Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Dasar pedofil!


Hari berlalu begitu cepat kandungan Fika sudah memasuki bulan delapan, dan hari ini adalah jadwal kontrol ke dokter kandungan.


"Sayang cepat!" ucap Fika dari ambang pintu kamar, dirinya sudah bersiap sejak tadi namun suaminya itu masih saja berkaca di depan ceermin sembari menatap bentuk badannya. Dan lebih parahnya lagi suaminya masih menggunakan kaos singlet putih dan celana panjang.


"Yank, lihat perutku semakin buncit. Oh, ya ampun," keluh Ema, sembari membuka kaos singletnya dan memperlihatkan perutnya yang terlihat gendut itu.



"Kamu sih! Kebanyakan makan, makanya jadi gendut," cibir Fika, membuat Ema mendengus kesal lantaran ia menjadi gendut 'kan karena istrinya yang selalu menyuruhnya untuk menghabiskan makanan yang selalu dibuat untuk Fika.


"Iya!" sahut Ema kemudian segera memakai bajunya yang tergeletak di tepian tempat tidur.


Dasar tidak peka! gerutu Ema dalam hati.


"Nanti aku akan melatihmu untuk workout, biar perutmu langsing lagi," ucap Fika, lalu menggandeng tangan suaminya dan berjalan menuju lantai bawah.


"Cih, bagaimana mau melatih? Jika perutmu saja buncit," ucap Ema, langsung mendapat cubitan panas dari istrinya, membuat ia langsung memekik kesakitan. "Sakit, Yank," ucap Ema, seraya mengusap lengannya yang terasa sangat panas dan pedih.


"Rasakan! Aku ini lagi hamil anak kamu loh, tapi tega kamu ya, bilang kayak gitu!' sungut Fika, lalu berjalan mendahului suaminya menuju lantai bawah.


"Oh, ya ampun. Sayangku, cintaku, bidadariku, aku hanya bercanda loh," sahut Ema, segera mengejar istrinya yang sedang merajuk.


Fika tidak memperdulikan suaminya dan ia terus melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Setelah sampai di lantai bawah Fika mengambil flat shoesnya yang ada di rak sepatu yang di dekat pintu.


Fika menghembuskan nafasnya kasar, saat ia kesusahan untuk memakai sepatunya itu.


"Sini biar aku pakaikan," ucap Ema, lalu menuntun istrinya agar duduk di sofa ruang tamu, kemudian Ema mengambil flat shoes istrinya dan berjongkok dihadapan Fika dan dengan telaten ia memakaikan sepatu tersebut ke kaki istrinya.


Hati Fika menghangat bahkan ia sampai ingin menitihkan air matanya ketika melihat ketulusan dan kasih sayang dari suaminya itu. Ya, semenjak kehamilannya semakin besar ia kesulitan untuk memakai sepatu, bahkan ia memotong kuku kakinya senditri saja tidak bisa, dan ia sangat bersyukur karena suaminya itu sangat pengertian dalam hal apapun termasuk memasangkan sepatu dan juga memotongkan kuku kakinya.


"Sudah selasai. Ayo kita berangkat," ajak Ema, mendongak dan tersenyum manis.


"Iya," jawab Fika, lalu mengulurkan kedua tangannya, bertanda jika suaminya itu harus membantunya berdiri.


Ema tersenyum dan membantu Fika berdiri dari duduknya. "Kamu semakin berat saja sayang," ucap Ema tanpa sengaja.


"Lepas!" Fika mengehentakkan tangannya kasar dan menatap tajam suaminya.



Anggap aja perutnya gede, ha ha haa


"Astaga!" pekik Ema tertahan, karena ia baru tersadar dengan ucapannya sendiri yang menyinggung berat badan Fikanya.


"Sayang, jangan marah dong. Maksudku tubuhmu itu semakin montok dan seksih," ralat Ema, agar istrinya itu tidak marah lagi.


"Benarkah aku seksih?" tanya Fika, dengan nada yang tidak percaya.


"Iya, sayang," ucap Ema meyakinkan.


"Oke, nanti malam kamu tidak mendapatkan jatahmu!" kesal Fika, laku beranjak dari duduknya dengan susah payah.


"Sayang! Mana bisa seperti itu! Aku nanti tidak tidur nyenyak jika belum menyentuhmu," rengek Ema, seperti anak kecil yang meminta empeng.


"Bodo amat!" sahut Fika, berjalan menuju halaman depan dan segera memasuk kedalam mobil dan segera di ikuti oleh Ema.


"Yank," rengek Ema, saat sudah di dalam mobil. Tapi, istrinya itu seolah tidak mendengarkannya.


Ema mengehembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan segera memacu kendaraanya menuju rumah sakit.


*


*


*


Tidak berselang lama, Mobil yang dikendarai Ema sudah berada di parkiran rumah sakit. Dan keduanya itu segera keluar dari dalam mobil dan berjalan kedalam rumah sakit, dan disinilah mereka berada di dalam ruangan Dokter Ricky yang akan akan memeriksa kandungan Fika.


"Apa kabar kalian berdua, sepertinya kabar kalian tidak baik ya," sapa Ricky terkekeh geli, ketika melihat Ema dan Fika yang duduk di hadapannya dengan wajah yang di tekuk.


"Jangan banyak bicara, cepat lakukan tugasmu!" sahut Ema kesal, dan di sambut tawa oleh Ricky. "Sepertinya ada yang tidak mendapat jatah ya? Sensitif sekali," ledek Ricky dan langsung mendapat umpatan dari Ema.


Sedangkan Fika memutar kedua bola matanya dengan malas, lantaran jika kedua pria itu bertemu pasti tidak akan pernah akur.


Kemudian Ricky memerintahkan perawat yang menjadi asistennya itu untuk menuntun Fika ketempat tidur pasien yang ada disana. Lalu perawat tersebut menyelimuti kaki Fika sampai sebatas pinggang dan setelah itu perawat tersebut menyibakkan dress Fika keatas hingga terlihatlah perut buncit Fika.


Ricky hanya mengintruksikan perawatnya untuk memeriksa Fika dan melalukan USG, karena semua itu permintaan Ema yang tidak ingin jika istrinya disentuh oleh pria lain, posesife memang tapi Ricky cukup mengerti.


"Nah, keadaan junior sangat sehat dan posisinya juga sudah bagus, 80% bisa melahirkan normal," jelas Ricky.


"Apa melahirkan normal itu menyakitkan, Dok?" tanya Fika, ia merasa sedikit takut, dan Ema langsung menggenggam tangan istinya yang terasa dingin itu.


"Mau normal atau caesar sama-sama sakit, bedanya jika normal sakitnya saat merasakan kontraksi dan bayi kalian akan lahir lewat jalannya dan setelah beberapa hari sakitnya itu berangsur pulih, sedangkan untuk caesar sakitnya setelah obat bius sudah habis dan pasien akan merasakan sakit yang berkepanjangan setelah melakukan operasi caesar, dan rasa sakitnya itu bisa sampai beberapa bulan lamanya. Jadi aku sarankan jika bisa normal lebih baik melahirkan secara normal," jelas Ricky, dan tersenyum lembut.


"Aku ingin normal saja," lirih Fika, lalu menggenggam tangan suaminya dengan erat.


"Tidak perlu cemas, rasa sakit yang kamu alami akan hilang setelah kamu melihat junior lahir, percayalah," ucap Ricky, memberikan semangat kepada Fika yang terlihat sangat cemas.


"Iya, Dok. Terimakasih," balas Fika.


"Ada aku yang akan selalu menemanimu, jadi jangan takut ya," ucap Ema, sembari mengusap pucuk kepala Fika dengan lembut.


"Uh, kamu membutku iri, Nue!" kesal Ricky, saat melihat pasangan muda yang ada di hadapannya itu.


"Makanya nikah! Betah banget jadi duren sawit!" cibir Ema, dan Fika hanya tersenyum geli saja saat melihat ekpresi Ricky yang sangat kesal kepada suaminya.


"Sebenarnya aku sedang tertarik dengan seorang gadis," ucap Ricky pelan.


"Benarkah?" tanya Ema tidak percaya.


"Ya, tapi sayang sekali gadis itu masih sekolah SMA seperti istrimu," ucap Ricky lagi masih dengan suara pelan.


"Dasar pedofil!"


Nue tidak sadar jika dirinya juga pedofil,, 😅


Kasih dukungannya ya sayang, dengan cara like, vote, komentar dan kasih gift semamampu kalian..🥰