik beserta cabangnya kepada Fika istrinya. Dan ia sendiri akan fokus mengelola hotelnya dan beberapa cabang yang baru saja ia bangun di beberapa kota besar di negaranya itu.


"Kamu yakin akan menyerahkan sebagian hartamu untuk istrimu ini?" tanya Fika, sembari bergelayut manja kepada suaminya yang sedang memeriksa pekerjaanya di ruang pribadinya.


Begitulah keduanya akan bermesraan jika Arjuna menginap dirumah Oma dan Opanya. Bayi kecil itu sudah tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan menggemaskan.


"Iya, sayang," ucap Ema, tersenyum lalu mengecup pipi istrinya dengan mesra.


"Apa kamu tidak takut jatuh miskin?" tanya Fika, lalu duduk di pangkuan Ema, dan melingkarkan tangannya keleher kokoh itu.


"Tidak, karena harta berharga saat ini adalah kamu dan Arjuna," jawab Ema, lalu menarik tengkuk istrinya dan ******* bibir manis itu dengan lembut.


Hati Fika menghangat ketika mendengar ucapan suaminya. Ia merasa sangat berharga di mata suaminya dan ia merasa menjadi wanita yang beruntung di dunia ini karena mempunyai suami yang super baik, pengertian dan tampan.


"Aku percayakan padamu," ucap Ema, setelah ciuman itu terlepas.


"Tapi, aku tidak tahu cara mengelolanya?" tanya Fika, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu yang selalu membuatnya nyaman.


"Nanti Ruri akan mengajarimu, jangan takut ada aku juga yang akan mendampingimu," jawab Ema, tersenyum lalu melanjutkan pekerjaanya lagi, tanpa merasa terganggu istrinya yang ada di pangkuannya sembari mengendusi dada bidangnya.


"Sayang, bikin adik untuk Juna, Yuk!" ajak Fika, dengan malu-malu.


"Hem? Apa tamu bulananmu sudah pergi?" tanya Ema, karena seminggu belakangan ini istrinya itu mendapat tamu bulanan sehingga membuatnya kepalanya pusing atas bawah karena tidak bisa melampiaskan hasratnya.


"Sudah, makanya ayo. Mumpung Juna ada di rumah Ayah dan Mami," ajak Fika lagi.


"Tapi masih pagi, Yank." Ema melirik jam yang menempel di dinding ruang pribadinya.


"Jadi tidak mau? Tidak ada kesempatan kedua kalinya!" ketus Fika, ingin beranjak dari pangkuan suaminya.


"Mau kebawah saja nonton drakor! Untuk apa disini kalau tidak di butuhkan!" ketus Fika lagi.


"Siapa yang tidak membutuhkanmu? Apa kamu tidak merasakannya?" Ema menekan bokong Fika kebawah.


"Terasa, si elang pengen masuk kesarangnya," jawab Fika, dan Ema mengangguk tersenyum lalu menggendong istrinya menuju kamarnya.


*


*


*


"Ah, Nue!" ketika sampai dikamar, suaminya itu langsung menyerangnya tanpa ampun, dan melucuti pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


"Kamu yang menginginkannya bukan? Jadi bersiaplah untuk mendessah seharian ini," ucap Ema, lalu membuka seluruh pakaiannya sendiri hingga polos, baru setelah itu menindih tubuh istrinya dan mulai melakukan foreplay yang membuat Fika terus mendesaah dan melenguh hingga terbang diatas awan.


"Cepat masukan, Yank. Jangan siksa aku," pinta Fika, memohon. Dan tanpa diminta lagi, Ema langsung memasukan seluruh tubuh elang kedalam sarangnya yang sudah banjir dengan sekali hentakan. Dan detik selanjutnya, hanya terdengar suara desahaan, lenguhan dan decapan memenuhi seluruh kamar tersebut hingga menjelang siang barulah mereka selesai menuntaskan hasrat yang selama satu minggu ini terpendam.


"Cepat tumbuh ya sayang," bisik Ema, di dekat perut Fika, lalu ia mengusap dan mencium perut rata itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Berharap jika pasukan kecebong yang baru ia semprotkan kerahim istrinya segera tumbuh menjadi berudu.


Panaas ya,, 🔥🔥🔥


Hai! Makasih semuanya sudah dukung karya emak ya,😘😘


Sembari nunggu ekstra part, Yuk mampir ke sebelah di OH! MY BODYGUARD.