
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 39
Begitu lama selepas permaisuri pergi, kaisar dan selirnya itu masih tercengang.Mereka saling berbalas tatap, masih tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar dari mulut permaisuri.Ia tidak berpikir panjang dengan apa yang akan ia ucapkan, ceplas-ceplos, itu adalah kebiasaannya dulu saat masih menjadi Amyra di masa depan, walau sikapnya ini hanya ia tunjukkan kepada orang tertentu.Keduanya menghela napasnya bersamaan dengan tatapan mata yang kendur mereka menikmati pemandangan musim semi yang akan segera berakhir ini.
"Rong, sejak kapan kalian begitu akrab?" tanya kaisar, ia memasang wajah seriusnya serta melipat tangannya.
Wanita itu sekilas tersenyum, lalu meletakkan teko yang ia genggam ganggangnya setelah mengisi penuh cangkir teh sang kaisar, ia menjawab"Beliau orang yang begitu ramah, siapapun akan cepat akrab dengan beliau hanya dengan obrolan ringan," jelasnya menelengkan kepalanya sembari menatap ke arah kaisar.
Kaisar terdiam, memang benar adanya apa yang terucap dari bibir selir kehormatan Rong.Permaisuri yang sekarang bukan lagi seperti yang dulu, sisi darinya yang merupakan seorang wanita yang begitu dingin, cekatan, licik nan bengis seolah lenyap begitu saja.Sekilas ia begitu lega, namun masih ada saja hal yang membuat hatinya terganjal.Namun agaknya pria itu tidak ingin memikirkannya lebih dalam lagi.
Hari itu sang kaisar menemani selir kehormatan Rong sepanjang hari dan bermalam pula di istananya.Mereka ada di ruang tamu istana, menikmati makan malamnya dan mengadakan pesta kecil-kecilan.Terdengar suara kecapi dan suling bambu yang mengiringi langkah kaki penari yang berlalu lalang di hadapan keduanya.
Sedangkan di sisi lain suara yang sama terdengar di dekat sungai kuil Dewi bunga ...
Permaisuri duduk di tepi sungai di atas rumput hijau, nyala lentera menerangi wajahnya, cahayanya redup menambahkan keindahan, suara sahutan alunan kecapi permaisuri dan suara suling bambu yang menenangkan hati dan pikiran menambahkan kesan yang mendalam.
Tampak rambut perak yang panjang nan halus terbang di terpa oleh hembusan angin malam, senyum manis tertaut di bibir seksi pemilik rambut perak tersebut, ia pengangi suling bambu yang ada di tangannya.Ia melirik ke arah permaisuri, mengagumi keindahan yang ia lihat itu diam-diam.Alunan kecapinya senada dengan lirik yang ia membuat siapapun terhanyut dengan permainan tangan indahnya itu.Luapan pilu mengiringi setiap kata, tiap kalimat yang mewakili ungkapan hati, begitu merdu terucapkan dari bibir mungilnya.
Gemericik air mengalir di bawah alunan musik indah menemani keduanya, Liliang mendesah.
"Kenapa Anda berhenti Yang Mulia?" tanyanya dengan raut wajah yang tampak menunjukkan kekecewaannya.
Permaisuri menghela napasnya, ia lihat istananya yang masih terang.Lentera masih menyala seperti tengah menunggu kedatangannya.Permaisuri sekilas tersenyum lalu berkata"Istana phoenix malam ini begitu terang ya."
Liliang sekilas tersenyum, lalu alih-alih memandang langit gelap yang begitu luas dan jauh.Ia masih ingat kata-kata permaisuri yang berlawanan dengan apa yang barusan ia katakan kepadanya.
'Istana adalah tempat tergelap yang pernah ku datangi,' suara itu melintas di pikirannya membuat ia teringatkan rintihan dan teriakan pilu wanita yang tak lain sang permaisuri sendiri.Liliang kembali teringat bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu melewati masa-masa tergelap semasa hidupnya.Buliran air mata mulai terlihat di sudut matanya.
Ia lihatnya raut wajah wanita cantik yang masih tampak begitu polosnya seperti saat pertama kali keduanya bertemu.Kenangan tentang bagaimana ia bertingkah konyol, senyuman yang terukir diwajahnya yang masih alami tanpa rekayasa.Mengingat itu benar-benar membuat hatinya tersayat.Ia tahu benar seberapa banyak penderitaan yang telah wanita itu alami.
"Tuan Liliang, Saya harus kembali, para pelayan pasti mencari Saya," suara merdu permaisuri memecah keheningan di antaranya.
Liliang mendehem, ia lantas mendekat ke arah permaisuri dan berkata"Pelayanmu itu tau kalau kau tengah bersamaku," bisik Liliang dengan seringai yang menyertai senyumannya, hal itu membuat permaisuri tercengang sepertinya ia merasa tak nyaman.
"Jika mereka tahu, gawat!!," pikirannya.
"Apa yang akan di pikirkan kaisar jika mengetahui aku bersama Tuan Liliang malam-malam begini" lirihnya, ia menggigit ibu jarinya.
"Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?" tanya wanita itu setengah panik.Tubuhnya kaku, ia hanya bisa menggerakkan kepalanya dan bibirnya untuk bertanya.Ia melihat wajah Liliang yang masih saja tersenyum sayu, Liliang menghampirinya sekali lagi, dan berkata"Kau bukan Lan!"
Mata permaisuri terbelalak, ia begitu tercengang, rasa takut mulai menyelimuti dirinya.Ia sangat takut!
Mulai muncul begitu banyak pertanyaan di benak sang permaisuri'Darimana ia tahu?'
Permaisuri menatap bola mata Liliang, ia tatapnya begitu dalam.Permaisuri masih tak percaya dengan apa yang telah menimpanya.Ia mulai berdalih.
"Apa maksudmu?" tanyanya mulai panik, mungkin jika ia bisa menggerakkan tubuhnya ia akan gemetaran karna aura yang Liliang pancarkan.
"Dia bukan orang biasa, auranya, kenapa auranya membuatku tertekan?" tanyanya dalam hati sembari menggerutu tak jelas.Liliang mengeluarkan seringainya, satu kata untuk tampangnya saat ini, 'Begitu menakutkan!'
"Jika aku bukan Tian Lan, maka kau bukan orang biasa!" seru permaisuri yang mencoba memberanikan dirinya.
Liliang terpana mendengar jawaban wanita yang tengah berdiri kaku di hadapannya itu.Liliang mengerang pelan, ia pun semakin bersemangat berbalas kata dengan permaisuri.
"Benarkah, apa kau tau aku adalah seorang Best Master, dan apa kau tau artinya ...?" tanya Liliang mengangkat bahunya seolah dia telah membuat wanita itu bungkam dan mengakui kekuatannya.Permaisuri tertawa sinis, hal itu membuat Liliang makin tak mengerti apa yang wanita itu pikirkan, 'Apa lagi?'
"Jika kau ... apa itu?, beast master? "
"Bahkan pengetahuan dan wawasan yang aku miliki lebih luas, dan pastinya aku seorang bukanlah seorang wanita yang memiliki pikiran dangkal sehingga bisa kau tekan!" jelasnya memperingatkan.
Liliang memang pada dasarnya bukanlah orang biasa, aura yang ia tekankan bisa-bisa membuat orang lain merasa berada dalam pengaruhnya.Kelebihan membaca pikiran yang ia miliki, bisa membaca pikiran siapapun hanya dengan berada di dekatnya.Namun ... awal pertemuannya dengan Tian Lan begitu unik, ia terus menggali siapa sebenarnya wanita itu sehingga dia tidak bisa membaca pikiran wanita itu, 'dia adalah orang pertama yang pikirannya tak terbaca olehku'
Namun ... yang membuatnya tak yakin, ia masih saja tak bisa membaca pikiran wanita itu.Namun ... kenapa aura yang biasa terpancar dari mata wanita itu tak terlihat?
Ia terus menerus bertanya dalam pikirnya.Ia lupa di hadapannya masih ada wanita yang seolah sedang menuntut dirinya untuk segera melepaskannya.Wanita itu mulai gusar, melihat Liliang yang mendiamkan dirinya begitu lama.
"Sampai kapan kau membuatku mematung seperti ini?" tanya permaisuri geram.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?"
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...