
❄SNOW FLOWER❄
EPISODE 25
Tak terasa air mata mulai menetes kembali, membasahi bantal permaisuri.
Membuat sang kaisar bangun dari posisinya.
"Dia menangis?"Pikir kaisar menyeka air mata permaisuri.
Kaisar tersenyum pahit lalu ia baringkanlah tubuhnya di sisi permaisuri dan mendekapnya dengan pelukan hangatnya.
"Phoenix!"Lirih permaisuri.
Kaisar melonggarkan pelukannya menatap sendu permaisurinya.dan mendehem.
"Hem"Kaisar menyibakkan rambut permaisuri ke belakang telinganya.
Permaisuri menatap kaisar, ia tatapnya mata sang kaisar begitu lama.
"Phoenix!"Permaisuri menekan nada bicaranya.
Kaisar mengelus rambut permaisuri sekilas lalu menjawabnya"Ada apa?"
Permaisuri dengan ragu-ragu bertanya.
"Apa kau percaya jika .... ?"Kata-kata permaisuri tergantung di sela oleh sang kaisar.
"Sudahlah lebih baik kau tidur!"Sela kaisar mengalihkan pembicaraan.
Kaisar mengeratkan pelukannya hingga membuat bibir permaisuri tertekan pada bagian dadanya yang terbuka.
"Emmh, kau tidurlah!"Lanjut sang kaisar yang wajahnya kemerahan.
Permaisuri tersenyum sinis sekilas lalu berusaha melonggarkan pelukan sang kaisar.
"Emmh, kau membuatku kesulitan untuk bernapas"Kata permaisuri dengan suara melengking.
Kaisar yang mendengar itu lantas melonggarkan pelukannya ia tatapnya permaisurinya dengan tatapan sendu.
Permaisuri mengendus-ngendus bau wangi yang ada di kamarnya, ia lihatlah sumbernya dari perunggu dupa yang ada di dekat pintu masuk.Kaisar mengikuti arah pandangan permaisurinya.
"Aku menyuruh tabib Tong memasukkan obat ke dupa itu!"
"Untuk meringankan rasa sakitmu"Lanjut kaisar mengelus rambut permaisuri.
Permaisuri mengerang pelan, lalu ia tatap lagi mata kaisar dalam-dalam.
Kaisar sekilas membalas tatapan permaisuri dengan senyum hangatnya.
Lalu mencium kening permaisuri.
Kaisar berpikir siapa yang begitu berani melakukan hal itu terhadap permaisuri.
Jika itu terjadi terhadap selir itu masih wajar.
Persaingan di harem memang begitu kejam namun untuk apa mereka menargetkan permaisuri?
Permaisuri bahkan sangat jarang memicu perdebatan di istana terkecuali itu memang
di perlukan.
Ia tak pernah berusaha untuk menguatkan posisinya sebagai permaisuri, bahkan tidak berlomba-lomba untuk mencari dukungan seperti kebanyakan selir di harem.Ia hanya memiliki seorang putra yang selalu di sisinya.
Ia cenderung lebih suka menyendiri, bahkan saat ada pesta di istana ia tak pernah menampakkan dirinya.
Selir kehormatan Yun selalu mengambil tempatnya di kursi utama, ia hanya selir namun kaisar begitu menyayangi nya.
Permaisuri yang dulu hanya bisa diam tak mempermasalahkan hal ini.
Sebenarnya pantang bagi para selir menduduki kursi utama.
Namun permaisuri sendiri hampir tak pernah berinteraksi dengan siapapun.
Bahkan ia membebaskan para selir untuk tidak memberi salam setiap pagi kepadanya.
Seolah tertelan bumi ia memang tak pernah keluar dari sekat-sekat kamarnya yang dingin.
Ia tak pernah menampakkan simpati nya kepada siapapun, di mata semua orang permaisuri yang dulu adalah sosok wanita berdarah dingin, bertampang bengis, sosok wanita cantik bak seorang dewi namun sayang kecantikannya ternodai dengan rumor kekejamannya.
Semua orang bilang dia adalah pelaku namun sebenarnya ialah korban yang paling di rugikan.
Kaisar berpikir bahwa pelakunya ingin permaisuri selamanya tak bisa memiliki keturunan lagi dengannya.
Kaisar berniat mengacaukan rencananya, siapapun yang mencoba mencelakakan permaisurinya.
"Lan ... !"
Permaisuri mendehem mengusap-usap pipi kaisar dengan jari-jemarinya yang tampak mungil di bandingkan dengan jemarinya sang kaisar.
"Malam ini sangat dingin!"Lirih permaisuri.
Kaisar menatap sendu ka arah permaisurinya dan ia tatap dalam-dalam mata lebarnya yang menyejukkan hati.
Sembari mengarahkan bibirnya ke permaisurinya kaisar berkata"Biarkan aku menghangatkan tubuhmu!"
Selagi berciuman kaisar tangan hangat kaisar menelusuri selangka permaisuri hingga ke punggungnya.
Membuatnya merasakan kehangatan.
Kaisar melepaskan ciumannya dan ia tatap lagi mata permaisurinya.
Permaisuri dengan wajahnya yang sudah memerah memalingkan wajahnya.
Ia berkata"Kumohon jangan sekarang!"Lirihnya.
Kaisar tersenyum hangat .... ia memeluk permaisuri dari belakang.Tangan hangatnya menyelimuti bahu permaisuri.
Lalu ia berbisik"Iya aku masih bisa menunggu!"Kaisar membisikkan hal itu ke telinga permaisuri membuat telinga permaisuri ikut memerah.
Permaisuri membalikkan badannya ia tatapnya kaisar sekali lagi lalu memejamkan matanya.
Dengan mata terpejam permaisuri berkata"Biarkan aku tidur nyenyak kali ini, sudah lama aku tidak bisa tidur dengan tenang!"Lirihnya.
Kaisar sekilas tersenyum lalu ia peluknya permaisurinya dengan erat.
Ia pikir memang sudah lama .... ia sendiri sudah lama tak tidur dengan tenang.
Bayangan permaisuri selalu ada di pikirannya.
Rasa bersalah yang besar, kekecewaan dan kepercayaan yang hilang selalu terbayang dalam pikiran sang kaisar.
Malam begitu dingin namun dekapan sang kaisar menghangatkan tubuhnya yang hampir menggigil.
Permaisuri menyeludupkan kepalanya di antara lengan kaisar.Membuat nya tak merasakan hawa dingin di kamarnya yang gelap itu.
Keesokan harinya.
Sinar mentari mulai menyelinap dari balik sekat-sekat kamar permaisuri sampai menyelinap juga ke kelambu ranjang dimana tempat permaisuri dan sang kaisar membaringkan tubuhnya.
Cahaya nya begitu menyilaukan membuat permaisuri bangun dari tidurnya.
Permaisuri bangun dari tidurnya, duduk beberapa saat sembari menatap sang kaisar yang tengah tertidur lelap.
Hong Lian, Min Ru dan Nu Shen membungkuk sekilas lalu membantu junjungannya bersiap.
Setelah waktu berjalan cukup lama ....
Tampaklah sang kaisar dan permaisuri tengah menyantap makanan yang tersaji di meja makan yang ada di hadapan mereka.
Kaisar menatap permaisuri yang sedari tadi hanya mengotak-atik makanannya dan tak memakannya sesuap pun.
"Kenapa kau tak makan?"Tanya kaisar meletakkan sumpit nya.
Permaisuri mengerang pelan lalu ia letakkan pula sumpit yang sedari tadi di bawanya.
"Tidak aku hanya ...."Ucapnya menggantung.
Kaisar menghela napas pelan, lalu ia ambil kembali sumpitnya.
Mengambil sepotong daging lalu ia menyodorkan tangannya hendak menyuapi permaisuri dengan tangannya.
Permaisuri membuka mulut mungilnya, membiarkan sang kaisar menyuapinya.
Ia kunyahnya daging itu pelan-pelan.
Lalu ia telan setelah ia rasa cukup lembut setelah ia kunyah.
Setelah mereka menyelesaikan sarapannya ....
Tampaklah sang permaisuri dan kaisar tengah duduk di tepi kolam memainkan permainan catur dengan serius.
Kaisar tampak mengeluarkan keringat dingin.
Ia tak bisa menandingi permainan sang permaisuri.
"Itu dulu .... tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini!"Kata permaisuri menggerakkan bidak catur nya.
Dan .... lagi-lagi kaisar kalah.
Kaisar menghela napas panjang.
Sedangkan permaisuri menatap nya dengan senyum sinisnya.
"Panjang kau menghela napas!"Kata permaisuri menyeringai.
Kaisar menatap tajam ke arah permaisuri.
Ia balas senyum sinis permaisurinya.
"Sejak kau sakit, sepertinya nyalimu makin besar saja"
"Kau bahkan berani tersenyum sinis ke arahku"Sang kaisar memutar bola matanya.
"Apa kau lupa aku ini adalah kaisar, KAISAR!"Lanjut sang kaisar menekan nada bicaranya.
Mendengar itu permaisuri menahan tawanya, lalu memasang tampang polosnya dan menyambungkan kedua jari telunjuknya.
Hal pertama yang ada di pikiran kaisar melihat tingkah permaisurinya .... begitu imut.
Kaisar menghela napasnya, ia tatap permaisuri dalam-dalam lalu ia berkata ....
"Sudahlah aku memang tak tahan dengan tampang imut mu itu!"Kaisar menepuk pelan dahinya.
BERSAMBUNG ....