Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Diatas?


Karena jam pelajaran sudah usai, Afika memasukan buku pelajarannya kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Dan ia tidak memperdulikan temannya yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan rasa bersalah.


"Fik, lo beneran marah sama gue ya." Tanya Irfan, dengan lesu.


Fika menghentikan gerakan tangannya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia menoleh dan menatap kesal Irfan.


"Memangnya pertanyaan lo itu harus gue jawab?!" Tanya Fika, kesal.


"Harus dong, gue minta maaf." Ucap Irfan, sembari mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Tapi, sayangnya gue sudah sakit hati sama lo!" Ucap Fika, lalu mengenakan tasnya dan beranjak dari duduknya.


"Fik, lo kejam banget sama gue." Ucap Irfan sedih.


"Yang kejam disini itu lo! Teman macam apa lo!" Sentak Fika, lalu berjalan meninggalkan Irfan yang mematung di tempat duduknya.


"Fik, sepertinya lo sudah benci banget sama gue. Tapi, memang pantes banget, lo marah sama gue yang bego ini" Gumam Irfan, menyalahkan dirinya sendiri.


Sedangkan Fika yang berjalan di lorong sekolahnya sambil menggerutu kesal, dan langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Nadia.


"Apa lagi nih!" Kesal Fika, lalu menyentakkan tangannya.


"Gue nggak nyangka ya, Fik. Ternyata lo itu kejam banget jadi cewek." Ucap Nadia, dan menatap Fika dengan penuh kebencian.


"Maksud lo apa!" Tanya Fika, sedikit geram.


"Antoni!" Ucap Nadia.


Dan seketika Fika paham kemana arah pembicaraan Nadia saat menyebut nama si kunyit.


"Kenapa dia?" Tanya Fika, santai dan menyunggingkan senyum sinisnya.


"Tega lo ya! Dia di rawat di rumah sakit karena lehernya terkilir dan juga tulang rusuknya patah, dan semua itu gara-gara lo." Amuk Nadia dan menatap tajam Fika.


Waow, hebat juga laki gue. Bisa membuat leher orang terkilir dan membuat tulang rusuk si kunyit patah. Batin Fika, memuji suaminya.


"Bagus deh, salah sendiri dia yang nyari penyakit! Lagian sua—, maksudnya pacar gue tanggung jawab dengan biaya operasi dan biaya perawatan kunyit sampai sembuh. Baik banget 'kan pacar gue? Anggap saja itu hukuman untuknya karena sudah menyebarkan foto gue!" Ucap Fika, panjang lebar membuat Nadia terdiam.


Hampir saja keceplosan. Batin Fika.


"Tapi tetap saja lo salah! Semua tidak harus di selesaikan dengan kekerasan, kan!" Sungut Nadia.


"Terus di balas pakai apa? Haruskah dibalas dengan mengeshare foto bugil lo bersama Antoni di hotel?" Balas Fika, membuat tubuh Nadia menegang.


"Lo!" Nadia menuding Fika dengan jari telunjuknya.


Bagaimana bisa dia tahu, kalau gue punya koleksi foto bugil bareng Antoni. Batin Nadia geram, karena ia merasa kecolongan.


"Well, mulai sekarang lo harus berbaik hati sama gue!" Ucap Fika, tersenyum sinis kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran dimana suaminya sudah menunggu disana.


"Brengsek!!" Umpat Nadia, dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, saat Fika sudah mulai menjauh dari pandangannya.


Ha ha haa, dasar cewek bego! Padahal gue cuma mengancam dia, tapi saat melihat raut wajahnya yang kaget bercampur ketakutan, sepertinya dia memang punya koleksi foto bugil itu. Batin Fika, tergelak menertawakan kebodohan Nadia.


Fika tersenyum senang dan terus melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah, dan benar saja mobil suaminya sudah terparkir disana.


"Sayang." Ucap Ema sedikit terkejut, saat Fika membuka pintu mobil dan duduk di sebelahnya, kemudian Ema melepaskan headseat yang terpasang di kedua telinganya.


"Sudah lama? Kok kamu ganti baju sih?" Tanya Fika, saat melihat suaminya mengenakan pakaian santai dengan baju berwarna hitam dan celana panjang berwarna Abu, ditambah lagi suaminya itu mengenakan kaca mata, membuat Ema terlihat semakin tampan dan menggoda.


"Nggak baru saja, memangnya kenapa? Aku ganteng ya?" Ucap Ema tersenyum manis, sembari mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.



"Ganteng banget." Jawab Fika Jujur, dan menatap suaminya itu dengan penuh cinta.


"Uh, sini peluk. Aku kangen banget tahu." Ucap Ema, merentangkan kedua tangannya dan dengan malu-malu Fika menghambur memeluk Ema dengan erat.


"Aku juga kangen banget." Bisik Fika, membuat Ema tersenyum bahagia, kemudian Fika mengurai pelukkannya lalu menarik tengkuk suaminya dan mengecup bibir seksih itu berulang kali.


"Nakal ya sekarang." Ucap Ema, lalu membalas kecupan itu dengan lumaatan. Dan sudah di pastikan adegan sosor-sosoran pun tidak terelakkan lagi.


"Sudah, nanti kita lanjutkan dirumah." Ucap Fika, mendorong dada bidang suaminya.


"Memangnya sudah nggak sakit?" Tanya Ema, sembari mengusap lembut pipi Fika yang terlihat merona.


"Kayaknya sudah nggak." Jawab Fika, menunduk malu.


"Jadi si elang boleh masuk ke terowongannya?" Tanya Ema, dan Fika menganggukan kepalanya pelan.


"Yes!! Nanti kamu diatas ya." Ucap Ema senang, dan menaik turunkan alisnya.


Hah, diatas? Mau ngapain? Batin Fika polos.


Itu loh main kelereng, Fik. 🤣


Senin!! Vote! Vote!!


Dukung terus karya Emak yak.😘