
Pernikahan yang sakral itu di gelar di ruang tamu tersebut dengan mahar seadanya, karena pernikahan itu mendadak dan tidak ada persiapan sama sekali. Rima pun tidak mempermasalahnya dengan mahar yang di berikan oleh Bondan, karena yang terpenting pernikahannya Sah secara hukum dan agama. Dan pernikahan itu pun di saksikan oleh, Fika, Emanuel, ketua RT dan RW setempat beserta Bibik dan juga suami Bibik.
"Sekarang kalian sudah Sah menjadi suami istri dan secara hukum dan agama, kalian bebas melakukan apapun tapi menunggu sebulan lagi," ucap Pria tersebut yang tak lain adalah pemuka agama yang beru saja menikahkan mereka.
"Baik, Pak. terimakasih," ucap Bondan tersenyum senang, walau hatinya terasa dongkol karena ulah menantunya. Sedangkan wajah Rima sudah bersemu merah, antara malu dan bahagia bercampur menjadi satu.
Setelah acara pernikahan singkat itu selesai, para tamu mengucapkan selamat sekaligus berpamitan kepada pengantin baru itu.
Sedangkan Bibi dan suaminya juga mengucapkan selamat kepada majikannya itu. Dan tidak lupa mereka mereka memberikan hadiah sederhana.
"Wah, terimakasih ya, Bi." Rima menerima hadiah tersebut.
"Sama-sama Bu, di buka dong hadiahnya," ucap Bibi kepada bosnya itu.
"Iya," jawab Rima tersenyum, kemudian mulai membuka hadiah yang terbungkus dengan kertas kado itu.
"Ya ampun Bi!!" pekik Rima, ketika melihat hadiah tersebut.
Gleg
Bondan menelan ludahnya kasar, ketika melihat kain yang di jenjeng oleh Rima. Sebuah lingerie seksih berwarna merah dan seketika itu membuat otak Bondan bertraveling ria, membayangkan jika Rima memakai kain tipis tersebut.
Sedangkan Ema dan Fika menahan tawa dan bertos ria, ketika melihat wajah Bondan yang terlihat memerah.
"Bibi dapat ini dari mana?" tanya Rima, kemudian ia segera menggulung lingerie tersebut agar Bondan yang sudah berstatus suaminya itu tiak berpikiran mesum.
Cei leh suami nih ye, tapi sayang nggak bisa ehem-ehem dulu karena di hukum sama Nue.🤣
"Beli Bu, dipasar murah cuma 50 ribu," jawab Bibik, lalu mengerlingkan matanya kearah Ema dan Fika.
Nacal ya Nue dan Fika, ha ha haa.
Benar-benar, mereka ini. Keluh Rima dalam hati.
*
*
*
*
Setelah tamu pulang semua, beserta bibik dan suaminya. Kini gantian Ema dan Fika yang memberikan selamat kapada Bondan dan Rima.
"Sekarang status Ayah berubah menjadi suami, jadi Ayah tidak boleh tebar pesona lagi dengan ciwi-ciwi yang ada di luar sana," ucap Fika, lalu memeluk Ayahnya dengan erat.
"Kapan Ayah tebar pesona? Wanita-wanita itu yang mengejar Ayah," ucap Bondan apa adanya, lalu ia melirik Rima yang terlihat kesal kepadanya.
"Sama saja, karena Ayah terlalu tampan Hot Duda lagi eh salah Hot Husband," ralat Fika dan tergelak, kemudian ia mengurai pelukannya dan mengecup kedua pipi Ayahnya bergantian.
"Kamu ini ya, tuh lihat Mami kamu cemburu," ucap Bondan sembari mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut dan melirik Rima.
"Aku cemburu? Enak saja," sangkal Rima, lalu memalingkan wajahnya.
"Iya juga nggak apa-apa, Mam, sudah sah ini," ucap Ema lalu memeluk ibunya dari samping, dan Rima tersenyum lalu mengusap pipi putranya dengan lembut.
"Akhirnya kita bersatu menjadi keluarga, kalau di jadikan sinetron lucu kali ya dengan judul Istriku adik tiriku," ucap Ema tergelak, dan semua orang disana pun tergelak bersama.
Maaf ya kalau kecewa dengan pernikahan Bondan dan Rima, karena begitulah adanya. Karena Nue tidak ingin menunda lebih lama lagi dan dia tidak ingin terjadi kekhilafan yang lainnya antara Bondan dan ibunya, maka dari itu Nue ambil keputusan secara sepihak. terlihat egois, tapi demi kebaikan bersama.
Makasih dan dukung terus karya Emak ya, seperti biasa kasih like, vote, komentar dan gift semampu kalian,😘