
Bondan menggulingkan badannya kesamping tubuh istrinya kemudian ia menarik Rima kedalam dekapannya lalu ia mengecup kening dan bibir Rima berulang kali, bertanda jika ia berterimakasih dan juga puas dengan penyatuan mereka yang baru selesai beberapa detik yang lalu. Ya, pasangan yang sedang puber kedua itu melakukan penyatuan yang kedua kalinya.
"Aku lelah sekali," lirih Rima dengan memejamkan matanya dan kini ia menelusupkan wajahnya ke dada bidang Bondan yang kekar dan di penuhi tatto itu.
Bondan mengulas senyum, lalu ia mengecup kening Rima lagi dengan lembut dan mengusap punggung polos itu untuk memberikan kenyamanan kepada istrinya.
"Tidurlah," bisik Bondan, mulai memejamkan mata dan semakin mengeratkan pelukkannya.
"Hem, kamu jangan tidur," ucap Rima pelan.
"Kenapa? Kamu ingin lagi?" tanya Bondan terkekeh.
"Ish! Kamu harus segera kembali kerumah Nue dan Fika, jika tidak hukumanmu akan ditambah lagi," jelas Rima, kini mulai mengurai pelukan itu dan mendudukan diri diatas tempat tidur yang sudah berantakan itu.
"Ah, kamu benar tapi aku tidak ingin kembali. Ingin seperti ini terus," jawab Bondan ikut mendudukan diri lalu memeluk Rima dari belakang dan mengecupi pundak Rima yang polos dan putih mulus itu.
"Jangan seperti anak kecil, memangnya dua Ronde tadi tidak cukup?" tanya Rima, seraya mengusap lembut rahang tegas yang di tumbuhi bulu kasar itu.
"Tidak pernah cukup, milikmu enak dan menggigit di kasih apa sih?" tanya Bondan penasaran, karena memang benar milik istrinya itu masih sangat menggigit dan sempit padahal istrinya itu sudah tidak muda dan juga sudah melahirkan dua anak.
"Senam kegel ditambah lagi setiap habis datang bulan langsung perawatan di salon Nue," jawab Rima, apa adanya.
"Hem pantas saja, wangi dan menggigit." Bondan terus menciumi pundak dan beralih keleher jenjang Rima yang sudah di penuhi jejak kemerahan disana.
"Sudah, sana pulang," usir Rima dengan halus, lalu ia melirik jam yang menepel di dinding dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, yang artinya mereka bercinta sudah lebih dari tiga jam.
Pantas saja, pedih sekali. Batin Rima, merasakan bagian intinya terasa sakit.
"Hem, kamu mengusirku? Aku sudah seperti pria panggilan saja," kesal Bondan, tapi masih menciumi pundak mulus istrinya itu.
Rima tergelak ketika mendengar kekesalan suaminya, kemudian ia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan suaminya itu dan mengecup bibir tebal dan seksih itu sekilas.
"Sudah, sana pulang. Demi kebaikan kita bersama," jelas Rima, dan menangkup wajah Bondan dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir itu lagi dengan durasi cukup lama.
"Hem, baiklah. Nanti jika ada kesempatan kita bisa menyatu lagi," ucap Bondan terkekeh dan berhasil membuat Rima berdecak dengan kesal.
"Mesum!" sungut Rima lalu memukul dada bidang Bondan sedikit keras bukannya kesakitan, Bondan malah semakin tergelak, lalu ia beranjak dari tempat tidur dan memungti pakaiannya dan segera mengenakannya.
Sedangkan Rima, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos sembari memperhatikan suaminya yang sedang memakai pakaian.
"Aku pulang dulu," ucap Bondan yang sudah selesai memakai pakaiannya lalu mengecup bibir dan kening Rima bergantian.
"Iya, hati-hati dijalan," balas Rima tersenyum manis.
"Hem, kamu juga pakai baju tidur yang benar, biar tidak masuk angin," pinta Bondan sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Iya," jawab Rima tersenyum.
*
*
*
*
"Pak Bondan mau kemana?" tanya salah satu satpam yang sedang barada di dalam pos, ketika melihat suami majikannya menuntun motor ke arah gerbang rumah.
"Mau pulang sebelum di grebek hansip," jawab Bondan absurd.
"Ya, Ayo cepat buka gerbangnya," pinta Bondan dan salah satu satpam tersebut membukakan pintu gerbang untuk Bondan. Setelah pintu gerbang di terbuka Bondan segera melajukan motornya.
"Gila ya, datang kesini cuma minta jatah," ucap salah sau satpam. "Kamu lihat nggak tadi lehernya pak Bondan merah semua, ganas juga si ibu," lanjutnya.
"Namanya juga duda ketemu janda. Ya pasti begitulah, kayak nggak pernah merasakan saja," jawab rekannya yang terkesan cuek.
"Aku 'kan jomblo akut jadi tidak tahu rasanya enak-enak kayak gitu bagaimana," sungutnya, menanggapi perkataan rekanannya.
"Dih kok sewot? Efek tidak pernah tersalurkan ya begitu, emosian terus," ledek rekannya, membuat temannya itu semakin mendengus kesal.
Tidak membutuhkan waktu lama, motor yang di kendarai Bondan sudah terparkir di garasi rumah anaknya, setelah itu ia segera memasuki rumah dan berjalan mengendap seperti maling.
Terlihat jelas jika di dalam rumah itu terlihat gelap, menandakan jika penghuninya sudah tertidur dan dengan secepat kilat ia berlari menuju kamarnya.
"Aman. Huh, sudah seperti maling saja," gumam Bondan, seraya mengusap dadanya beberapa kali. Kemudian ia segera merebahkan diri diatas tempat tidur dan tanpa terasa matanya sudah mulai terpejam.
Malam sudah berganti pagi dan sang surya telah menunjukan sinarnya.
Ema yang sudah terbangun lebih dulu, segera menyiapkan sarapan dan membuatkan susu hamil untuk istrinya. Ema sangat bersyukur jika istrinya itu tidak mengalami morning sickness atau ngidam yang aneh-aneh.
"Pagi Cinta," sapa Ema dan mencium kening dan bibir istrinya dengan lembut, kemudian ia meletakkan nampan yang berisi beberapa roti bakar dengan selai kacang dan segelas susu hamil di pangkuan istrinya.
"Pagi juga sayang," jawab Fika, tersenyum manis.
Ya ampun, suamiku semakin romantis banget sih, duh adek meleleh nih Bang. Batin Fika, sembari menatap wajah tampan suaminya dan beralih menatap sarapan yang sudah ada di pangkuannya.
"Segera makan sarapannya ya, aku sebentar lagi berangkat ke hotel, Karena ada meeting yang tidak bisa di wakilkan oleh Ruri," ucap Ema dengan lembut sembari mengelus pucuk kepala istrinya itu.
"Ish, bukannya kamu WFH? Apa tidak bisa meeting virtual saja?" kesal Fika, entah kenapa ia tidak suka jika berjauhan dengan suaminya.
"Sayang, mengerti sedikit ya." pinta Ema lembut dan menghela nafasnya dengan pelan.
"Tidak mau! Kalau kamu mau pergi aku juga ikut," rengek Fika dengan mata yang sudah berkaca-kaca, lalu ia meminum susu hamilnya hingga tandas.
"Baiklah aku dirumah, dan jangan menangis lagi," ucap Ema, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.
''Iya," jawab Fika dan mulai tersenyum lagi, lalu merentangkan kedua tangannya bertanda jika ingin di peluk suaminya.
Dan dengan senang hati, Ema langsung memeluk istrinya itu dengan sangat erat.
Kenapa jadi manja begini sih? Batin Ema dalam hati.
"Sayang, kamu wangi banget," ucap Fika, dan semakin mendusel ke dada bidang suaminya.
"Bau asem kali, Yank. Aku belum mandi loh," jawab Ema terkekeh, sembari menggelengkan kepalanya.
"Nah kebetulan, jadi kamu tidak perlu mandi. Ini wangi banget aku suka, jadi gemes pengen gigit dada montok kamu ini," ucap Fika gemas dan meremat dada montok suaminya itu, membuat Ema kegelian dan ingin menolak juga tidak mampu karena ia tidak ingin melihat istrinya kecewa.
"Yank, geli." Ema menggeliat dan mempoutkan bibirnya agar tidak tertawa.
"Masa geli? Tapi aku keenakan loh kalau dua bukitkku kamu remat dan hisap," ucap Fika dengan polosnya, membuat Ema menepuk jidatnya sendiri.
Istriku polos atau Oon sih?
Kasih dukungannya semampu kalian ya,, love you all😘