SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
JIA LI (END S1)


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 86


"Kau ... " Pria itu menunjukkan telunjuknya ke arah Tian Lan. Semua orang berdesir kagum, sesaat setelah pria itu mencoba membuka tudung Tian Lan.


Tian Lan mencekram pergelangan tangan pria itu, walau tak menggunakan tenaga tangan mungilnya sanggup membuat pria itu meringis kesakitan.


"Jika kau masih sayang dengan tanganmu ini, lebih baik jangan mengarahkannya ke arahku."


"Atau dia akan benar-benar patah," bisiknya sembari mendekat kearah pria itu.


Tian Lan berdecak remeh, melihat pria itu terdiam Tao lantas mengeluarkan kantong berisikan beberapa tael emas. "Aku menawarnya seharga 1000 tael emas dan kau, berapa banyak uang yang kau miliki dengan kantong sekecil itu?" tanyanya terkekeh tak sanggup menahan tawanya.


Tao melonggarkan tali kantongnya, sekilas ia tersenyum sinis sembari memandang pria itu. Tao menjungkirnya, dan ... Emas terus berjatuhan dari kantong kecil itu seolah tak akan habis.


Semua orang tercengang, Tao berhenti sejenak. Ia menghadapkan mulut kantong ke atas. "Apa segini kurang?" tanya Tao sembari mengangkat alisnya.


Semua orang masih terdiam, Tao lanjut mengeluarkan isi kantong yang ia bawa. Siapa yang menyangka isinya kantong itu bisa melebihi 100 peti emas sekalipun.


"Apa masih kurang?" tanyanya lagi. "Kalau kurang, kami masih punya beberapa kantong lagi," imbuhnya makin membuat geger.


pelayan toko yang sudah tak sanggup menghadapi perseteruan Tian Lan dan pelanggan lain pun hanya bisa beranjak dari kerumunan, memanggil empu toko untuk dimintai saran.


"Tuan ...," ucapnya agak ragu.


"Bicaralah perlahan!" titah si empu toko


"Ka ... kau!" Pria itu memandangi lantai tempat isi kantong Tian Lan menggunung. Semua orang berpikir orang kaya darimana dirinya sebenarnya.


"Aiyooo, tuan walupun kau orang kaya sekalipun ... perlukah memerkannya di depan publik seperti itu?" Pria itu mengayunkan kipas lipat di tangannya sembari berjalan mendekat kearah Tian Lan.


Tian Lan mengayunkan tangannya kesamping sejajar dengan pinggangnya. Isyarat agar Tao tak meladeni omongan pria itu.


"Sekarang boleh atau tidak?" tanya Tian Lan tanpa basa basi.


Pria itu terkekeh, "Tuan ... tuan, kau terus terang sekali," Pria itu mendekati Tian Lan, dengan lirih ia berbisik. "Maaf, maksudku nona."


Pria itu agaknya tau penyamaran Tian Lan sebagai seorang wanita, ia tak tahu lebih jauh lagi.


"Instingmu tajam sekali," Tian Lan terkekeh.


Tanpa berlama-lama, Tian Lan pergi setelah menyelesaikan pembayaran. Ia beranjak menuju puncak Yǒnghéng de bīng di ikuti Tao.


"Nona, Apa Anda yakin mau melakukan hal 'itu'?" Tao terbata, raut wajahnya seolah tak rela.


"Tentu saja" balas Tian Lan tanpa beban.


Raga aslinya telah menjadi debu, dia tidak bisa selamanya berada di tubuh buatannya.


Jika kali ini dirinya gagal maka ... ia akan lenyap untuk selamanya.


Tao hanya bisa membisu, ia tidak bisa mencegah Tian Lan. Walau pada dasarnya ketakutannya adalah suatu kebodohan, Tian Lan memang bisa lenyap. Untuk membentuk raga barunya, ia harus mempertaruhkan nyawa nya.


"灵魂的释放开始"


"Línghún de shìfàng kāishǐ"


*Mantra pelepasan jiwa


Ber hari-hari kemudian ....


*gas lah, g usah basa basi ⊙︿⊙


Tian Lan membuka pelupuk matanya, ia membuka buku tangannya. "Tidak mungkinkan!" pikirnya.


Ia beralih melihat bagian tubuhnya yang lain, ia memandang seolah tak percaya. "Kenapa aku tenggelam dengan pakaianku yang sebelumnya?"


Ia melihat Tao dengan mata terpejam tidur dengan nyenyak bersandar di batu besar tak jauh darinya. Tian Lan bangun dari duduknya, ia mengangkat bagian bawah pakaiannya yang memperlambat gerakannya.


"Tao!" ucapnya dengan suaranya yang agak asing baginya.


"Tao!" ucapnya, ia sedang memastikan dengan suara lebih lantang.


Tao terbangun, ia menatap heran seorang anak yang kira-kira umurnya sekitar 15 tahun.


"Ah, nona Anda sudah bangun" Tao bangun dari posisinya, ia membersihkan pakaiannya dan menatap wajah majikannya yang masih terasa canggung buatnya.


"Ini hari ke berapa?" tanya Tian Lan memasang tampang masamnya.


"I, ini hari ke 7 nona" ucapnya, ia memandang ke bawah menatap kakinya yang menginjak gundukan salju.


"Aish ..." Tian Lan berdesir sebal.


Ia menirukan suara buruk, hingga seekor burung kenari bertengger di bahu mungilnya.


Ia mengeluarkan selembar kertas dan alat tulis. mulai menulis dengan beralaskan punggung Tao.


"Kirim ini kepada Tian Ling" Tian Lan berjalan menuju ujung tepian puncak. "Mulai sekarang Tian Lan, ah bukan" Seringai tertaut di wajahnya.


"Mulai sekarang aku adalah Jia Li, dengan wajah baruk dan identitas baru aku akan memulai kisah yang baru.


NB : Moon maaf author beberapa bulan g up fokus ke sklh dlu. Maklum g lulus bisa berabe. Untuk S2 bakal bikin klo ada waktu luang. Mohon pengertiannya soalnya jadwal RL author padet banget🤧