Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Panik!


Sedangkan Bondan yang tengah berada di dalam kamar, menatap punggung polos itu sembari mengelus lengan Rima dengan sangat lembut. Kemudian Bondan mengecup punggung polos itu berulang kali dengan penuh kelembutan dan penuh sayang.


Rima menggeliat geli, ketika ia merasakan kecupan lembut itu.


"Bon, aku lelah," lirih Rima, masih memejamkan matanya.


Bagaimana tidak lelah, jika Bondan menggempurnya selama hampir satu jam lebih, dan itu membuat tubuhnya remuk.


Bondan tersenyum di balik punggung Rima, kemudian ia memeluk Rima dari belakang dengan erat. Tubuh keduanya itu masih polos dan kulit mereka kini bersentuhan, membuat si rajawali mengangkat kepalanya kembali.


"Tidurlah." Bondan berucap, sembari mengeratkan pelukannya dan mencium punggung Rima yang polos itu.


"Hem, aku mau ke kamarku saja. Tidak enak jika anak-anak melihat jika kita satu kamar, apalagi kita sudah itu," Rima terlalu malu mengucapkannya, dan ia merutuki dirinya sendiri karena tidak mampu menahan gairahnya sendiri dan sekarang ia tidak mempunyai alaasan lagi untuk menolak pinangan Bondan.


"Aku akan menikahimu, dan kita akan membicarakan ini dengan Nue dan Fika." Bondan berucap sembari memelintir pucuk bulatan kenyal itu dengan gemas.


"Iya tapi tanganmu jangan nakal. Nanti kita khilaf lagi." Rima menepis tangan Bondan yang nakal itu.


"Kamu setuju jika kita menikah secepatnya?" tanya Bondan lagi.


"Iya, sudah terlanjur," balas Rima, lalu membalikkan tubuhnya dan kini ia berhadapan dengan Bondan.


"Jadi kamu terpaksa?" tanya Bondan lagi, sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Rima.


"Tidak, hanya saja aku masih sedikit ragu," jawab Rima, lalu menundukan pandangannya.


"Kenapa?"


Rima ragu untuk mengatakannya kepada Bondan.


"Katakan apa yang mengganjal di hatimu," ucap Bondan, lalu mengangkat dagu Rima dan mengecup bibir manis itu dengan lembut.


"Apa kamu masih mencintai mendiang istrimu?" tanya Rima hati-hati dan ia tidak berani menatap mata Bondan yang sedang menatapnya lekat.


Bondan tersenyum, kemudian ia menangkup wajah Rima dengan kedua tangannya.


"Aku masih mencintainya dan juga mencintaimu," jawab Bondan, membuat Rima terdiam dan menghela nafasnya dengan dalam.


"Seperti kamu masih mencintai mendiang suamimu." lanjut Bondan, dan Rima mengangguk bertanda jika ia membenarkan ucapan pria yang ada di depannya itu.


"Tapi, mendiang istriku berada di tempat berbeda tepatnya di sudut hati ini dan sampai kapanpun akan tetap berada disana. Walau bagaimana pun juga, mendiang istriku adalah wanita yang pernah hadir dalam hidupku dan memberiku kebahagiaan dan juga putri kecil untukku. Dan kamu juga berada di sudut hatiku yang lain, bedanya cintaku padamu akan terus membesar, hingga kita menua nanti." Jelas Bondan dengan lembut, lalu tersenyum menatap Rima yang masih terdiam.


"Jadi?"


"Kamu pasti merasakan yang aku rasakan, apalagi kita menjadi single parent karena pasangan kita telah tiada, dan tidak mungkin 'kan jika kita melupakan cinta, kasih sayang dan kenangan yang telah mereka berikan. Dan mereka akan selalu terkenang disini," jelas Bondan sembari menunjuk dada Rima, dan Rima mengangguk lagi kemudian tersenyum lembut.


"Jadi, bisakah mulai saat ini kita memulai semua dari awal lagi?" tanya Bondan lembut, sembari menangkup salah satu sisi wajah Rima.


"Iya," Jawab Rima, mengangguk malu.


"Dan bisakah jika kita ngulang kegiatan yang panas tadi?" tanya Bondan, sudah memajukan wajahnya dan ingin meraup bibir manis itu. Tapi, gerakan Bondan terhenti ketika mendegar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


"Ayah?! Ayah di dalam?!" teriak Ema dari luar dan terus menggendor pintu.


Bondan dan Rima saling pandang, namun hanya sesaat karena keduanya itu sudah kalang kabut dan mencari pakaiannya masing-masing yang tercecer di atas lantai.


"Bon! Bagaimana ini?" ucap Rima panik, sembari mengenakan pakaiannya.


"Sembunyi!" ucap Bondan, lalu menuntun Rima ke kolong tempat tidur.


"Ih! ini tidak muat!" kesal Rima.


"Di kamar mandi, ayo!" Bondan menarik Rima menuju kamar mandi. "Kamu sembunyi disini dulu."


"Eh, tapi Br* dan celanaku," ucap Rima bertambah panik, karena Ema terus mengetuk pintu kamar tersebut.


"Iya, sebentar." Bondan berlari memungut Br* dan celana panjang Rima, kemudian ia memberikan kepada pemiliknya.


"Bon! Pakai bajumu dulu!" pekik Rima, saat melihat Bondan masih terlihat polos.


"Oh ya ampun!" Bondan menepuk keningnya, lantaran terlalu panik.


"Ayah ada didalam? Apa Ayah baik-baik saja? Aku dobrak pintunya ya!!" teriak Ema lagi, membuat Bondan dan Rima semakin panik.


Ketahuan kan, kalian!! 🤣


Kasih dukungannya ya, jangan lupa😘