
Hari semakin siang, Emanuel kini sedang melakukan meeting virtual dengan kliennya di ruang kerjanya.
Terlihat sekali jika Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar berulang kali, ketika kliennya ingin bertemu langsung dengannya untuk penandatanganan kontrak kerja. Dan jika Ema tidak mau menemuinya maka kerja sama akan batal, dan sudah di pastikan jika hotel dan beberapa cabang lainnya akan terkena dampaknya, karena kliennya saat ini adalah orang yang cukup berpengaruh di dunia bisnis perhotelan.
Bagi Ema, uang bukan masalah untuknya, karena ia masih mempunyai beberapa usaha seperti salon dan juga butik yang sudah mempunyai banyak cabang, ditambah lagi ia juga seorang make up artis yang mempunyai bayaran yang sangat tinggi. Sudah di pastikan penghasilannya mencapai milyaran rupiah setiap bulannya. Akan tetapi, ia tidak ingin jika usahanya yang ia rintis dari nol itu berakhir dengan sia-sia.
Ema segera menutup laptopnya, ketika meeting itu sudah selesai. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ruri.
"Ya, Bos?" jawab Ruri di seberang sana.
"Apa kliennya kita masih ngotot untuk bertemu denganku?" tanya Ema, sembari menyenderkan punggungnya di senderan kursi kerjanya.
"Iya, tapi ini sedikit aneh."
"Aneh?" beo Ema, lalu menegakkan punggungnya dan mendengarkan penjelasan dari Ruri.
"Baiklah, aku mengerti dan aku akan ikuti aturan mainnya," jawab Ema, kemudian ia mematikan sambungan telepon tersebut, lalu ia meletakkan ponselnya diatas meja dengan kasar.
"Apa maumu sebenarnya?" gumam Ema, sembari menyugar rambutnya kebelakang dengan kasar. "Aku akan mengikuti permainanmu, jika kamu menggigitku maka jangan salahkan aku, jika aku akan memukulmu," desis Ema dengan sorot mata yang sangat tajam.
Sedangkan Fika di dalam kamar merasa galau dan ia pun memutuskan untuk menghubungi Irfan, karena ia merindukan temannya itu. Cukup lama ia menghubungi Irfan sampai ia tidak sadar jika suaminya sudah merebahkan diri disampingnya.
"Eh, sayang. Bikin kaget saja," ucap Fika tersenyum, lalu segera mematikan ponselnya.
"Kenapa dimatikan? Sudah capek ha ha hi hi nya?," tanya Ema dengan sangat ketus.
"He he hee, masa iya kamu cemburu dengan Irfan," ucap Fika sedikit terkekeh lalu meletakkan ponselnya di samping bantalnya kemudian ia memeluk lengan suaminya dengan erat.
"Aku tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya," jawab Ema masih terdengar ketus. "Dia itu suka sama kamu!"
"Kamu menganggapnya teman, tapi dia menganggapmu berbeda, apa kamu tidak lihat sorot matanya saat menatapmu?!" ucap Ema dengan penuh emosi dan menatap tajam istrinya. Tentu saja hal itu membuat Fika takut, apa lagi jika suaminya marah sangatlah mengerikan seperti saat ini.
"Kenapa kamu jadi sensitif begini? Aku minta maaf jika salah," ucap Fika, lalu memeluk suaminya dengan erat.
"Sejak awal aku sudah memperingatimu untuk menjauhinya, bukan? Kenyataanya hubungan pertemanan antara pria dengan wanita tidak semudah yang dibayangkan. Perasaan, hati, dan emosi seringkali ikut campur. Kamu paham?" tanya Ema, lalu mengusap pipi istrinya. Emosinya meluap begitu saja saat melihat istrinya terisak lirih di pelukannya.
"Kamu bisa mempertahankan prinsip pertemanan dengan Irfan. Sementara pria itu justru memiliki kecenderungan melanggar prinsip pertemanan itu dengan secara diam-diam mengembangkan perasaannya ke padamu dari 'teman biasa' menjadi 'teman spesial'. Aku harap kamu mengerti, dan maaf bukannya aku membatasimu tapi aku tidak suka jika istriku terlalu dekat dengan pria lain selain aku dan Ayah," jelas Ema dengan lembut, dan Fika menganggukkan kepalanya pelan di dalam pelukkan suaminya.
"Sudah jangan menangis, kenapa kamu sekarang cengeng sekali? Bukankah kamu adalah gadis yang kuat?" tanya Ema, lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Kamu mengejekku?" tanya Fika dengan kesal, kemudian ia mendudukan diri lalu mengusap kasar air matanya sembari menatap tajam suaminya.
"Eh, bukan seperti itu maksudku, aku hanya mengatakan yang sebena— OPS." Ema segera membungkam bibirnya dengan kedua tangannya, karena ia baru tersadar dengan ucapan yang baru saja yang ia lontarkan.
Ah, ya ampun, salah lagi aku. Duh Nue, kamu lupa jika sekarang berhadapan dengan macan bunting? Matilah aku.
"Oh, begitu ya! Mulai nanti malam kamu tidur diluar!"
"Sayang, aku cuma bercanda," rayu Ema kepada istrinya, karena tidur diluar itu adalah mimpi buruk bagi para suami, termasuk Ema yang tidak akan bisa tidur kalau belum menjadi bayi besar terlebih dahulu.
"Tidur diluar atau kehilngan jatah enak-enak? Pilih mana?!"
Ah, Nue ternyata nacal ya, pantas saja Fikanya klepek-klepek. Lha wong tiap malah di sedot enak,
🤣🙈
Kasih dukungannya, dengan cara like, vote, komentar, dan kasih Gift semampu kalian ya. love you all😘