
❄️SNOW FLOWER❄️
EPISODE 54
Tian Lan duduk tersungkur dengan tangan gemetaran memegangi pipinya yang serasa panas dan berkedut, tanpa berpaling gadis itu berkata"Ibu, ... lagi-lagi kau ..." ia berhenti sejenak lalu melanjutkan perkataannya dengan nada rendah namun penuh tekanan.
Tangannya yang masih terpaku di tanah mengepal menggenggam dan meremas segenggam tanah yang kini berada dalam genggamannya.Peri agung berlutut menyambut kedatangan Sang Dewi Bunga, sedangkan Tian Lan masih tetap dalam posisinya dan tak bergeming lagi, gadis itu benar-benar kesal untuk kali ini.
Dewi bunga mengisyaratkan peri agung untuk bangun, kini tatapan tajam tertuju kepada Tian Lan, gadis itu diam seribu bahasa.Walau di dalam hatinya ada beribu umpatan yang ia tujukan untuk ibundanya yang tercinta, bukan ... baginya sosok ibunya ini begitu ia benci.Benar, kiranya gadis itu benar-benar membenci orang yang bertahta seperti ibunya itu.
"Kau bilang apa?, kau akan menjadi penerus tahtaku kedepannya?" Dewi Bunga mengangkat suaranya, merendahkan gadis yang masih saja duduk tersungkur di hadapannya.
"Kau bahkan tak pantas menjadi peri maupun Dewi berkedudukan tinggi, apa hak mu berbicara seperti itu dengan lawan bicara yang kedudukannya lebih jelas darimu?"
"Hah!!!, kenapa kau diam jawab aku!" Dewi Bunga mulai kehilangan kesabarannya, ia mulai bicara dengan nada lantang.
Sontak saja Tian Lan menghentakkan telapak tangannya kembali di atas tanah dan bangun, jari telunjuknya kini tertuju di wajah wanita itu.Dewi Bunga langsung saja terkejut tak main, ia masih tak percaya putrinya itu berani melawannya.
"Dengarkan aku!, aku muak denganmu!"
"Kau adalah ibu terburuk di dunia, enam alam ini ternodai dengan adanya ibu buruk sepertimu!"
Mata indah Dewi Bunga terbelalak, ia makin tak percaya kata-kata buruk terlontar dari mulut putrinya itu.Dengan gemetaran ia berniat menyeka pipi putrinya namun ..., sebelum tangannya mendarat di pipi Tian Lan, gadis itu langsung saja menepis tangan ibundanya itu seperti menepis sebuah kotoran.
"Jika aku tidak pantas, maka kau lebih buruk dariku yang bahkan memiliki tabiat yang buruk sekalipun!" Tian Lan kini berbicara dengan lantangnya, membuat seluruh penghuni alam bunga berbondong-bondong perdebatan ibu dan anak ini.
"Sekarang aku tanya kenapa kau diam?"
"Hah, apa kau sudah kehilangan kata-kata?"
"Atau kau mungkin berpikir aku melukai martabat yang sudah kau bangun beribu-ribu tahun terakhir?, aku begitu sial karena memiliki kau yang bahkan tak berguna bagiku juga!"
Kini kata-kata pedas keluar dari bibir mungilnya, ia sudah tak bisa mengendalikan amarahnya yang telah menggerogoti hatinya yang kini penuh dengan kebencian.
"Kau begitu sial memilikiku sebagai putrimu, namun lebih sialnya aku adalah putrimu!"
"Ingatlah di atas langit masih ada langit, suatu saat jika aku melewatimu, mungkin aku tak lagi memiliki hati nurani mengingat kau memupuk rasa kebencian di dalam hatiku!"
Dewi Bunga terdiam, ia sejenak berpikir.Salah?, apa salah jika aku memberinya posisi rendah di alam kekuasaannya sendiri?
Tak, salah tidak.Namun ... caranya dan cara penyampaiannya lah yang salah.Ia malah memupuk rasa kebencian bukannya menanamkan nilai-nilai moral yang tinggi.Ia telah gagal, ini adalah kegagalan yang begitu berdampak buruk baginya maupun alam bunga ini.
"Lan ..." tangannya mulai meraih pundak mungil Lan namun tanpa berkata lebih banyak lagi, gadis itu lebih memilih untuk pergi.
"Ibu, mulai sekarang aku tak memiliki ibu!"
Dengan napasnya yang terengah-engah ia menangisi kepergian putrinya yang di hiasi dengan kemarahan itu.Sudah beberapa hari ia tak melihat sosok putrinya itu, hatinya mulai gelisah.
"Lan'er dimana kau!" serunya meneriakkan nama anak gadisnya itu.
Di sis lain penghuni alam bunga masih saja berlalu lalang dengan tampang wajahnya yang masing-masing seragam, mereka agaknya tengah mencari calon penguasa alam ini.
"Yang Mulia putri!" suara itu seolah memenuhi telinga Tian Lan yang bermeditasi di bawah air, agaknya ia punya rencana tersendiri.
Senyum seringai mulai menghiasi bibir mungil Tian Lan, apa yang ia rencanakan?
"Baru sekarang mereka memanggilku putrinya ..."
"Tapi maaf, aku tidak punya ibu sepertinya, itu tidak akan membuatku mengurungkan niatku!"
"Akhirnya usahaku selama beberapa hari terakhir tak sia-sia!"
"Tian Ning (Nama asli Dewi Bunga), kupastikan kau menyesal, aku akan pergi dari tempat yang membuatku tak teranggap ini!"
Seberkas cahaya keluar dari tubuhnya, bayangan teratai biru seolah menonjolkan kecantikan dan kekuatannya.Ia mulai menyerap sedikit demi sedikit kekuatan spiritual dari aliran air.
Walau ia hanyalah seorang peri buah, tampaknya gadis itu diam-diam mempelajari 5 elemen yang hampir mustahil itu, dan elemen air ini adalah yang ke-6 yang baru saja ia sempurnakan agar ia punya kekuatan yang bisa mengimbangi ibundanya.
Apa yang ia rencanakan?
Ia agaknya ingin menguasai alam bunga ini, ataukah ada maksud terselubung?
Gadis itu bangun dari duduk bersila dan menatap ke arah permukaan senyum seringai mulai menghiasi bibir mungil Tian Lan, ia menggores gesekan kaki di dasar danau.Kini wajahnya menghadap ke permukaan, gadis itu tersenyum teduh.
"Kau yang memaksaku melakukan ini!"
Tiba-tiba ...
Dari dasar danau terdengar dentuman keras di iringi suara air yang seolah tergoncang hingga membuat deburan ombak yang sangat besar, yang berpusat di tengah danau.
BYUUURRRRR
Apa yang Tian Lan perbuat?
Penasaran?
Tunggu di episode selanjutnya ya!
...~❄️我爱你❄️~...