SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
KENAPA?


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 40


Di istana phoenix ...


Permaisuri masuk ke ruang utama di sambut para dayang yang berjaga didepan pintu.Wajahnya masih saja masam, ia melirik ke arah Hong Lian yang menghampiri dirinya, ia masih saja kesal namun ... hanya bisa menghela napas panjangnya dan membuang mukanya dari pandangan semua orang.


"Yang Mulia, apakah Anda ingin ..." tanya Hong Lian menggantung, sepertinya ia memang tahu betul majikannya dari mana.


"Tidak aku ingin tidur!" sela permaisuri memijat-mijat pelipisnya.Sembari membuang mukanya kembali, ia beranjak dari tempat dimana ia berdiri, menuju kamar tempat ia beristirahat.


Hong Lian menatap teduh punggung permaisuri yang semakin menjauh dari pandangannya.Ia mungkin kecewa, iya dia kecewa, lagi-lagi junjungannya itu melewatkan makan malamnya untuk kesekian kalinya.


"Apa yang beliau bicarakan dengan Tuan Liliang?, kenapa suasana hati beliau makin racau saja?" tanya Hong Lian dalam hati.


Di dalam kamarnya, di balik kelambu ranjang, wanita itu tampak sudah memejamkan matanya, namun ... tak lama, ia mengerenyitkan alisnya, berputar sana-sini membenahi posisi tidurnya yang tak nyaman.Ia mulai geram sendiri, kenapa tidak bisa tidur?


Mungkin, ia terbiasa berada di dekat pria itu, ketidakhadirannya membuatnya sedikit merasa sedih, mengingat ia tengah bersama wanita lain"Aihhh, apa yang kupikirkan?" tanyanya mulai tersadar.


"Sudahlah lebih baik aku tidur saja, kenapa tiba-tiba pria mesum itu muncul di pikiranku?" tanyanya lagi, ia berbalik tidur merengkuk.


Keesokan paginya ...


Seperti biasanya, selepas ia melayani para selir yang berkunjung ke istananya untuk memberikan salamnya, ia akan duduk di taman bunganya.Entah itu memainkan kecapi maupun suling, atau sekedar meneguk secangkir tehnya, ia selalu berada di sana, entah apa yang membuatnya begitu menyukai taman bunga itu, permaisuri duduk di bawah pohon rindang membiarkan angin panas menerpa tubuhnya.Lagi-lagi, ia teringat akan sang kaisar yang selalu menghangatkan tubuhnya kala tidur.


Ia mendesah, kenapa pria itu selalu membayang di pikirannya, kenapa?


Ia sendiri bingung, namun tak ingin memikirkannya lebih jauh lagi.Ia kembali menghela napasnya untuk kesekian kalinya, bosan, hal itu kembali melandanya.Ia pikir lebih baik jika ia mengunjungi tempat Tuan Liliang.Namun ..., ia harus mengurungkan niatnya itu mengingat ia adalah seorang permaisuri, martabat dan namanya begitu di junjung tinggi, ia tak ingin beredar gosip atau memicu timbulnya kesalahpahaman antara dirinya dan sang kaisar.


Ia menyesalkan kehidupan yang kali terakhir ini, kenapa? ... jika bisa memilih ia lebih baik memasuki tubuh orang biasa, kenapa harus memasuki tubuh permaisuri yang ini? Kenapa harus dia? begitu banyak rahasia yang terselubung di balik penderitaannya, begitu banyak rahasia yang belum ia ketahui, begitu banyaknya kepedihan yang terselip di dalam tautan senyumnya.Ia tak mengerti, bahkan tak tahu apapun juga.


"Begitu aneh, dulunya aku pikir ini hanyalah cerita sampah, Ternyata memang tak sebaik yang ada di novel-novel genre time travel" gumamnya mengusap dagunya.


"Biasanya pemeran utama akan mengetahui apapun yang di alami pemilik raga yang ia masuki, tapi aku?"


"Yang aku tahu tak sampai dari secuil kisah hidupnya, begitu susah, aku harus menggali informasi sendiri tentang riwayat hidupnya" lanjutnya yang mulai kesal.


Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sesekali karna mulai gusar, nasibnya begitu malang, ia pikir lebih baik ia mati saja, namun ... kepedihan yang terselip dalam hati permaisuri Lan membuatnya bertekad untuk menggalinya lebih dalam lagi.Begitu rumit, hingga membuatnya pusing hanya dengan memikirkannya saja.


Ia begitu geram, kenapa sampai saat ini, ia masih tak tahu alasan utama mengapa permaisuri Lan begitu menderita, apa karena Selir Kehormatan Yun? atau hal yang lain?


Dia bingung, dan memilih untuk tidak memikirkan lagi.


Hari ini ia begitu murung, entah kenapa suasana hati wanita itu menjadi buruk seperti ini.Hal ini meresahkan Hong Lian dan ketiganya.Walau sebagai pelayan pribadinya mereka sudah terbiasa melihat majikannya seperti itu, perasaan yang sama juga melanda mereka.


Hari-hari berikutnya, ketiga pelayan pribadi permaisuri tengah duduk bersantai, junjungannya itu tengah tertidur pulas.Mereka dengan santainya mendayung-dayung air di tepi kolam.Nu Shen yang sedari tadi terdiam membuka suaranya"Akhir-akhir ini nafsu makan beliau makin buruk saja, aku khawatir jika ini terus berlanjut!" timpalnya mengerutkan keningnya.


"Benar, akhir-akhir ini juga kaisar tidak mengunjungi permaisuri lagi setelah mereka pergi ke istana Selir Rong untuk berkunjung" lanjut Min Ru.


Hong Lian terdiam, bibirnya terkatup rapat.Ia tak ingin membahas mengenai hal ini, namun agaknya Min Ru begitu banyak bicara mengenai ini membuat Hong Lian begitu gusar.Tanpa berkata lebih banyak lagi, ia meninggalkan keduanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Min Ru mengalihkan pandangannya ke arah Nu Shen.


"Sudahlah, mari kembali!" ujar Nu Shen bangun dan membersihkan pakaiannya yang lusuh karna duduk di tanah.


Tak lama kemudian ...


Terdengar suara teriakan yang menggema hingga luar istana phoenix"Cepat panggil tabib!".Para dayang berkeliaran, raut wajah yang panik terukir di wajah masing-masing.


"Cepatlah?" tegas Hong Lian memegangi tangan junjungannya itu.


Hong Lian menatap teduh sosok wanita yang terbaring di depannya itu, tak sadar air mata mulai lolos dari pelupuk matanya, kenapa? kenapa?, kenapa selalu saja ada hal yang buruk terjadi kepada permaisurinya?.Ia masih saja tak habis pikir.


Tak lama kemudian ...


Setelah Tabib Mo datang ...


Tabib itu melihat dengan seksama kondisi permaisuri, juga mengecek denyut nadinya ... wajahnya tampak tengah kebingungan, denyut nadinya begitu tak beraturan, begitu racau, apa yang sebenarnya terjadi?


"Bagaimana keadaan beliau?" tanya Hong Lian dengan nada sendu.Pria itu terdiam, ia masih tidak bisa menjelaskan apa yang telah terjadi pada permaisuri.


"Kenapa kau terdiam?" tanya Min Ru yang mulai tak sabaran.


Tabib muda itu membuka suaranya ia lantas menjawab"Aku tidak bisa mendeteksinya, aku akan segera melaporkan ini kepada akademik kedokteran"


"Dimana Tabib Tong? tanya Nu Shen yang mulai gusar.


Pria itu melirik ke arah ketiga pelayan pribadi permaisuri tersebut, ia meratapi nasibnya, bagaimana bisa ia berhadapan dengan ketiga binatang buas yang menuntut dirinya.


"Betapa sialnya diriku ini, jika tidak bisa menyelamatkan permaisuri aku kepalaku akan di cabut" pikirnya.


"Guru, kenapa aku harus menanggung semua ini?" tanyanya dalam hati.


Sedangkan di sisi lain di kediaman Selir Rong ...


"Bagaimana keadaan janinnya?" tanya kaisar penasaran.


Tampaklah Tabib Tong tengah berdiri membungkuk di hadapan sang kaisar, ia dengan senyuman yang tertaut di wajahnya menjawab"Janin Yang Mulia Selir Rong kuat, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan Yang Mulia!" jawabnya.


Kaisar sekilas tersenyum lega, ia bisa meninggalkan Selir Rong untuk di awasi oleh pelayan pribadinya.Ia langsung teringat akan permaisuri, sudah lama ia tak mengunjunginya.


Tak lama setelah itu ...


Kedatangan Ye Yin memecah lamunan sang kaisar, ia membungkuk di hadapan kaisar yang agung itu dan melirik ke arah Tabib Tong.


"Ada berita apa?" tanya kaisar meneguk teh nya.


Dengan raut wajah yang kurang meyakinkan Ye Yin menjawab"Utusan akademik kedokteran mencari Anda Tabib Tong, permaisuri tengah tak sadarkan diri dan para tabib senior telah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada beliau namun ... tidak ada yang berhasil"


Kaisar langsung saja membanting cangkirnya dengan sekali hentakan, PYARRRR ..., pria itu lantas bangun dari duduknya, raut wajahnya berubah seketika itu.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...