SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
PUTRI MAHKOTA?


❄️SNOW FLOWER❄️


EPISODE 38


Permaisuri duduk bersandar di kursi makan jati yang ia duduki, menanti sang kaisar yang tak kunjung datang membuatnya sangat bosan.Ia mulai menggerutu tak puas ia bahkan mengatai sang kaisar mes*m itu.


"Ck, apa dia sengaja?, aku sudah berhari-hari tidak makan, dia malah membuatku menunggu lama."


Permaisuri memegangi perutnya yang sudah bergemuruh sedari tadi.Ia tak fokus, pandangannya tertuju ke luar ruangan, para dayang tengah menyapu halaman istananya.Lama ia terdiam, tak menyadari sang kaisar yang masuk ke ruang utama diam-diam sembari berjinjit.Permaisuri menghela napasnya, ia berkata"Cepatlah sedikit!, apa kau berniat membuatku kelaparan lebih lama lagi?" tanyanya dengan nada memelas.


Kaisar mempercepat langkahnya menuju meja makan dan langsung duduk berhadapan langsung dengan sang permaisuri.Permaisuri diam tak bergeming, dengan raut wajah yang kurang menyakinkan, tersungging senyuman manis di bibir wanita itu.Senyumannya terlihat terpaksakan, wanita itu lantas langsung mengambil sepasang sumpitnya dan mengambil beberapa lauk dan meletakkannya di atas gunungan kecil nasi putih yang ada di mangkoknya.


Mulai melahap makanannya dengan perlahan, ia tak menghiraukan pria yang ada di hadapannya itu.Kaisar mendehem, ia liriknya mangkok nasinya yang masih polos tanpa lauk apapun yang mengihiasinya.Permaisuri acuh tak acuh, seolah membalaskan dendamnya kepada pria itu karna membuatnya menunggu cukup lama, permaisuri tetap diam, ia tahu betul maksud pria itu.Sudah membuatnya menunggu lama masih berharap di suapi?


"Huh, mimpi saja kau!" umpatnya dalam hati.


Suasana canggung menemani momen sarapan pagi mereka, seharusnya momen ini menjadi momen yang romantis.Mereka akan saling bersuapan menikmati makanan hangat yang telah tersaji dengan riangnya bercanda gurau bersama.


Bahkan saat dalam perjalanan menuju istana selir kehormatan Rong, suasana canggung masih saja menyelimuti keduanya.Ironisnya bahkan saat sang kaisar berusaha mencairkan suasana, wanita itu malah menatapnya dengan tatapan mata yang begitu menusuk.


"Apa dia masih marah?" tanya kaisar dalam hati.


"Kan aku sudah minta maaf, seharusnya sudah tak ada masalah kan?" pikir sang kaisar, mengangkat alisnya menatap wajah permaisuri yang masih saja masam.


Di istana selir kehormatan Rong ...


Di halaman istananya begitu banyak bunga-bunga yang bermekaran, di sisi yang lain pula di penuhi dengan guguran bunga persik yang menyejukkan mata dan pikiran.Sekilas permaisuri begitu iri, namun ia mengutarakannya secara langsung membuat selir kehormatan Rong begitu terpana dengan ungkapan yang ia utarakan.


"Adik Rong, kau sangat beruntung ya, jujur saja aku merasa iri denganmu, bunga-bunga yang ada di sini begitu indah, pemandangan ini .... aku tidak akan menemukannya di istanaku," permaisuri mendongakkan kepalanya menatap salah satu pohon persik dengan buah yang tergelantung di salah satu anak rantingnya.


"Yang Mulia!"


"Kenapa kau begitu kaku sekali, kau boleh memanggilku kakak!" permaisuri menepuk pelan bahu wanita itu, ia menyuguhkan senyum manisnya.


Kaisar yang tengah duduk sendirian di gazebo yang tak jauh dari kedua wanita itu pun mulai menggerutu, ia tak habis pikir ... begitu mudahnya ia tersenyum kepada siapapun namun sepertinya itu sebuah pengecualian untuknya.



"Lihatlah dirimu itu, tanpa ragu sedikitpun tersenyum kepadanya, memangnya sejak kapan kau begitu dekat dengannya," gerutunya, ia memetak-metak meja dengan kepalan tangannya.


Selir Rong menatap ke arah sang kaisar, menyadari tatapan mata yang tertuju kepadanya, sang kaisar lantas membalas tatapan sepasang mata indah wanita itu.Seolah memberi isyarat, kaisar membuka telapak tangannya dan mengangkat ujung jarinya beberapa kali.


"Kakak Lan, apa Anda sedang kesal dengan Yang Mulia?"


"Adik lihat dari tadi, Anda memasang wajah masam Anda di depan beliau," lanjut selir Rong.


"Hanya karena masalah sepele, sebenarnya pagi ini dia membuatku menunggunya begitu lama."


"Yang membuatku semakin kesal, kenapa dia tidak menemanimu saja," lanjut permaisuri.


Selir Rong terdiam, ia hampir tidak percaya akan kata-kata yang terucap dari bibir mungil permaisuri.


"Sebenarnya Yang Mulia sudah memintai ini kepada Adik, Adik sendiri yang mengiyakan permintaan beliau," timpalnya.


"Kenapa kau iyakan saja, dia selalu membuatku kesal entah, apapun itu," jelas wanita itu, ia mulai gusar.


"Aihhh, sudahlah mari!" ucap permaisuri menggandeng tangan permaisuri wanita itu.


Mereka berdua menghampiri sang kaisar yang tengah duduk termenung sendirian di gazebo, sudah cukup lama ia di diamkan.Memang kesal, tapi dia sendiri sadar bahwa ialah yang membuat permaisuri mengacuhkannya.Saat minum teh bersama pun permaisuri mengacuhkannya, padahal terpampang jelas raut wajah kaisar yang kecut itu.Permaisuri terus saja memainkannya seolah sangat senang dengan apa yang ia lihat sekarang, kemenangan, ia seolah mendapatkannya.


Permaisuri bercanda gurau dengan selir Rong, ia mengarahkan seluruh perhatiannya kepadanya dan kaisar ... seolah lenyap di hadapan kedua wanita itu.Serasa tak di anggap keberadaannya, ia mulai gusar.


"Yang kau inginkan seorang pangeran atau putri?" tanya permaisuri antusias.


Selir kehormatan Rong tersenyum samar, ia menjawab pertanyaan ringan permaisuri itu malu-malu"Seorang pangeran ataupun putri, adik akan sangat senang jika ia sehat selalu."


"Wah wah, di istana ini masih belum ada seorang putri, mungkin saja seorang putri, jika benar ia akan menjadi putri mahkota." lanjutnya.


Seketika itu raut wajah kaisar dan selir Rong berubah, bukankah seharusnya putri permaisuri yang suatu saat menyandang gelar tersebut.Bisa-bisanya dia memberikan apa yang seharusnya menjadi milik putrinya jika lahir ke dunia ini, kepada anak selir suaminya.


"Ada apa," tanya permaisuri mendapati keduanya sama-sama terkejut.


Selir kehormatan Rong membuka suaranya dengan keberaniannya yang tersisa, begitu canggungnya ia menjawab"Suatu kehormatan bisa melahirkan anak untuk Yang Mulia, namun ... untuk gelar putri mahkota sendiri, itu milik putri yang akan kakak lahirkan, selama kakak tidak memiliki seorang putri, posisi putri mahkota akan tetap kosong," jelasnya menatap sang kaisar dengan senyum canggungnya.


"Lalu, harusnya jika aku belum memiliki seorang putri, maka putri dari selir di tingkatan apapun akan menyandang gelar tersebut, hingga aku bisa memiliki seorang putri sendiri.Dan jika aku tak kunjung melahirkan seorang putri maka aku akan melepaskan hak putriku itu," timpalnya.


Mendengar penjelasan permaisuri itu, keduanya lantas terdiam.Membahas tentang tahta dan kekuasaan membuat suasana di antara ketiganya menjadi sangat begitu canggung dan hening, itu yang mereka rasakan


BERSAMBUNG ...


......~❄️Mini kuis❄️~......


...Kira-kira selir kehormatan Rong melahirkan seorang pangeran atau putri?...


...Komen di bawah ya!...


...~❄️我爱你❄️~...