Suamiku Gemulai

Suamiku Gemulai
Si Dur*x lupa di pakai


Fika menganggukan kepalanya pelan, karena ia tidak kuasa menolak permintaan suaminya itu.


Melihat respon istrinya, Ema langsung menggendong Fika menuju kamar, lalu Ema merebahkan tubuh istrinya diatas diatas ranjang dengan perlahan


Ema membelai wajah cantik istrinya, kemudian ia melepaskan seluruh pakaiannya dan juga milik istrinya, hingga keduanya itu polos tanpa sehelai benang.


"Nue, pelan-pelan." Pinta Fika, saat Ema membuka kedua kakinya dengan lebar.


"Tentu sayang." Ucap Ema serak, sembari membelai pintu terowongan milik istrinya itu dengan gerakan lembut dan sensual, membuat Fika menggeliat dan menggigit bibir bawahnya saat merasakan rasa geli, enak dan nikmat bercampur menjadi satu.


"Ughh, sayang." Fika melenguh nikmat, saat Suaminya menenggelamkan wajahnya di bawah sana, entah apa yang di lakukan suaminya itu, yang jelas suaminya memberikannya kenikmatan yang sangat luar biasa di bagian intinya. Dan kenikmatan itu semakin bertambah saat ia merasakan sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuhnya.


"Nue." Pekik Fika tertahan, dan ia mengangkat sedikit bokongnya, saat rasa nikmat itu menghantam dirinya.


"Kamu sudah keluar, sayang. Ucap Ema, lalu meragkak naik, mengungkung tubuh istrinya dan mencium bibir istrinya dengan penuh gairah.


Padahal nafas Fika masih terengah, akibat pelepasan pertamanya itu, tapi sepertinya Ema tidak akan membiarkan istrinya itu beristrirahat barang sejenak.


"Nue, pelan. Sakit." Racau Fika, ketika ia merasakan benda tumpul berusaha menerobos bagian intinya.


"Masih sakit?" Tanya Ema dengan alis yang berkerut.


"Iya, lihat milikmu besar sekali, sedangkan milikku kecil jadinya masih sakit jika di masuki." Ucap Fika dengan kepolosannya, membuat Ema tersenyum gemas kemudian ia mengecup bibir istrinya itu dan menyesapnya dengan lembut.


"Terus ini bagaimana? Sudah masuk setengahnya." Ucap Ema, menghentikan gerakannya. Karena ia tidak tega melihat istrinya masih merasa kesakitan, padahal ini adalah percintaan mereka yang ke empat kalinya, tapi milik istrinya itu masih seperti perawan, rasanya sempit dan menggigit.


"Teruskan saja, Yank. Tanggung." Ucap Fika, sedikit malu.


"Benar?" Ema memastikan dan Fika menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Baiklah, tapi tahan ya." Ucap Ema, lalu ia membungkam bibir istrinya itu dan tangan kanannya meremat kedua benda kenyal itu bergantian, bersamaan dengan ia menghujamkan si elang ke dalam terowongan sempitnya.


"Arghhh." Racau keduanya, saat si elang sudah tertanam sempurna di bagiann inti istrinya.


"Sakit?" Tanya Ema.


"Iya, sedikit." Jawab Fika pelan.


"Tapi, kalau begini sakit nggak?" Ema menggerakan pinggulnya maju mundur secara perlahan.


"Shhhh, Ugh,, Enak." Jawab Fika, malu. Saat ia merasakan keperkasaan suaminya dibawah sana.


Ema tersenyum senang, kemudian ia melanjutkan aksinya dan terus memompa tubuh istrinya dengan kecepatan sedang. Suara desahaan dan lenguhan menggema di setiap sudut kamar, beruntung Ema sudah memasang peredam suara jadi mereka ingin berteriak sekeras mungkin tidak akan ada yang mendengarnya.


"Aku juga mencintaimu." Balas Fika, sembari menikmati hujaman demi hujaman yang di berikan oleh suaminya.


"Move." Ucap Ema, dan kini posisinya keduanya terbalik. Fika berada diatas tubuh suaminya.


"Bergeraklah sayang." Ucap Ema, sembari memegang pinggul istrinya.


"Bagaimana caranya?" Tanya Fika, polos.


"Seperti kamu menunggang kuda." Jawab Ema tersenyum mesum, membuat Fika bersemu merah.


Kemudian dengan perlahan Fika mulai bergerak, walaupun belum mahir akan tetapi ia tidak ingin mengecewakan suaminya.


"Ah yeah seperti itu, lebih cepat." Racau Ema, sambil meremat kedua bulatan kenyal itu yang bergelantungan di depan matanya.


"Aku lelah." Ucap Fika, dengan nafas yang naik turun. Mengerti jika istrinya kelelahan, Ema mengambil alih permainan dan kini Ema sudah berada di atas tubuh istrinya lagi dan memimpin permainan hingga keduanya itu mencapai pelepasan bersama.


"Arghhh." Ema melenguh panjang saat, ia menyemburkan benihnya kedalam rahim Fika.


"Terimakasih sayang." Ucap Ema, lalu mencabut peyatuannya dan menggulingkan badannya kesamping tubuh istrinya.


"Sayang, kamu tidak memakai si dur*x?" Tanya Fika, saat ia melihat si elang tidak terbungkus apapun.


Ema yang tadinya memejamkan matanya kini membuka matanya dengan lebar.


"Aku lupa!" Ucap Ema, dengan wajah yang terkejut.


"Kamu bagaimana sih, nanti jika aku hamil bagaimana?!" Kesal Fika, dan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Memang kenapa kalau kamu hamil? Kamu sudah mempunyai suami dan umurku juga sudah tidak muda lagi." Jawab Ema, tenang lalu memeluk tubuh polos istrinya itu dengan erat.


"Tapi, aku masih sekolah." Rengek Fika, dan kini sudah terisak pelan.


"Jika kamu hamil, kamu putus sekolah tapi kamu masih bisa melanjutkan pendidikanmu dengan jalur home schooling, percayalah kepadaku." Ucap Ema, menenangkan istrinya.


Fika terdiam saat ia mendengar penuturan suaminya, dan ia mencoba mempertimbangkan ucapan suaminya itu.


Saking enaknya ya, jadi lupa segalanya.


Sudah very hot, ya🤭


Kasih dukungan semampu kalian yak.😘